View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Agriculture
      • UT - Soil Science and Land Resources
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Agriculture
      • UT - Soil Science and Land Resources
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Karakterisasi fisik gambut di Riau pada tiga ekosistem (marine, payau, dan air tawar)

      Thumbnail
      View/Open
      Full Text (949.3Kb)
      Cover (292.9Kb)
      Abstract (331.3Kb)
      Bab I (289.4Kb)
      Bab II (355.2Kb)
      Bab III (441.8Kb)
      Bab IV (624.6Kb)
      Bab V (283.4Kb)
      Daftar Pustaka (342.5Kb)
      Lampiran (454.6Kb)
      Date
      2010
      Author
      Dikas, Tubagus Muhamad
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Pembukaan tanah gambut untuk pengembangan pertanian dan kawasan budidaya dapat mengubah ekosistem kawasan gambut menjadi suatu ekosistem yang baru. Pembukaan tanah gambut harus memperhatikan perubahan yang terjadi terhadap aras dinamika tanah gambut. Pembukaan tanah gambut tidak boleh menurunkan fungsi lingkungannya. Tanah gambut mempunyai fungsi dalam menyerap dan menyimpan air, menjaga keseimbangan ekologis, menjaga kelestarian berbagai keanekaragaman hayati. Bahan gambut berasal dari Kabupaten Dumai, Bengkalis, Indragiri Hilir, Siak, dan Kampar, Provinsi Riau dari berbagai karakteristik ekosistem atau fisiografi gambut yaitu gambut marine (marine peat swamp), gambut payau (brackish peat swamp) dan gambut air tawar (fresh water peat swamp). Bahan gambut diambil pada bulan Januari 2010. Analisis sifat kimia dan fisik tanah dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen ITSL, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor yang berlangsung dari bulan Februari 2010 sampai bulan Juni 2010. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa pengelolaan gambut untuk perkebunan kelapa sawit mengakibatkan kadar abu tanah meningkat dan kadar serat serta kadar C-organiknya menurun. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan pengelolaan lahan gambut dalam jangka waktu yang lebih lama dapat mempercepat pematangan bahan gambut, sehingga kadar abu gambut menjadi lebih tinggi dan kadar serat serta kadar C-organiknya menjadi lebih rendah. Batas kadar air kritis gambut pantai lebih rendah dari gambut transisi dan pedalaman. Penyebab rendahnya kadar air kritis dan rendahnya peluang kejadian kering tidak balik pada fisiografi pantai adalah karena fisiografi gambut pantai yang terbentuk pada daerah yang dipengaruhi oleh pasang surut yang relatif subur, dimana garam-garam yang berasal dari sungai atau air laut akan diikat kuat oleh asam organik gambut sehingga gambut pantai relatif stabil menjadi tidak mudah untuk terjadi kering tidak balik.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/44960
      Collections
      • UT - Soil Science and Land Resources [2825]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository