Kajian Taksonomi Kultivar Salak Bali [Salacca zalacca varietas amboinensis (Becc.) Mogea]
Date
2001Author
Darmadi, Anak Agung Ketut
Hartana, Alex
Mogea, Johanis P.
Metadata
Show full item recordAbstract
Di Banjar Dukuh, Delod Wates, Karanganyar, Telaga, Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali penduduk mengenal dua belas nama salak yaitu 'Nanas', 'Nangka', 'Maong', 'Putih', 'Gula pasir', 'Gondok', 'Sepet', 'Boni', 'Cengkeh', 'Nyuh', 'Pada', dan 'Injin'. Namun demikian kedua belas salak ini belum pernah diteliti klasifikasi serta kaitannya dengan aturan Kode Internasional Tata Nama Tanaman Budidaya. Karena itu penelitian ini dilakukan. Hasilnya diharapkan dapat memberikan batasan tentang kultivar serta hubungan kekerabatan di dalam salak Bali. Penelitian ini didasarkan pada kajian Taksonomi yang meliputi pengamatan morfologi, anatomi, sitologi, dan isozim dan melihat hubungan kekerabatannya berdasarkan persamaan cirinya. Salak Bali tumbuh berumpun dan dalam pembudidayaan tunas-tunas vegetatif dimatikan, tinggi tanaman umumnya 4-7 m kecuali kultivar salak 'Pada' 1-1,5 m, panjang daun 4 6 m kecuali kultivar 'Pada' 0,5 1 m, panjang helai daun 0,40 0,73 m kecuali kultivar 'Pada' 0,30-0,35 m, jumlah duri pada tangkai daun 70-138 duri kecuali pada kultivar 'Nyuh' 38-60 duri, ada duri halus pada adaksial tangkai daun kecuali kultivar 'Nyuh'. Bunga salak adalah perbungaan betina yang terdiri dari bunga "hermafrodit" dan bunga "jantan" dalam satu tanaman atau andromonoesis.


