Timun Laut (Echinodermata: Holothuroidea) pada Zona Intertidal di Empat Pulau Kecil Selat Makassar
Date
2025Author
Sese, Moh. Reza
Priawandiputra, Windra
Atmowidi, Tri
Subhan, Beginer
Metadata
Show full item recordAbstract
Timun laut memainkan peran ekologis yang sangat penting dalam ekosistem laut, beberapa spesies timun laut memiliki nilai ekonomis. Selat Makassar merupakan salah satu wilayah penangkapan timun laut utama di Indonesia. Sayangnya, penelitian untuk memahami keanekaragaman spesies di wilayah ini masih kurang, disisi lain banyak pulau-pulau kecil yang menjadi lokasi pengambilan timun laut. Selama dua dekade terakhir, penelitian berfokus pada aspek perikanan dan akuakultur, sedangkan penelitian mengenai keanekaragaman spesies di habitat aslinya belum banyak dipublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biodiversitas timun laut di zona intertidal di empat pulau kecil di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat berdasarkan karakter morfologi dan komposisi spikula. Penelitian ini juga menganalisis pengaruh parameter lingkungan terhadap kelimpahan dan kekayaan spesies timun laut.
Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode purposive sampling dan transek sepanjang 100 m dengan lebar pengamatan 5 m. Sampel yang di koleksi kemudian diidentifikasi menggunakan karakter morfologi dan komposisi spikula. Berdasarkan hasil identifikasi, didapatkan 18 spesies Holothuroidea yang terdiri dari 13 spesies dari famili Holothuriidae, dua spesies dari famili Stichopodidae, dan tiga spesies dari famili Synaptidae dengan jumlah total 289 individu. Empat spesies dalam penelitian ini yakni Bohaschia marmorata, Holothuria lessoni, Holothuria rigida, dan Holothuria verrucosa, belum pernah dideskripsikan secara taksonomi dari wilayah Sulawesi Barat dan Selatan. Dengan demikian, keanekaragaman jenis untuk kelompok Holothuriidae yang telah dideskripsikan dari wilayah ini saat ini berjumlah 30 jenis. Timun laut yang di koleksi memiliki preferensi habitat yang tersebar pada empat jenis habitat dominan, yaitu batuan, lamun, pasir, dan puing karang. Berdasarkan hasil analisis Generalized Linear Mixed-Effects Models (GLMM), suhu, pH, salinitas, dan oksigen terlarut berkorelasi positif terhadap kelimpahan timun laut.
Penelitian ini menambah informasi mengenai sebaran geografis timun laut di perairan Selat Makassar. Penelitian ini dapat digunakan sebagai panduan identifikasi spesies yang terlibat dalam perdagangan, terutama spesies yang sulit diidentifikasi hanya dengan menggunakan morfologi eksternal. Selain itu, hasil penelitian ini juga menambah informasi mengenai spesies yang terdaftar yang dipanen dan diperdagangkan dari wilayah tersebut. Hal ini akan sangat membantu dalam rencana pengelolaan konservasi lebih lanjut di Sulawesi Selatan karena wilayah ini dikenal sebagai pusat ekspor di Indonesia bagian tengah.
