Pengukuran Kekerasan Kulit Lada Pascaperendaman-dengan Metoda Tumbukan-sebagai Fungsi Temperatur Air, Kerapatan Bak, dan Pengkarungan
Date
2025Author
Rustandi, Dadang
Irmansyah
Kurniati, Mersi
Wijonarko, Sensus
Metadata
Show full item recordAbstract
RINGKASAN
DADANG RUSTANDI. Pengukuran Kekerasan Kulit Lada Pascaperendaman- dengan Metoda Tumbukan - sebagai Fungsi Temperatur Air, Kerapatan Bak, dan Pengkarungan Dibimbing oleh IRMANSYAH, MERSI KURNIATI, dan SENSUS WIJONARKO.
Untuk menjadi lada putih yang berkualitas, bahan baku lada pascapanen perlu direndam terlebih dahulu guna melunakkan kulitnya, sehingga lebih mudah dikupas. Perendaman lada selama ini lazimnya dilakukan di sungai-sungai, sehingga terlihat kurang hiegenis. Persepsi seperti ini dapat menjadi hambatan terutama bila ladanya akan menjadi komoditi export ke luar negeri. Selain itu, bahaya dalam melakukan perendaman lada pada sungai serta potensi lada yang hilang akibat banjir dan pencurian juga cukup tinggi. Antara lain dalam rangka mengatasi masalah seperti itu, Kelompok Tani Margo Utomo, Desa Kedarpan, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga telah memperoleh bantuan 18 bak perendaman lada dan fasilitas lainnya melalui program Adaptive Research UPLAND Project, Kementerian Pertanian Tahun 2022.
Dengan pemanfaatan bak tersebut, perendaman lada di Purbalingga dapat dialihkan dari sungai ke bak tersebut. Namun demikian, belum diketahui apakah perendaman dalam bak tersebut juga dapat melunakan lada yang setingkat dengan perendaman lada di sungai. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tersebut khususnya dengan melakuan penelitian dengan metode research and development (R & D) untuk pembuatan alat ukur kekerasan kulit lada, dan dengan metode eksperimen guna mendapatkan data primer mengenai Pengukuran Kekerasan Kulit Lada Pascaperendaman- dengan Metoda Tumbukan - sebagai Fungsi Temperatur Air, Kerapatan Bak, dan Pengkarungan.
Karakteristik perendaman lada di sungai pada umumnya adalah 1) tidak ada perlakuan dengan panas, 2) kerapatan lada yang ada dalam sungai rendah, dan 3) adanya pengkarungan lada. Ketiga karakteristik ini dipakai sebagai kontrol. Dengan penelitian ini diharapkan dapat diperoleh jawabannya beserta serangkaian cara untuk mempersingkat waktu perendaman lada yang saat ini masih mencapai waktu sampai dua minggu. Variabel temperatur akan diklasifikasikan ke dalam tiga golongan (t), yaitu temperatur-temperatur tinggi, sedang, dan rendah (air yang tanpa pemanasan sebagai temperatur kontrol). Pengendalian temperatur dilakukan dengan menggunakan unit kontrol temperatur. Variabel kerapatan bak juga dikelompokkan dalam tiga golongan (k) yaitu kerapatan tinggi, sedang, dan rendah (kerapatan kontrol).
Variabel pengkarungan dibagi dua (p) yaitu dengan pengkarungan (pengkarungan kontrol) dan tanpa pengkarungan. Dengan demikian terdapat 18 (t x k x p, 3 x 3 x 2) golongan percobaan yang masing-masing bisa menghasilkan kekerasan kulit lada yang berbeda-beda. Masing-masing kelompok dilakukan percobaan tiga kali (n). Jadi, keseluruhan ada 54 (t x k x p x n, 3 x 3 x 2 x 3) kali percobaan. Keseluruhan data tersebut dianalisis berbasis grafik dan dibahas berdasarkan karakteristik dan fenomena fisika.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat pengukur kekerasan kulit lada - berdasarkan metode tumbukan - telah berhasil dibuat dan digunakan untuk mengukur kekerasan kulit lada pascaperendaman, dan temperatur air, kerapatan bak, dan pengkarungan berpengaruh pada kekerasan kulit lada (11.352,564 N/m - 20.356,322 N/m) selama kulit lada masih menempel di bijinya. Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan agar alat pengukur kekerasan kulit lada tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut agar langsung dapat menampilkan hasil akhir kekerasan kulit lada dalam satuan N/m dan dapat dikembangkan untuk mengukur kekerasan dengan objek yang berbeda. Bila sudah dilakukan perendaman selama enam hari, maka tidak perlu ada perlakuan tambahan seperti perebusan lada. Jika perebusan lada harus dilakukan, maka perlakuan tersebut seyogyanya dilakukan sebelum perendaman. Dengan demikian, kulit lada dapat melunak dengan cepat.
Kata kunci: bak perendaman, kekerasan kulit lada, kerapatan bak, kontrol, metode tumbukan, pengkarungan, temperatur air. SUMMARY
DADANG RUSTANDI. Measurement of Pepper Skin Hardness Postsoaking - Using the Bumping Method - as a Function of Water Temperature, Tank Density, and Sacking. Supervised by IRMANSYAH, MERSI KURNIATI, and SENSUS WIJONARKO.
To become quality white pepper, post-harvest pepper raw materials need to be soaked first to soften the skin, making it easier to peel. Soaking pepper has usually been done in rivers, so it looks less hygienic. This perception can be an obstacle, especially if the pepper will be an export commodity abroad. In addition, the dangers of soaking pepper in rivers and the potential for pepper to be lost due to flooding and theft are also quite high. Among other things, in order to overcome such problems, the Margo Utomo Farmers Group, Kedarpan Village, Kejobong District, Purbalingga Regency has received assistance in the form of 18 pepper soaking tubs and other facilities through the Adaptive Research UPLAND Project program, Ministry of Agriculture in 2022.
Pepper soaking in Purbalingga can be diverted from the river to these tubs by utilizing these tubs. However, it is not yet known whether soaking in these tubs can also soften pepper to the same level as soaking pepper in the river. This study aims to answer this question, especially by conducting research using the research and development (R & D) method to make a pepper skin hardness measuring instrument and using the experimental method to obtain primary data on the Measurement of Pepper Skin Hardness After Soaking - with the Bumping Method - as a Function of Water Temperature, Tank Density, and Sacking.
The characteristics of pepper soaking in rivers in general are 1) no heat treatment, 2) the density of pepper in the river is low, and 3) the presence of pepper sacking. These three characteristics are used as controls. This research is expected to obtain the answer along with a series of ways to shorten the soaking time of pepper, which currently still reaches up to two weeks.
The temperature variable will be classified into three groups (t), namely high, medium, and low temperatures (water without heating as the control temperature). Temperature control is executed using a temperature control unit. The tank density variable is also grouped into three groups (k), namely high, medium, and low density (control density). The sacking variable is divided into two (p), namely, with sacking (control sacking) and without sacking. Thus, there are 18 (t x k x p, 3 x 3 x 2) experimental groups, each of which can produce different pepper skin hardness. Each group is tested three times (n). So, in total, there are 54 (t x k x p x n, 3 x 3 x 2 x 3) experiments. All of the data are analyzed based on graphs and discussed based on characteristics and physical phenomena.
The results of the study indicate that a pepper skin hardness measuring device - based on the Bumping method - has been successfully made and used to measure the hardness of pepper skin after soaking, and water temperature, tub density, and sacking affect the hardness of pepper skin (11,352.564 N/m - 20,356.322 N/m) as long as the pepper skin is still attached to the seeds. Based on these results, the pepper skin hardness measuring device can be further developed so that it can directly display the final results of pepper skin hardness in N/m units and can be developed to measure hardness with different objects. If soaking has been carried out for six days, then there is no need for additional treatment, such as boiling the pepper. If boiling the pepper must be carried out, then the treatment should be conducted before soaking. Thus, the pepper skin can soften quickly.
Keywords: Collision method, control, pepper skin hardness, sacking , soaking tub, tank density, water temperature.
