Komposisi Jenis, Biogeografi, dan Endemisitas Keong Darat Sumatra (Gastropoda: Camaenidae dan Cyclophoridae).
View/ Open
Date
2019Author
Mujiono, Nova
Priawandiputra, Windra
Atmowidi, Tri
Metadata
Show full item recordAbstract
Pulau Sumatra dengan luas wilayah 475.000 km2 terdiri dari sepuluh
provinsi. Wilayahnya memiliki curah hujan rata-rata 155,1-373,5 mm/bulan.
Wilayah tersebut memiliki lebih dari tujuh bulan basah berurutan dan tiga bulan
kering dalam setahun. Dengan iklim yang relatif basah dan lembab, Sumatra
merupakan habitat yang cocok bagi keong darat. Penelitian keragaman jenis
keong darat Sumatra sudah dimulai sejak 1881. Publikasi terakhir tahun 2016
menyebutkan terdapat sekitar 25 suku dan 272 jenis. Dua suku paling beragam
jenisnya yaitu Cyclophoridae (41 jenis) dan Camaenidae (33 jenis) dan
berkontribusi 27% dari total jumlah jenis yang diketahui. Meskipun demikian,
validitas nama jenisnya masih banyak diragukan dan distribusinya belum banyak
dipetakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendata ulang dan validasi keragaman
jenis keong darat Sumatra dari suku Camaenidae dan Cyclophoridae, memetakan
distribusinya (biogeografi) sehingga dapat diketahui wilayah dengan jenis
endemik tertinggi untuk diusulkan menjadi wilayah konservasi alam.
Penelitian ini dilakukan di Cibinong, Bogor. Data primer bersumber pada
koleksi spesimen yang tersimpan di Laboratorium Moluska dan invertebrata lain,
Museum Zoologi Bogor, LIPI. Selain itu, data sekunder diperoleh dengan
kompilasi data jenis yang ada pada 29 publikasi berupa buku atau makalah. Data
nama jenis yang diperoleh kemudian divalidasi dengan mencocokkannya dengan
basis data pada situs www.molluscabase.org. Data distribusi jenis dari sepuluh
provinsi dibuat dalam bentuk matrik biner (ada = 1, tidak ada = 0) yang kemudian
digunakan dalam analisis kelompok menggunakan indeks kesamaan Jaccard. Data
curah hujan bulanan sejak 1971 hingga 2010 diperoleh dari situs
www.bmkg.go.id., dihitung nilai rata-ratanya dan kemudian digunakan dalam
analisis kelompok menggunakan indeks jarak Euklidean.
Penelitian ini berhasil menambahkan 53 jenis keong darat yang belum
terdata pada publikasi 2016. Saat ini diketahui terdapat 17 marga dan 124 jenis
(Camaenidae 58, Cyclophoridae 66). Selain itu juga diketahui sebanyak 36
catatan baru dan 30 perluasan distribusinya. Lampung merupakan provinsi dengan
jumlah catatan baru dan perluasan distribusi terbanyak, masing-masing sepuluh
dan 12.
Data distribusi tiap jenis sangat bervariasi, 66 dari 124 jenis hanya dijumpai
pada satu provinsi. Hal ini kemungkinan karena tingginya tingkat endemisitas
atau kurang lengkapnya rekaman data distribusi. Terdapat tiga jenis yang
terdistribusi luas, Amphidromus sumatranus ditemukan di tujuh provinsi,
Cyclophorus perdix dan Cyclophorus tuba ditemukan di delapan provinsi. Dua
marga dengan distribusi terluas yaitu Amphidromus dan Cyclophorus yang
ditemukan pada sepuluh provinsi.
Analisis kelompok tingkat jenis pada Camaenidae, Cyclophoridae, kedua
suku, dan tingkat marga menghasilkan empat-lima provinsi biogeografi. Analisis
kelompok pada curah hujan menghasilkan empat grup. Curah hujan
mempengaruhi komposisi jenis pada tiap provinsi biogeografi atau grup. Sumatra
Barat dengan rata-rata curah hujan bulanan tertinggi (374 mm) memiliki jumlah
jenis keong darat tertinggi (50 jenis, Camaenidae 23, Cyclophoridae 27).
Analisis endemisitas menunjukkan 30 jenis tergolong endemik lokal dan 45
jenis tergolong endemik provinsi. Dua provinsi dengan jumlah jenis endemik
tertinggi, Aceh dan Sumatra Barat (masing-masing 31 jenis) diusulkan sebagai
daerah konservasi bagi fauna keong darat di Sumatra.
