Kajian Pengaruh Suhu Penyimpanan Terhadap Produksi Etilen Pada Beberapa Varietas Alpukat (Persea Americana, Mill)
Abstract
Indonesia merupakan Negara agraris yang mempunyai berbagai macam komoditas pertanian yang berpotensi untuk diekspor maupun untuk dikonsumsi dalam negeri. Buah-buahan mempunyai potensi ekonomi yang cukup tinggi dan umumnya dikonsumsi sebagai buah segar, oleh karena itu mutu dan kesegaran buah perlu dipertahankan sehingga dapat menghasilkan nilai jual tinggi.. Salah satu komoditas buah-buahan yang memiliki prospek bisnis yang semakin cerah sehubungan dengan semakin terbukanya peluang pasar adalah buah alpukat.
Alpukat (Persea Americana, Mill) merupakan salah satu buah yang tidak dapat matang di pohonnya sendiri. Secara alamiah, buah alpukat akan matang dengan sendirinya setelah dipetik karena adanya produksi etilen. Pematangan sendiri berkaitan dengan laju respirasi dari buah serta produksi etilen, buah alpukat sendiri termasuk buah klimaterik dimana laju respirasi meningkat dengan tajam selama periode pematangan. Produksi etilen diduga dipengaruhi oleh massa padatan yang tersedia pada buah Alpukat memiliki berbagai macam varietas dan dengan bentuk yang beragam, perbedaan bentuk akan mempengaruhi massa dari masing-masing varietas alpukat. Dalam usaha penentuan kematangan yang ideal untuk buah alpukat, tentu diperlukan kajian antara varietas alpukat (berkaitan dengan massa), laju respirasi dan produksi etilennya. Selain massa padatan, suhu penyimpanan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap produksi etilen buah. Penyimpanan dingin berfungsi untuk memperpanjang umur simpan dengan menurunnya aktivitas produksi etilen. Mengetahui pola produksi etilen pada varietas alpukat yang berbeda dan dikombinasikan suhu penyimpanan akan bermanfaat dalam melakukan penanganan pascapanen terutama dalam proses penyimpanan dan pematangan buah alpukat yang bersifat klimaterik.
Rancangan percobaaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok yang terdiri dari 2 perlakuan dimana tiap perlakuan diulang sebanyak 2 kali. Pengulangan perlakuan dilakukan dalam bentuk kelompok karena dilakukan pada varietas yang berbeda, yaitu varietas bulat dan varietas lonjong. Perlakuan yang digunakan adalah suhu penyimpanan alpukat yang terdiri dari 2 suhu yaitu 15°C dan suhu ruang (28-32°C).
Penelitian menunjukkan alpukat varietas bulat pada suhu ruang (28-32°C) mempunyai laju produksi CO₂ dan laju konsumsi O₂ lebih tinggi dibanding lainnya. Sedangkan varietas lonjong dalam suhu dingin 15°C mempunyai laju produksi CO₂ dan laju konsumsi O, terendah. Puncak produksi etilen tertinggi selama penyimpanan terdapat pada alpukat varietas lonjong dalam suhu dingin (15°C) pada hari ke-13 sebesar 161 µl/kg.jam. Puncak produksi etilen terendah terdapat pada alpukat varietas bulat yang disimpan dalam suhu dingin (15°C) pada hari ke-6 yaitu sebesar 62 µl/kg.jam. Berdasarkan hasil uji sidik ragam dan uji lanjut Duncan, faktor varietas dan faktor suhu berpengaruh terhadap laju produksi etilen pada hari ke-6 dan tidak berpengaruh nyata pada hari ke-13. Buah alpukat yang disimpan dalam suhu ruang maupun dingin, mengalami penurunan bobot, total padatan terlarut, kadar air dan kekerasan. Berdasarkan hasil uji sidik ragam dan uji lanjut Duncan, faktor varietas dan suhu tidak berpengaruh nyata pada perubahan kandungan TPT, penurunan bobot, perubahan kadar air, kekerasan kulit dan buah….
