Prediksi Anomali Curah Hujan di Jawa Bagian Barat Berdasarkan Suhu Permukaan Laut (SPL) dengan Metode Singular Value Decomposition (SVD)
Date
2023-05-29Author
A’yun Kartika, Kartika
Faqih, Akhmad
Santikayasa, I Putu
Mudzakir Setiawan, Amsari
Metadata
Show full item recordAbstract
Permukaan laut merupakan media yang bersinggungan langsung dengan
atmosfer. Transfer energi terjadi ketika atmosfer dengan daratan dan lautan saling
berinteraksi. Karakter fisis daratan umumnya lebih cepat panas atau dingin
dibandingkan lautan karena di lautan energi dapat diserap hingga kedalaman
beberapa kilometer oleh ada aktivitas konveksi. Hal ini membuat penyimpanan
panas di lautan lebih stabil. Proses interaksi laut dan atmosfer ini mendukung
tersedianya uap air di atmosfer.
Suhu permukaan laut (SPL) memberikan performa yang lebih baik dalam
menggambarkan curah hujan daripada tanpa melibatkan SPL. Namun demikian,
SPL tidak memiliki pengaruh yang sama di setiap tempat, sehingga diperlukan
analisis mendalam untuk memahami karakteristik SPL yang dapat memengaruhi
curah hujan disertai bagaimana efektivitas SPL sebagai prediktor tunggal dalam
memperkirakan curah hujan. Kajian bertujuan untuk mengetahui karakteristik SPL
yang memengaruhi curah hujan di Jawa bagian barat dan menganalisis performa
dari pemanfaatan metode Singular Value Decomposition (SVD) untuk
memprediksi curah hujan di Jawa bagian barat dengan prediktor SPL.
Penelitian ini mengkaji karakteristik SPL yang memengaruhi curah hujan
untuk wilayah Jawa bagian barat yang melingkupi Provinsi Banten, DKI Jakarta
dan Jawa Barat dengan menggunakan SVD. Keluaran data SVD digunakan untuk
memperkirakan curah hujan dengan melibatkan nilai dekomposisi dari SVD untuk
curah hujan. Periode latih dilakukan pada tahun 1982 sampai 2011 dan periode uji
dilakukan tahun 2012 sampai 2020. Pertimbangan aspek dinamis juga dilakukan
dengan menampilkan variabel lain seperti tekanan permukaan (TP) dan
Precipitable water content (PWC). Analisis ini dilakukan berdasarkan rentang
waktu yang bervariasi, yaitu dalam dasarian, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan dan 12 bulan.
Hal ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana efektivitas tertinggi dari durasi SPL
dalam menggambarkan curah hujan. Pendekatan prediksi dilakukan berdasarkan
akumulasi mode teratas yang memiliki nilai square covariance fraction (SCF) dari
SPL yang dianggap merepresentasikan curah hujan. Secara Temporal, pendekatan
curah hujan dilakukan berdasarkan multipel regresi dari time exponential coefficient
(TEC) SPL. Secara spasial, TEC curah hujan berdasarkan regresi linear TEC SPL
sesuai dengan mode yang bersesuaian. Dalam penelitian ini dilakukan juga
prakiraan curah hujan saat kejadian Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Nino
Southern Oscillation (ENSO) dalam kondisi negatif dan positif secara bersamaan.
Analisis menunjukkan adanya beberapa karakteristik SPL yang memengaruhi
curah hujan, terutama dengan adanya anomali SPL di Samudera Hindia, Perairan
Indonesia dan Samudera Pasifik. Perbedaan anomali ini menyebabkan adanya
perbedaan tekanan yang memicu adanya transpor massa udara yang membawa uap
air. Uap air turun sebagai curah hujan, termasuk untuk wilayah Jawa bagian barat.
Keterkaitan curah hujan dengan SPL terhadap skala waktu memiliki variasi yang
cukup tinggi. Pada skala dasarian, keterkaitan SPL dengan curah hujan ditunjukkan
QURRATA A’YUN KARTIKA. Prediksi Anomali Curah Hujan di Jawa Bagian
Barat Berdasarkan Suhu Permukaan Laut (SPL) dengan Metode Singular Value
Decomposition (SVD). Dibimbing oleh AKHMAD FAQIH, I PUTU
SANTIKAYASA dan AMSARI MUDZAKIR SETIAWAN.
berdasarkan korelasi yang mencapai 0,4, dan meningkat pada skala waktu yang
lebih lama hingga 9 bulan, kemudian menurun pada 12 bulan. Pada skala 3, 6, 9
dan 12 bulanan korelasi SPL hasil ekstraksi menggunakan SVD dengan curah hujan
secara berturut-turut mencapai 0,69, 0,76, 0,77 dan 0,65. Penerapan SVD pada SPL
ketika indeks IOD dan ENSO bernilai negatif secara bersamaan menunjukkan
prediksi anomali curah hujan positif di Jawa bagian barat, serta pola curah hujan
prediksi yang mirip dengan kondisi aktualnya kecuali di tengah wilayah Jawa
bagian barat yang lebih tinggi dari prediksinya. Pada kondisi indeks IOD dan ENSO
positif secara bersamaan menunjukkan adanya anomali curah hujan negatif di Jawa
bagian barat, pola curah hujan prediksi yang mirip dengan kondisi aktualnya
kecuali untuk wilayah barat hingga tenggara Jawa bagian barat yang lebih tinggi
dari prediksinya. Hal ini menunjukkan anomali SPL di Samudera Hindia, perairan
Indonesia dan Samudera Pasifik memegang peranan penting terhadap curah hujan
di Jawa bagian barat, dan SPL pada skala waktu 6 sampai 9 bulan memiliki
keterkaitan yang tinggi dalam mendeskripsikan curah hujan.
