KEANEKARAGAMAN SERANGGA YANG TERPERANGKAP PADA KANTONG TUMBUHAN Nepenthes spp. (NEPENTHECEAE) DI GUNUNG SAMARINDA, PROVINSI ACEH
Abstract
Kantong semar (Nepenthes spp.; Nepenthaceae) merupakan tumbuhan unik dan langka yang tergolong insektivora, dengan kemampuan memperoleh nutrisi tambahan dari hasil pencernaan hewan, terutama serangga, yang terperangkap di dalam kantong yang merupakan modifikasi ujung daun. Keberadaan kantong semar memiliki nilai ekologis penting, baik sebagai predator serangga maupun sebagai bagian dari jaring-jaring makanan di habitat alaminya. Persebaran Nepenthes meliputi berbagai kawasan tropis, terutama Asia Tenggara, Madagaskar, dan Australia bagian utara. Indonesia menjadi salah satu pusat keanekaragaman Nepenthes dunia, dengan 80 spesies tercatat hingga 2021, yang sebagian besar ditemukan di Sumatera dan Kalimantan. Provinsi Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Barat Daya, memiliki potensi keanekaragaman Nepenthes yang tinggi meskipun kondisi tanahnya miskin unsur hara, terutama nitrogen dan fosfor. Namun, keberadaan Nepenthes di alam menghadapi berbagai ancaman seperti alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit, deforestasi, serta eksploitasi berlebihan untuk perdagangan tanaman hias, sehingga beberapa spesies kini berstatus terancam punah menurut IUCN Red List. Penelitian tentang interaksi antara Nepenthes dan serangga mangsa di habitat alaminya penting dilakukan untuk mendukung upaya konservasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies Nepenthes yang ditemukan di Desa Gunung Samarinda, Kabupaten Aceh Barat Daya, menganalisis keanekaragaman serangga yang terperangkap di dalam kantong, serta membandingkan komposisi serangga pada tiga spesies Nepenthes yang ditemukan. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Januari–Februari 2025 menggunakan metode jelajah. Tiga spesies Nepenthes yang menjadi objek penelitian adalah N. rafflesiana, N. gracilis, dan N. ampullaria. Kantong yang berisi cairan pencernaan diambil secara hati-hati, isinya disaring menggunakan saringan berpori halus, dan serangga yang terperangkap dikoleksi, diawetkan dalam alkohol 70%, serta diidentifikasi hingga tingkat taksonomi yang memungkinkan. Data dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), indeks kemerataan, indeks dominansi, serta uji ANOSIM dan NMDS untuk melihat perbedaan dan pola komposisi serangga antar spesies.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 1.740 individu serangga yang terdiri dari 18 spesies, 12 famili, dan 6 ordo ditemukan di dalam kantong Nepenthes. Spesies dominan yang terperangkap meliputi Aedes aegypti (36,21%), Tetramorium marginatum (16,90%), Oecophylla smaragdina (13,33%), dan Diacamma intricatum (11,84%). Keanekaragaman serangga tertinggi terdapat pada N. rafflesiana (H’=2,13), diikuti N. gracilis (H’=1,59) dan N. ampullaria (H’=1,27). Nilai indeks kemerataan menunjukkan distribusi serangga yang relatif merata pada setiap spesies Nepenthes, sementara indeks dominansi menunjukkan bahwa tidak ada satu spesies serangga yang mendominasi secara mutlak. Hasil analisis ANOSIM menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata pada komposisi serangga antar spesies Nepenthes (p>0,05), dan hasil visualisasi NMDS menunjukkan adanya tumpang tindih komposisi serangga antar spesies, yang mengindikasikan peran penting kesamaan habitat dan kondisi lingkungan mikro di lokasi penelitian terhadap jenis serangga yang terperangkap.
Penelitian ini memberikan informasi dasar tentang keanekaragaman dan komposisi serangga yang berasosiasi dengan Nepenthes di Aceh Barat Daya. Hasil yang diperoleh dapat menjadi acuan dalam upaya konservasi Nepenthes dan ekosistemnya, serta sebagai dasar penelitian lanjutan yang mempertimbangkan faktor musim, variasi lingkungan, dan periode pengamatan yang lebih panjang untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai interaksi ekologis antara Nepenthes dan serangga di habitat alaminya. Pitcher plants (Nepenthes spp.; Nepenthaceae) are unique and rare insectivorous plants capable of obtaining supplemental nutrients from the digestion of animals, especially insects, that become trapped inside pitchers, which are modifications of the leaf tip. The presence of Nepenthes has crucial ecological functions, both as insect predators and as components of the food web in their natural habitats. The wide distribution of Nepenthes in spans various tropical regions, particularly Southeast Asia, Madagascar, and northern Australia. Indonesia is one of the global centers of Nepenthes diversity, with 80 species recorded as of 2021, most of which are found in Sumatra and Borneo (Kalimantan). Aceh Province, particularly Southwest Aceh Regency, has high potential Nepenthes diversity despite nutrient-poor soils, especially low in nitrogen and phosphorus. However, Nepenthes in the wild face multiple threats such as land conversion to oil palm plantations, deforestation, and overexploitation for the ornamental plant trade, resulting in several species now being listed as threatened on the IUCN Red List. Research on interactions between Nepenthes and their insect prey in natural habitats is essential to support conservation efforts.
This study aimed to identify the Nepenthes species found in Gunung Samarinda Village, Southwest Aceh Regency, to analyze the diversity of insects trapped within the pitchers, and to compare the insect composition among the three Nepenthes species encountered. Sampling was conducted in January and February 2025 using a roving (exploratory) survey method. The three Nepenthes species studied were N. rafflesiana, N. gracilis, and N. ampullaria. Pitchers containing digestive fluid were carefully collected, their contents filtered through a fine-mesh sieve, and the trapped insects were collected, preserved in 70% alcohol, and identified to the lowest feasible taxonomic level. Data were analyzed using the Shannon–Wiener diversity index (H'), evenness and dominance indices, ANOSIM, and NMDS to assess species differences and patterns in insect composition.
The results showed that 1,740 insect individuals comprising 18 species, 12 families, and six orders were found inside Nepenthes pitchers. The dominant trapped species included Aedes aegypti (36.21%), Tetramorium marginatum (16.90%), Oecophylla smaragdina (13.33%), and Diacamma intricatum (11.84%). Insect diversity was highest in N. rafflesiana (H' = 2.13), followed by N. gracilis (H' = 1.59) and N. ampullaria (H' = 1.27). Evenness index values indicated a relatively even distribution of insects within each Nepenthes species, while the dominance index indicated that no single insect species dominated. ANOSIM results showed no significant differences in insect composition among Nepenthes species (p > 0.05). NMDS visualization revealed overlapping insect compositions among species, suggesting an essential role of shared habitat and microenvironmental conditions at the study site in determining the types of insects trapped.
This study provides baseline information on the diversity and composition of insects associated with Nepenthes in Southwest Aceh. The results can serve as a reference for conserving Nepenthes and their ecosystems, and as a basis for further research that considers seasonal factors, environmental variation, and more extended observation periods to obtain a more comprehensive picture of the ecological interactions between Nepenthes and insects in their natural habitats.
