Perkembangan Samia cynthia ricini (Lepidoptera: Saturniidae) pada Penyimpanan Telur Suhu Rendah dengan menggunakan Ethylene Glycol
Date
2025Author
S, Muh. Kadri
Priawandiputra, Windra
Atmowidi, Tri
Endrawati, Yuni Cahya
Metadata
Show full item recordAbstract
Samia cynthia ricini merupakan jenis ulat sutra yang berpotensi dikembangkan di Indonesia. Samia cynthia ricini menghasilkan banyak generasi dalam satu tahun. Permasalahan utama dalam komersialisasi adalah produksi tidak selalu sejalan dengan ketersediaan pakan dan kondisi lingkungan. Ketersediaan pakan dan hambatan klimatik dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas serat yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penyimpanan telur pada suhu rendah dengan menggunakan ethylene glycol terhadap perkembangan S. cynthia ricini. Penelitian ini dilakukan dengan tiga perlakuan utama yaitu lama penyimpanan 7, 10, dan 14 hari dalam refrigerator, masing-masing perlakuan utama terdapat kontrol, ethylene glycol 10% dan ethylene glycol 15%. Pengamatan meliputi perkembangan embrio, persentase penetasan, durasi penetasan, penundaan penetasan, kelangsungan hidup larva, perkembangan larva, dan karakteristik kokon.
Hasil pengamatan parameter lingkungan pada refrigerator menunjukkan suhu 5,92±0,96°C dan kelembapan 30,50±7,75%, sedangkan pada ruang pemeliharaan menunjukkan rataan suhu 26,42±0,27°C dan kelembapan 61,61±1,86%. Perkembangan embrio menunjukkan bahwa penggunaan ethylene glycol 10% mampu menghambat perkembangan dibandingkan dengan perlakuan kontrol, sedangkan ethylene glycol 15% menghentikan perkembangan akibat toksisitas ethylene glycol. Persentase penetasan tertinggi pada penyimpanan 7 hari yaitu pada perlakuan kontrol dengan penetasan hingga 28,91%, sedangkan ethylene glycol 10% 9,52%. Durasi penetasan tertinggi pada penyimpanan 10 hari yaitu pada perlakuan kontrol dengan durasi hingga 19,00 hari, sedangkan ethylene glycol 10% 20,00 hari. Penundaan penetasan tertinggi pada penyimpanan 10 hari yaitu pada perlakuan kontrol dengan penundaan hingga 11,00 hari, sedangkan ethylene glycol 10% 12,00 hari.
Pada kontrol penyimpanan 7 hari menunjukkan kelangsungan hidup yang baik dengan tingkat kelangsungan hidup 51,76%, dibandingkan dengan ethylene glycol 10% 7 hari dengan 46,42%. Perlakuan ethylene glycol 10% pada penyimpanan 10 hari menunjukkan larva mampu bertahan hingga instar 5, dibandingkan dengan kontrol 10 hari hanya bertahan hingga instar 2. Perkembangan larva berdasarkan panjang, bobot, dan lebar menunjukkan bahwa kontrol 7 hari menunjukkan perkembangan yang optimal dibanding perlakuan ethylene glycol 10% 7 hari. Penyimpanan 10 hari menunjukkan bahwa ethylene glycol 10% mampu bertahan dibanding kontrol. Karakteristik kokon berdasarkan panjang kokon, bobot kokon utuh, diameter anterior, medial, dan posterior menunjukkan hanya perlakuan kontrol dan ethylene glycol 10% pada penyimpanan 7 hari yang mampu membentuk kokon dan, tidak ada perbedaan signifikan antara kontrol dengan ethylene glycol 10% (p<0.05).
