Penggunaan bikatein dalam ransum dan pengaruhnya terhadap penampilan ayam broiler
Abstract
Penelitian dilakukan di Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor mulai tanggal 23 Juni sampai dengan 4 Agustus 1993. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penggunaan "Bikatein" dalam ransum dan pengaruhnya terhadap penampilan ayam broiler yang dipelihara selama 0-6 minggu. "Bikatein" adalah ubi kayu yang difermentasi dengan kapang Aspergillus niger.
Dua ratus ekor DOC strain Saver Starbro produksi PT Cargill Indonesia digunakan dan ditempatkan pada kandang beralaskan kawat dengan ukuran 1 x 1 x 0.5 m dan berjarak 0.5 dari lantai. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat macam ransum perlakuan, berupa perbedaan taraf pemberian "Bikatein" dalam ransum, yaitu RO (0%), R5 (5%), R10 (10%) dan R15 (15%). Setiap perlakuan terdiri atas lima ulangan. Pengaruh perlakuan dianalisis dengan sidik ragam dan uji jarak Duncan. Ransum disusun berdasarkan isokalori dan isoprotein (NRC, 1984), serta diberikan adlibitum.
Selama penelitian tingkat kematian sebesar 1% yang terjadi pada ransum perlakuan RO (satu ekor) dan R10 (satu ekor). Penyebab kematian bukan dikarenakan pemberian "Bikatein", namun terserang hipoksia atau kekurangan oksigen dan koksidiosis. Perlakuan penambahan "Bikatein" memberikan pengaruh
yang sangat nyata (P<0.01) terhadap konsumsi air minum,
bobot badan akhir, pertambahan bobot badan, konsumsi
ransum dan konversi ransum. Konsumsi air minum dengan
ransum perlakuan RO sangat nyata (P<0.01) lebih rendah
dibandingkan dengan semua ransum perlakuan. Bobot badan
akhir, pertambahan bobot badan, dan konsumsi ransum yang
mendapat ransum perlakuan R5 dibandingkan dengan RO tidak
menunjukkan perbedaan, tetapi nyata (P<0.05) lebih tinggi
dibandingkan dengan R10 dan sangat nyata (P<0.01) jika
dibandingkan dengan R15, kecuali konsumsi ransum R10 tidak
berbeda dengan RO. Ransum perlakuan R15 nyata (P<0.05) mengakibatkan konversi dengan R0, R5, R10. ransum lebih besar dibandingkan
Ditinjau dari segi ekonomis, selisih pendapatan dengan biaya pakan dan harga DOC yang tertinggi dicapai oleh ransum R5, kemudian berturut-turut RO dan R10 masing- masing dengan keuntungan Rp 399.47, Rp 374.67 dan Rp 190.42 sedangkan ransum R15 mengalami kerugian Rp 29.21 per ekor.
