Etnobotani Tumbuhan Pangan Masyarakat Melayu di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau Indonesia
Date
2025Author
Hafizah, Nurul
Chikmawati, Tatik
Djuita, Nina Ratna
Purwanto, Yohanes
Metadata
Show full item recordAbstract
Suku Melayu merupakan salah satu suku di Indonesia yang sebagian besar mendiami wilayah pesisir timur Pulau Sumatra, termasuk Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Masyarakat Melayu di daerah ini memiliki identitas budaya yang khas, sebagai hasil akulturasi antara budaya Melayu dan Minangkabau. Kekhasan ini terlihat dalam pengetahuan lokal mereka, khususnya dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai sumber pangan. Namun, pengetahuan tersebut diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, sehingga berisiko hilang apabila tidak segera didokumentasikan. Kondisi ini semakin diperburuk oleh degradasi habitat di Kuantan Singingi, akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit yang berdampak pada hilangnya keanekaragaman tumbuhan pangan. Oleh karena itu, dokumentasi pengetahuan lokal melalui penelitian etnobotani menjadi langkah penting untuk pelestarian budaya dan sumber daya hayati.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) melakukan inventarisasi dan karakterisasi keanekaragaman spesies tumbuhan bahan pangan, baik spesies tumbuhan budidaya dan tumbuhan bahan pangan non-budidaya yang dimanfaatkan; (2) menganalisis nilai spesies tumbuhan bahan pangan meliputi sosial budaya, nilai ekonomi dan ekologi serta mengetahui tingkat kepentingan pemanfaatan tumbuhan berdasarkan perspektif masyarakat Melayu di Kabupaten Kuantan Singingi; (3) memberikan masukan terkait pengelolaan keanekaragaman spesies tumbuhan pangan secara berkelanjutan.
Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2024 hingga Januari 2025 di lima desa, yaitu Kinali, Pulau Kumpai, Koto Sentajo, Simpang Tiga dan Muara Lembu. Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara terbuka dan semi terstruktur untuk mengumpulkan data tentang keanekaragaman spesies tumbuhan, bagian yang digunakan dan tempat diperolehnya tumbuhan. Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui wawancara terstruktur, kuesioner, dan Pebble Distribution Method. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan menghitung nilai Use Values (UV), Local User's Value Index (LUVI), Index of Cultural Significance (ICS), Importance Value Index (IVI), nilai ekologi dan nilai ekonomi.
Masyarakat Melayu di Kabupaten Kuantan Singingi memanfaatkan 167 spesies dari 117 genera dan 55 famili tumbuhan pangan, yang dikategorikan sebagai sumber pangan pokok dan pangan tambahan (mencakup lauk-pauk, sayuran, buah-buahan, makanan selingan/cemilan, minuman dan bumbu). Masyarakat Melayu lebih banyak menggunakan tumbuhan budidaya (100 spesies) dibandingkan dengan tumbuhan non-budidaya (67 spesies). Famili yang banyak dimanfaatkan di antaranya Fabaceae, Rutaceae, Anacardiaceae, Cucurbitaceae, Myrtaceae, Poaceae, Solanaceae dan Zingiberaceaee. Bagian tumbuhan yang paling sering digunakan adalah buah (85 spesies), diikuti oleh daun (42 spesies) dan biji (23 spesies).
Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa karambial (Cocos nucifera) dan pisang (Musa x paradisiaca) memiliki nilai UV tertinggi di semua desa. Padi
(Oryza sativa) dan karambial (Cocos nucifera) merupakan tumbuhan budidaya yang paling penting, sedangkan buluah (Bambusa vulgaris), joriang (Archidendron jiringa) dan paku (Diplazium esculentum) merupakan tumbuhan non-budidaya yang paling bernilai bagi masyarakat, dengan LUVI tertinggi. Karambial (Cocos nucifera) memiliki nilai ICS tertinggi di antara semua tumbuhan pangan. Sementara itu, buluah (Bambusa vulgaris) dan onau (Arenga pinnata) merupakan tumbuhan non-budidaya dengan nilai ICS tertinggi di antara tumbuhan non-budidaya.
Berdasarkan analisis ekonomi, sebanyak 24 spesies tumbuhan budidaya memiliki nilai ekonomi. Tumbuhan dengan nilai ekonomi tertinggi bervariasi antar desa. Padi (Oryza sativa) merupakan spesies tumbuhan dengan nilai ekonomi tertinggi di Desa Kinali dan Pulau Kumpai. Semangka (Citrullus lanatus) memiliki nilai ekonomi tertinggi di Desa Koto Sentajo, ubi kayu (Manihot esculenta) di Desa Simpang Tiga, dan lado rawit (Capsicum frutescens) di Desa Muara Lembu. Sementara itu, 15 spesies tumbuhan non-budidaya juga memiliki nilai ekonomi, dengan potai (Parkia speciosa) dan joriang (Archidendron jiringa) sebagai yang tertinggi di antara tumbuhan non-budidaya lainnya. Masyarakat Melayu menilai bahwa satuan lingkungan sawah, polak, dan pekarangan merupakan habitat paling penting dalam mendukung keberlanjutan pemanfaatan tumbuhan pangan.
Keanekaragaman spesies dan kultivar lokal tumbuhan pangan, serta keberagaman satuan lingkungan tempat tumbuhnya, menunjukkan bahwa Kuantan Singingi memiliki potensi kemandirian dalam penyediaan bahan pangan dan ketahanan pangan. Namun, keanekaragaman tumbuhan pangan dan pengetahuan etnobotani masyarakat menghadapi berbagai tantangan, seperti deforestasi, alih fungsi lahan, dan pergeseran pola konsumsi ke arah makanan modern, yang menjadi ancaman bagi keberlanjutan pemanfaatan tumbuhan pangan di wilayah ini.
Konservasi berbasis pengetahuan lokal telah dilakukan oleh masyarakat melalui perlindungan habitat alami secara adat, pelestarian kultivar lokal, dan sistem tanam tradisional, serta menjaga budaya dan tradisi dalam pemanfaatan tumbuhan. Selain itu, penelitian ini juga memberikan rekomendasi strategi konservasi dan pengelolaan berkelanjutan, khususnya untuk tumbuhan pangan non-budidaya, berdasarkan tinjauan pemanfaatan (ICS) dan ketersediaan di alam (IVI). Upaya konservasi yang dapat dilakukan yaitu:
1. Perlindungan dan pemeliharaan habitat alami spesies yang memiliki pemanfaatan dan ketersediaan sedang/tinggi, seperti joriang (Archidendron jiringa), paku (Diplazium esculentum) dan potai (Parkia speciosa)
2. Pembudidayaan spesies tumbuhan dengan nilai pemanfaatan tinggi namun ketersediaan rendah seperti onau (Arenga pinnata), belimbing boreh (Averrhoa bilimbi), buluah (Bambusa vulgaris), samauang (Pangium edule), dan toruang asam (Solanum virginianum)
3. Pengkajian dan pengembangan potensi spesies yang memiliki ketersediaan tinggi, tetapi pemanfaatan rendah, seperti duku (Lansium domesticum)
4. Pembudidayaan, pengkajian, dan pengembangan potensi untuk spesies tumbuhan yang memiliki pemanfaatan dan ketersediaan rendah, seperti keliling (Archidendron bigeminum), kabau (Archidendron bubalinum), gadung (Dioscorea hispida), berangan (Castanopsis argentea), karuntang (Castanopsis megacarpa) dan lainnya
Informasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar dalam menjaga keanekaragaman hayati, mendukung pemanfaatan berkelanjutan memperkuat ketahanan pangan, serta melestarikan kearifan lokal masyarakat Melayu dalam pemanfaatan tumbuhan pangan sebagai bagian dari identitas budaya The Malay ethnic group is one of the ethnic groups in Indonesia that mostly lives in the eastern coastal area of Sumatra Island, including Kuantan Singingi District, Riau Province. The Malay community in this area has a unique cultural identity, resulting from acculturation between Malay and Minangkabau cultures. This uniqueness is evident in their local knowledge, particularly in using plants as a food source. However, this knowledge is passed down orally from one generation to the next, making it at risk of being lost if not documented promptly. This situation is further exacerbated by habitat degradation in Kuantan Singingi, caused by the expansion of oil palm plantations, which has led to the loss of plant food diversity. Therefore, documenting local knowledge through ethnobotanical research is an important step toward preserving both cultural heritage and biological resources.
This study aims to (1) inventory and characterize the diversity of food plant species, including both cultivated and non-cultivated food plants; (2) analyze the value of food plant species in terms of sociocultural, economic, and ecological aspects, as well as assess the importance of plant utilization based on the perspective of the Malay community in Kuantan Singingi District; and (3) provide recommendations for the sustainable management of food plant species diversity.
The research was conducted from July 2024 to January 2025 in five villages: Kinali, Pulau Kumpai, Koto Sentajo, Simpang Tiga, and Muara Lembu. The qualitative data was conducted through open-ended, semi-structured interviews to collect data on plant species diversity, parts used, and where plants are obtained. The quantitative data was conducted through structured interviews, questionnaires, and the Pebble Distribution Method. Qualitative data were analyzed descriptively, while quantitative data were analyzed by Use Values (UV), Local User's Value Index (LUVI), Index of Cultural Significance (ICS), Importance Value Index (IVI), ecological value, and economic value.
The Malay community in Kuantan Singingi District utilizes 167 species from 117 genera and 55 families of food plants, which are categorized as staple foods and supplementary foods (including side dishes, vegetables, fruits, snacks, beverages, and spices). The Malay community uses more cultivated plants (100 species) than non-cultivated plants (67 species). The most commonly utilized families include Fabaceae, Rutaceae, Anacardiaceae, Cucurbitaceae, Myrtaceae, Poaceae, Solanaceae, and Zingiberaceae. The most frequently used plant parts are fruits (85 species), followed by leaves (42 species) and seeds (23 species).
Quantitative analysis shows that karambial (Cocos nucifera) and pisang (Musa x paradisiaca) have the highest UV values in all villages. Padi (Oryza sativa) and karambial (Cocos nucifera) are the most important cultivated plants. Meanwhile, buluah (Bambusa vulgaris), joriang (Archidendron jiringa), and paku (Diplazium esculentum) are the most valuable non-cultivated plants, with the highest LUVI scores. Karambial (Cocos nucifera) has the highest ICS among cultivated
plants, while buluah (Bambusa vulgaris) and onau (Arenga pinnata) have the highest ICS among non-cultivated plants.
Based on economic analysis, 24 cultivated plant species have economic value. Plants with the highest economic value vary between villages. Padi (Oryza sativa) is the plant species with the highest economic value in Kinali and Kumpai Island villages. Semangka (Citrullus lanatus) has the highest economic value in Koto Sentajo Village, ubi kayu (Manihot esculenta) in Simpang Tiga Village, and lado rawit (Capsicum frutescens) in Muara Lembu Village. Meanwhile, 15 non-cultivated species also hold economic value, with potai (Parkia speciosa) and joriang (Archidendron jiringa) being the most valuable among the non-cultivated. The Malay community also recognizes that rice fields, polak, and yards are the most important habitats for supporting the sustainability of food plant utilization.
The diversity of local species and cultivars of food plants, and the diversity of environmental units where they grow, indicate that Kuantan Singingi has the potential for independence in food supply and food security. However, the diversity of food plants and the community’s ethnobotanical knowledge face various challenges, including deforestation, land conversion, and shifting consumption patterns towards modern food, which threaten the sustainability of food plant utilization in this region.
The Malay community has carried out local knowledge-based conservation through customary protection of natural habitats, preservation of local cultivars and traditional cropping systems, and maintaining culture and tradition in plant utilization. In addition, this research provides recommendations for conservation strategies and sustainable management, particularly for non-cultivated food plants, based on the review of utilization (ICS) and availability in nature (IVI). Conservation efforts that can be done are:
1. Protection and maintenance of natural habitats of species that have moderate/high utilization and availability, such as joriang (Archidendron jiringa), paku (Diplazium esculentum), and potai (Parkia speciosa);
2. Cultivation of plant species with high utilization value but low availability, such as onau (Arenga pinnata), belimbing boreh (Averrhoa bilimbi), buluah (Bambusa vulgaris), samauang (Pangium edule), and toruang asam (Solanum virginianum);
3. Assessment and development of potential species that have high availability, but low utilization, such as duku (Lansium domesticum)
4. Cultivation, assessment, and potential development for plant species that have low utilization and availability, such as keliling (Archidendron bigeminum), kabau (Archidendron bubalinum), gadung (Dioscorea hispida), berangan (Castanopsis argentea), karuntang (Castanopsis megacarpa) and others.
The information from this study is expected to serve as basic data for preserving biodiversity, supporting sustainable use, strengthening food security, and preserving the local wisdom of the Malay community which uses food plants as part of their cultural identity.
