Pengaruh Genotipe dan Umur Panen Terhadap Kandungan Polifenol dan Aktivitas Antioksidan Buah Kecipir (Psophocarpus tetragonobolus (L.) DC)
View/ Open
Date
2020Author
Calvindi, Janson
Nurcholis, Waras
Syukur, Muhamad
Metadata
Show full item recordAbstract
Kecipir (Psophocarpus tetragonobolus (L.) D.C.) merupakan tanaman leguminosa yang tumbuh baik di daerah tropis terutama daerah Papua. Tanaman dari famili Fabaceae, dan genus Psophocarpus ini banyak digunakan dalam masyarakat sebagai pangan. Kandungan protein yang tinggi pada kecipir dijadikan sebagai komoditas substitusi daging. Tanaman ini memiliki genom diploid dengan kariotipe tiga pasang kromosom pendek, dan enam pasang kromosom panjang. Hal ini menyebabkan tanaman kecipir memiliki keragaman karakter agromorfologi, fisiologi, dan biokimia. Perbedaan-perbedaan antar genotipe terekspresi dalam fenotipe-fenotipe yang dapat diukur. Dalam aspek biokimia, keragaman ini dapat dilihat pada keragaman metabolit sekunder, dan aktivitas antioksidan. Selain genetik, umur panen merupakan faktor penentu terhadap kandungan metabolit sekunder, dan aktivitas antioksidan kecipir. Pangan fungsional merupakan pangan yang memiliki bioaktivitas yang tinggi seperti aktivitas antioksidan yang berkaitan dengan metabolit sekundernya. Pangan substitusi merupakan komoditas alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti suatu pangan tertentu berdasarkan karakteristik nutrisi lengkap, aksesibilitas produksi, fungsi fisiologis, dan kajian biokimia. Seleksi genotipe-genotipe kecipir berdasarkan karakteristik agromorfologi dan fisiologi sudah dilakukan, namun seleksi genotipe-genotipe berdasarkan kandungan polifenol, aktivitas antioksidan serta umur panen belum pernah dilakukan. Penelitian ini secara umum bertujuan melakukan seleksi genotipe-genotipe kecipir berdasarkan kandungan polifenol dan aktivitas antioksidan sebagai genotipe unggul.
Bagian pertama dari penelitian ini merupakan evaluasi kandungan polifenol, flavonoid dan aktivitas antioksidan dari 12 genotipe kecipir. Variabel yang dianalisis adalah kandungan total fenolik, kandungan flavonoid, dan aktivitas antioksidan dengan metode FRAP, CUPRAC, DPPH, dan ABTS. Rerata kandungan total fenolik, flavonoid, dan aktivitas antioksidan (FRAP, CUPRAC, DPPH, dan ABTS) yaitu 157.6 mg GAE / 100 g fw, 107.8 mg QE / 100 g fw, 103.7 μmol TE / 100 g fw, 40.4 μmol TE / 100 g fw, 37.1 μmol TE /100 g fw, dan 155.6 μmol TE / 100 g fw. Perbedaan tersebut digunakan dalam pengelompokkan kecipir yaitu kluster I (TU, L1, H1U, and H3U), kluster II (L3, L4, L2), and kluster III (H4P, H1P, TH, H2 and H3P). Dari hasil seleksi, 3 genotipe terbaik berdasarkan analisis keragaman kandungan total fenolik, flavonoid, dan aktivitas antioksidan yang berbeda yaitu H3U, L1, dan L3.
Bagian kedua dari penelitian ini merupakan analisis keragaman total fenolik, flavonoid, dan aktivitas antioksidan dengan 3 metode dari buah berumur 8-12 hari 3 genotipe (H3U, L1, dan L3) tanaman kecipir. Hasil analisis menunjukkan perbedaan yang signifikan kandungan senyawa kimia dan aktivitas antioksidan pada 3 genotipe kecipir pada umur panen yang berbeda. Pengaruh genotipe, umur panen, dan interaksi genotipe-umur panen dengan peubah uji berbeda nyata. Genotipe L1–9 hari memiliki hasil total fenolik, aktivitas
antioksidan FRAP dan CUPRAC tertinggi. Genotipe H3U-10 hari unggul di da lam kandungan flavonoid. Genotipe H3U-9 hari memiliki aktivitas antioksidan DPPH tertinggi. Berdasarkan profil biokimia tertinggi, genotipe yang terbaik dalam kandungan polifenol dan aktivitas antioksidannya adalah genotipe L1 pada umur 9 hari.
Genotipe kecipir yang digunakan merupakan hasil persilangan antara dua tanaman tetua (Indonesia dan Thailand). Genotipe ini adalah generasi ke-6 dan ke-7 yang sudah stabil secara genetik. Kecipir L1-9 memiliki kandungan total fenolik, dan total flavonoid yang lebih besar daripada kecipir AMBIKA (Afrika), kacang kedelai, dan kacang panjang dengan pengukuran terhadap ekstrak polong basah (tanpa pengeringan). Hal ini menunjukkan bahwa kecipir L1-9 memiliki keunggulan dalam kandungan metabolit sekunder dibandingkan jenis kacang lainnya. Keunggulan ini menjadikan kecipir berpeluang besarsebagai komoditas untuk menggantikan kedelai, selain faktor nutrisi, aksesibilitas produksi, dan proses budidayanya. Aktivitas antioksidan dari sampel basah menunjukkan hasil yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai pangan fungsional.
