UJI PATOGENITAS WHITE SPOT SYNDROM VIRUS (WSSV) TERHADAP UDANG WINDU (Penaeus monodon Fabricus) PADA KONSENTRASI 20 jag/ml SECARA PERENDAMAN SELAMA 30, 60 dan 90 MENIT
Abstract
Pada penelitian ini, percobaan inokulasi dilakukan dalam sediaan WSSV dengan konsentrasi 20 ug/ ml selama 30, 60 dan 90 menit dengan tujuan untuk mengetahui tingkat penularan WSSV dan patogenitasnya terhadap larva udang windu {Penaeus monodon Fab.) berdasarkan pengamatan makrokopis maupun mikrokopis. Penelitian dilakukan pada bulan Juni - Juli 2001 dengan sampel udang windu (PL12) yang diperoleh dari hatchery didaerah Tanjung Pasir, Tangerang, Banten. Percobaan penularan WSSV dan pengamatan secara visual makroskopis dilakukan di Pusat Studi limu Kelautan (PSIK-IPB) yang berlokasi di Ancol, Jakarta. Sedangkan pembuatan dan analisa preparat histologi dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ikan, Budidaya Perairan, institut Pertanian Bogor. Parameter biologis yang diamati meliputi perubahan tingkah laku dan perubahan morfologis udang yaitu : mortalitas, aktifitas gerak, respon terhadap pakan, kelengkapan organ serta perubahan warna pada karapas, abdomen, hepatopankreas, telson dan uropod. Sedangkan analisa histologi dilakukan untuk mengetahui prevalensi dan tingkat kerusakan sel akibat Infeksi WSSV. Pada percobaan ini, mortalitas kumulatif terbanyak pada udang yang diinokulasi selama 90 menit (8 ekor), sedangkan pada lama inokulasi 60 dan 30 menit, berturut-turut 6 dan 5 ekor. Udang mengalami penurunan respon terhadap pakan, berenang lemah, karapas dan hepatopankreas pucat, bagian abdomen, antenula, telson dan uropod kemerahan, timbul bintik putih pada karapas yang ditemukan pada udang yang diinokulasi selama 90 menit adalah ciri dari penyakit bintik putih. Kerusakan sel dengan frekuensi tertinggi ditemukan pada organ antena, antenula, hepatopankreas dan telson udang yang diinokulasi selama 60 dan 90 menit. Dari pengamatan histologi, prevalensi WSSV rata-rata mencapai 100% dengan derajat patogenitas antara 0-3, kecuali pada kontrol dimana kerusakan organ terdeteksi pada hari ke-7 dengan tingkat kerusakan 0-1 dan frekuensi kejadian 50-100%. Pada inokulasi 90 menit, infeksi WSSV stadia 0-3 dengan frekuensi kejadian 100% mulai terlihat pada hari ke-4 (organ limfoid dan hepatopankreas), hari ke-6 (insang dan saluran pencernaan), hari ke-8 (epidermis kulit dan alat gerak). Sedangkan pada lama kontak 60 menit, tingkat patogenitas 0-3 terlihat pada hari ke-3 (hepatopankreas), hari ke-7 (limfoid dan insang), hari ke-8 (saluran pencernaan). Pada perlakuan inokulasi 30 menit, stadia kerusakan organ rata-rata mencapai stadia 0-2 untuk semua organ dengan frekuensi kejadian 50-100%. Infeksi WSSV dengan kerusakan tertinggi terjadi pada organ limfoid, saluran pencernaan dan insang. Dari hasil pengamatan dan analisa secara deskriptif, dapat disimpulkan bahwa WSSV termasuk jenis virus yang mudah menular dan virulen. Hal ini terlihat dari cepatnya gejala klinis muncul serta tingginya prevalensi dan tingkat patogenitasnya, walaupun udang diinfeksikan dengan inokulum virus 20 f.ig/m! dan diinokulasikan dalam waktu yang relatif cepat (30, 60, dan 90 menit).
Collections
- UT - Aquaculture [2191]

