Rancangan bangunan penyimpan sayuran di Kecamatan Pacet, Cianjur Jawa Barat : Studi kasus di Kelompok Tani Pacet Segar
Abstract
Sayuran merupakan salah satu komoditas agribisnis yang menjadi andalan di Indonesia, yang juga merupakan salah satu dari kelengkapan kesempurnaan makanan sehari-hari. Menurut Direktorat Jendral Tanaman Pangan dan Hortikultura (1998) terjadi peningkatan produksi untuk 18 komoditas sayuran unggulan sebesar 17.83%..
Komoditas sayuran di daerah tropis yang lembab cepat mengalami kerusakan terutama disebabkan oleh suhu dan kelembaban lingkungan. Penanganan pasca panen yang kurang memadai baik sarana maupun prasarana akan menurunkan mutu sayuran. Padahal penanganan setelah panen merupakan tahapan yang penting. Petani atau distributor umumnya tidak melakukan penyimpanan dingin terhadap hasil panen sayuran. Oleh karena itu untuk mengatasi hal ini diperlukan bangunan penyimpan sayuran agar produksi hasil panen dapat dipertahankan mutunya selama menunggu pengemasan, angkutan atau untuk dipasarkan.
Tujuan dari penelitian secara umum adalah merancang bangunan penyimpan sayuran sebelum dipasarkan dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan keadaan usaha produksi sayuran di daerah kecamatan Pacet, Cianjur. Penelitian ini dilaksanakan dengan dua tahap. Tahap pertama yaitu pengambilan data yang dilakukan di kelompok tani Pacet Segar. Cianjur. Sedangkan tahap kedua yaitu pengolahan data serta membuat gambar teknik dari hasil data dilakukan di Laboratorium Lingkungan dan Bangunan Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
Perancangan fungsional didasarkan pada kebutuhan penyimpanan baik cara menyimpan maupun kondisi lingkungan penyimpanannya. Penyimpanan sayuran memerlukan suhu ruangan pendingin yang tepat sesuai dengan jenis komoditas sayuran agar tidak terjadi penurunan mutu sayuran. Pada prinsipnya semakin rendah suhu penyimpanan semakin panjang waktu penyimpanan. Menurut Dossat (1981) dan Tambunan (1995), kondisi suhu penyimpanan sayuran dan buah-buahan rata-rata pada suhu 0-2.25 °C dan kelembaban udara (RH) 85-90%
Bangunan penyimpan sayuran dirancang dengan kapasitas 6.0 ton/hari Sayuran disimpan dengan mengunakan kontainer atau keranjang plastik berukuran 60 x 40 x 30 cm. Kontainer ini disimpan dengan cara disusun keatas dan diletakkan diatas rak yang terbuat dari besi siku 80.80.8 berukuran 3.4 x 1.75 m sebanyak 4 buali. Pada sisi kanan dan kiri yang berdekatan dengan dinding diberi jarak 60-80 cm sedangkan lorong antar rak diberi jarak 90-100 cm. Luas total ruangan penyimpan sayuran sebesar 54 m².
Atap bangunan dirancang berbentuk datar terbuat dari beton bertulang dengan ketebalan 10 cm menggunakan besi tulangan 10 mm dan berjarak 10 cm. Atap bangunan penyimpan ini terdiri dari empat lapisan yaitu beton bertulang. bahan insulasi polyurethane, multiplek dan aluminium. Demikian juga dinding bangunan ini terdiri dari empat lapisan. Akan tetapi pada dinding beton bertulang diganti dengan batu merah. Kolom bangunan setinggi 3 m menggunkan baja profil WF 200x200. Lantai bangunan dirancang sama dengan atap bangunan terbuat dari beton bertulang. Pintu bangunan penyimpan sayuran ini berukuran 1.2 m x 2.1 m dengan dilengkapi lapisan karet supaya tidak ada udara yang menerobos disela-sela pintu. Pondasi yang dipilih berupa pondasi menerus dengan dasar pondasi berukuran 80 cm dengan kedalaman 90 cm. Bangunan penyimpan sayuran ini diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp 114 000 000,00 atau harga bangunan tiap m² adalah Rp 600 000,00,
