Kriteria Desa Miskin Berdasarkan Konsumsi Kalori dan Hubungannya dengan Potensi Desa
Abstract
Penggolongan desa miskin telah dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dengan menggunakan data dasar Potensi Desa (Podes), namun penggolongan desa miskin kriteria BPS kurang mencerminkan kemiskinan suatu desa, karena tidak melibatkan keluarga miskin. Seyogyanya penggolongan desa miskin berdasarkan keluarga miskin, yaitu keluarga yang mengkonsumsi kalori kurang dari 2100 kkal per kapita per hari, sehingga diharapkan kriteria penggolongan desa miskin ini mencerminkan kemiskinan desa.
Penelitian ini bertujuan untuk : 1) menggolongkan status kemiskinan desa
berdasarkan persentase keluarga miskin, 2) membandingkan hasil penggolongan
tersebut dengan penggolongan kriteria BPS, 3) mengetahui hubungan antara data
Podes dengan tingkat kemiskinan desa berdasarkan konsumsi kalori keluarga.
Data penelitian bersumber dari Susenas 1996 dan Podes 1996, yang meliputi
417 desa di propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, D. I. Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Data Susenas digunakan untuk menentukan kelompok keluarga miskin di setiap desa. Kriteria penggolongan status desa yaitu, (1) desa tidak miskin jika skor kemiskinan
desa kurang dari 70, (2) desa miskin jika skor kemiskinan antara 70 sampai 190, dan (3) desa sangat miskin jika skor kemiskinan lebih dari 190.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 72 (17%) desa tidak miskin,
265 (64%) desa miskin, dan 80 desa (19%) desa sangat miskin. Perbedaan dengan
kriteria BPS sebesar 65%. Tidak ada hubungan antara tingkat kemiskinan desa
dengan data Podes, sehingga data Podes tidak dapat digunakan untuk memprediksi
status kemiskinan desa berdasarkan konsumsi kalori keluarga.


