Please use this identifier to cite or link to this item:
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/88546Full metadata record
| DC Field | Value | Language |
|---|---|---|
| dc.contributor.advisor | Sudarwanto, Mirnawati | - |
| dc.contributor.advisor | Wulansari, Retno | - |
| dc.contributor.advisor | Atabany, Afton | - |
| dc.contributor.author | Pisestyani, Herwin | - |
| dc.date.accessioned | 2018-01-08T01:25:56Z | - |
| dc.date.available | 2018-01-08T01:25:56Z | - |
| dc.date.issued | 2017 | - |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/88546 | - |
| dc.description.abstract | Upaya pencegahan yang diharapkan dapat menekan kasus mastitis subklinis adalah celup puting ke dalam larutan desinfektan setelah pemerahan, namun peternak belum menerapkannya secara kontinyu. Hambatan yang dihadapi peternak antara lain, sulitnya membeli desinfektan dan memperoleh alat untuk celup puting (teat dipper). Kendala lainnya yang dapat mempersulit peternak di lapangan adalah, desain dan cara penggunaan alat yang tidak sesuai dengan bentuk puting sapi perah serta tata laksana pemeliharaan di peternakan rakyat. Penelitian ini bertujuan merancang bangun prototipe alat celup puting yang sesuai dengan bentuk puting sapi perah Indonesia dan tata laksana pemeliharaan ternak di peternakan rakyat. Penelitian terdiri dari 3 tahapan. Pertama mengetahui prevalensi mastitis subklinis, mengukur kadar kalsium dalam darah, dan membuat data dasar anatomi puting sapi perah. Kedua, merancang bangun prototipe alat celup puting, dan ketiga adalah uji coba daya kerja prototipe alat celup puting. Desain penelitian adalah kajian lapang lintas sektoral. Sampel merupakan sapi perah dalam masa laktasi normal, periode laktasi pertama sampai dengan keenam. Besaran sampel yang diperoleh adalah 324 ekor sapi perah yang dipelihara di beberapa wilayah peternakan rakyat Provinsi Jawa Barat, diantaranya peternakan Kunak Kabupaten Bogor, peternakan Baros Kabupaten Sukabumi, peternakan KUD Cianjur Selatan Kabupaten Cianjur, peternakan KUD Tandang Sari Kabupaten Sumedang, peternakan KUD Cikajang Kabupaten Garut, peternakan KSU Mitra Jaya Mandiri Ciwidey dan KPBS Pangalengan Kabupaten Bandung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, prevalensi mastitis subklinis pada sapi perah di Jawa Barat sebesar 70.99%. Sebanyak 45.06% sapi perah menderita mastitis subklinis dengan tingkat keparahan berat, sedangkan tingkat keparahan ringan sebesar 25.93%. Mastitis subklinis dialami oleh sebagian besar sapi perah pada setiap periode laktasi, dengan kejadian paling tinggi dialami oleh sapi laktasi kelima (75.00%). Kadar kalsium dalam darah sapi perah berada dalam rentang 7.65-8.88 mg/dL. Rerata kadar kalsium darah (8.21±1.14 mg/dL) menandakan bahwa sebagian besar sapi perah di Jawa Barat mengalami kondisi hipokalsemia subklinis. Semakin tinggi periode laktasi pada sapi perah, maka kadar kalsium darah semakin rendah. Rerata kadar kalsium darah terendah (7.61±0.55 mg/dL) dimiliki oleh sapi perah laktasi keempat. Rerata kadar kalsium darah pada sapi perah positif mastitis subklinis dengan tingkat keparahan berat adalah 7.95±0.85 mg/dL, sedangkan pada tingkat keparahan ringan sebesar 8.23±1.23 mg/dL. Rerata kadar kalsium darah pada sapi perah dengan kondisi ambing sehat adalah 8.43±1.29 mg/dL dengan rerata produksi susu 12.94±4.53 L/hari. Berbeda dengan sapi perah positif mastitis subklinis yang memiliki rerata kadar kalsium 8.08±1.05 mg/dL dan rerata susu yang dihasilkan 12.55±4.89 L/hari. Data bentuk eksterior puting sapi perah peranakan Friesian Holstein (pFH) digunakan sebagai dasar (acuan) dalam merancang prototipe alat celup puting. Puting sapi perah di Jawa Barat memiliki rerata ukuran pada ambing bagian depan, yaitu 6.11 cm (panjang), 7.66-7.70 cm (lingkar), 2.42-2.44 cm (diameter). Ambing bagian belakang memiliki ukuran yaitu, 4.88-4.94 cm (panjang), 7.07- 7.13 cm (lingkar), 2.24-2.25 cm (diameter). Jarak antara puting depan dan belakang dari ambing bagian kanan dan kiri hampir sama (7.38 cm dan 7.27 cm) dibandingkan dengan jarak antara puting kiri dan kanan pada ambing bagian depan dan belakang yaitu 8.08 cm dan 3.02 cm. Jarak antara puting bagian depan dengan lantai sebesar 54.65 cm dan bagian belakang dengan lantai, yaitu 55.62 cm. Rancang bangun prototipe alat celup puting menghasilkan 2 alat yang merupakan gabungan antara teknik semprot dan celup. Kelebihan prototipe alat celup puting adalah: 1) lengan penyanggah yang memudahkan peternak sehingga tidak perlu jongkok dalam melakukan celup puting; 2) dua cup untuk mencelup 2 puting depan-belakang secara bersamaan, diharapkan dapat mempercepat proses pencelupan puting; 3) kedalaman cup yang sesuai dengan panjang puting sapi perah sehingga seluruh permukaan puting dapat tercelup desinfektan; 4) bahan yang tidak mudah rusak dan tahan lama; serta 5) gaya pompa untuk menghasilkan tekanan sehingga desinfektan dapat mengalir ke atas mengisi cup tanpa perlu gaya tekan manual (meremas botol) yang diharapkan dapat mempermudah peternak. Uji coba alat dilakukan dengan menganalisis persentase selisih dari kualitas mikrobiologik dan jumlah sel somatik dalam susu, sebelum dan setelah sapi diberi perlakuan celup puting selama 2 minggu. Sapi perah yang diberi perlakuan celup puting terbukti mengalami penurunan jumlah total mikroba, jumlah S. aureus, jumlah koliform, dan jumlah sel somatik dalam susu. Berbeda dengan sapi perah yang tidak diberi perlakuan celup puting, menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah total mikroba, jumlah S. aureus, jumlah koliform, dan jumlah sel somatik secara signifikan. Waktu yang diperlukan selama proses pencelupan puting menggunakan prototipe alat celup puting lebih cepat dibandingkan dengan alat yang lama, sedangkan waktu yang digunakan untuk membersihkan alat hampir sama diantara ketiga alat. Berdasarkan keseluruhan parameter yang diuji, didapatkan daya kerja dan efisiensi prototipe alat celup puting pompa samping lebih baik dibandingkan dengan pompa atas dan alat celup puting lama. Penggunaan prototipe alat celup puting terbukti efektif dalam proses desinfeksi puting setelah pemerahan. Celup puting dapat menjadi solusi bagi peternak untuk meningkatkan kualitas mikrobiologik dan menurunkan jumlah sel somatik dalam susu segar. | id |
| dc.language.iso | id | id |
| dc.publisher | IPB (Bogor Agricultural University) | id |
| dc.subject.ddc | Veterinary science | id |
| dc.subject.ddc | Subclinical Mastitis | id |
| dc.subject.ddc | 2015 | id |
| dc.subject.ddc | JABAR | id |
| dc.title | Pengembangan Prototipe Alat Celup Puting untuk Pencegahan Mastitis Subklinis pada Sapi Perah di Indonesia | id |
| dc.title.alternative | IPB (Bogor Agricultural University) | id |
| dc.type | Dissertation | id |
| dc.subject.keyword | Jawa Barat | id |
| dc.subject.keyword | kadar kalsium darah | id |
| dc.subject.keyword | mastitis subklinis | id |
| dc.subject.keyword | prototipe alat celup puting | id |
| dc.subject.keyword | sapi perah | id |
| Appears in Collections: | DT - Veterinary Science | |
Files in This Item:
| File | Size | Format | |
|---|---|---|---|
| 2017hpi.pdf Restricted Access | 30.52 MB | Adobe PDF | View/Open |
Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.