Estimasi kerugian ekonomi akibat gizi buruk pada balita di berbagai kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali
Abstract
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk melakukan estimasi kerugian ekonomi akibat gizi buruk pada balita yang terjadi di berbagai wilayah kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah: 1) Menganalisis hubungan antara tingkat kemiskinan dan PDRB/kapita dengan prevalensi gizi buruk di berbagai kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali; 2) Melakukan estimasi besarnya kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh gizi buruk pada balita di berbagai kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali.
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif. Penelitian dilakukan dengan mengolah data sekunder yang diperoleh dari berbagai instansi terkait pada kondisi tahun 2007. Penelitian mengambil contoh 124 kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali. Pengolahan data dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat pada bulan April-Juli 2010. Jenis data yang dikumpulkan dan digunakan dalam penelitian seluruhnya merupakan data sekunder yang terdiri atas data prevalensi status gizi pada balita di berbagai kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007, data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali atas dasar harga berlaku tanpa migas, data penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur pada masing-masing kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali, dan data prevalensi kemiskinan kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali. Data-data tersebut diolah dengan menggunakan program Microsoft Excel 2007 for Windows. Selain itu dilakukan analisis biplot dengan menggunakan software SAS 9.2 untuk melihat hubungan antara tingkat pendapatan daerah (PDRB/kapita) dan tingkat kemiskinan dengan prevalensi gizi buruk.
Perhitungan nilai potensi ekonomi yang hilang dilakukan dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Konig (1995) dalam Jalal dan Atmojo (1998). Kelemahan rumus perhitungan yang dikemukakan oleh Konig yaitu menghitung bahwa potensi ekonomi pada individu yang mempunyai riwayat KEP akan hilang 100% atau produktivitasnya saat dewasa dianggap 0. Akan tetapi hasil perhitungan dengan rumus Konig tersebut dikoreksi dengan hasil penelitian Ross dan Horton (1998) dalam Horton (1999) yang menyatakan bahwa balita yang pernah mengalami gizi buruk (KEP) pada saat dewasa masih dapat produktif. Kehilangan produktivitas seseorang yang mempunyai riwayat KEP pada masa balitanya adalah sebesar 2% - 9%. Penelitian ini menggunakan beberapa asumsi dan mempunyai beberapa keterbatasan. Asumsi-asumsi tersebut digunakan agar hasil penelitian dapat diterima secara umum. Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Data-data sekunder yang digunakan dalam penelitian seluruhnya benar; 2) Keadaan wilayah yang diteliti stabil dan normal, yaitu tidak ada kejadian khusus yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dan ekonomi secara drastis seperti bencana alam, wabah, dan konflik atau investasi ekonomi secara masif; 3) Individu yang mengalami gizi buruk akan mengalami kehilangan produktivitas 2% - 9% berdasarkan hasil penelitian oleh Ross dan Horton tahun 1998.
Berdasarkan grafik hubungan antara PDRB per kapita dengan prevalensi gizi buruk diperoleh persamaan garisnya yaitu y = 4,286 - 3.10-8x sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan negatif antara PDRB per kapita dengan prevalensi gizi buruk. Hal tersebut memiliki arti semakin tinggi nilai PDRB per
kapita di suatu wilayah maka akan semakin rendah prevalensi gizi buruk di wilayah tersebut. Sementara itu, berdasarkan grafik hubungan antara tingkat kemiskinan dengan prevalensi gizi buruk diperoleh persamaan garisnya yaitu y = 2,174 + 0,106x sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan positif antara tingkat kemiskinan dengan prevalensi gizi buruk. Hal tersebut memiliki arti semakin tinggi tingkat kemiskinan di suatu wilayah maka akan semakin tinggi prevalensi gizi buruk di wilayah tersebut.
Collections
- UT - Nutrition Science [3187]
