Please use this identifier to cite or link to this item:
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/87892Full metadata record
| DC Field | Value | Language |
|---|---|---|
| dc.contributor.advisor | Zairin, Muhammad | - |
| dc.contributor.advisor | Tumbeleka, ITA Ligaya | - |
| dc.contributor.advisor | Soelistyowati, Dinar Tri | - |
| dc.contributor.author | Anggeni, Prawita | - |
| dc.date.accessioned | 2017-08-14T07:11:31Z | - |
| dc.date.available | 2017-08-14T07:11:31Z | - |
| dc.date.issued | 2017 | - |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/87892 | - |
| dc.description.abstract | Ikan badut Amphiprion ocellaris merupakan spesies ikan hias ekspor yang banyak diminati, namun faktanya 90% ikan hias air laut yang dihasilkan berasal dari penangkapan di alam. Hal ini terjadi karena para eksportir menganggap akan lebih murah mengambil langsung di alam dibandingkan dengan dibudidaya terlebih dahulu. Budidaya ikan badut sudah mulai dikembangkan, namun sampai saat ini masih memiliki kendala, diantaranya stok induk betina yang terbatas. Terbatasnya stok betina disebabkan oleh sifat monogami ikan badut. Selain itu, keterbatasan stok induk betina juga disebabkan oleh adanya hirarki sosial pada ikan badut, yaitu ikan yang paling dominan yang akan bereproduksi. Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan penelitian yang dilakukan secara paralel. Tahap pertama adalah feminisasi dengan jumlah individu minimum dalam kelompok. Tahap pertama terdiri dari lima perlakuan dengan tiga kali ulangan. Pada tiap perlakuan dipelihara ikan badut dalam akuarium dengan kepadatan yang berbeda yaitu satu, dua, tiga, enam, dan sembilan ekor. Tahap kedua adalah feminisasi dengan induksi hormon 17β-estradiol dan 17α-metiltestosteron melalui pakan. Tahap kedua terdiri dari tiga perlakuan dengan tiga kali ulangan. Perlakuan pertama adalah penambahan hormon 17α-metiltestosteron pada pakan dengan dosis 15 mg kgˉ¹ pakan. Perlakuan kedua adalah penambahan hormon 17β- estradiol dengan dosis 150 mg kgˉ¹ pakan. Perlakuan ketiga adalah pemberian pakan tanpa penambahan hormon. Pada tahap ini ikan badut dari masing-masing perlakuan dipelihara dengan kepadatan yang sama yaitu sembilan ekor. Tahap ketiga adalah feminisasi dengan penyuntikan hormon. Tahap ketiga terdiri dari sembilan perlakuan dengan tiga kali ulangan. Masing-masing perlakuan dipelihara dua ekor ikan badut dalam satu akuarium. Salah satu ikan disuntik hormon 17β- estradiol dan satu ekor lagi disuntik hormon 17α-metiltestosteron dengan dosis yang masing-masing sudah ditentukan. Dosis hormon 17β-estradiol yang digunakan pada masing-masing perlakuan adalah 0.1, 0.2, 0.3, 0.4 μg gˉ¹ bobot ikan sedangkan dosis 17α-metiltestosteron yang digunakan adalah 2.5 dan 4 μg gˉ¹ bobot ikan. Hasil penelitian tahap satu menunjukkan bahwa setiap perlakuan hanya menghasilkan satu ekor betina. Pada pemeliharaan lebih dari dua ekor (tiga, enam, sembilan ekor) akan terbentuk seekor betina, seekor jantan, dan selebihnya adalah nonbreeder. Laju pertumbuhan ikan badut menunjukkan perlambatan pada kepadatan diatas dua ekor per akuarium. Hal serupa juga terjadi pada kelangsungan hidup ikan badut yang menurun pada kepadatan diatas dua ekor per akuarium. Hal ini diduga terjadi karena tingginya sifat dominansi yang mengakibatkan agresifitas yang tinggi pada ikan yang lebih dominan, sehingga terjadi persaingan yang tinggi pada saat pengambilan pakan dan perebutan wilayah teritori. Tingginya sifat dominansi dan agresifitas ini menyebabkan beberapa ikan pertumbuhannya rendah dan beberapa ikan juga mati. Hasil penelitian tahap kedua menunjukkan bahwa penambahan hormon melalui pakan pada dosis yang diberikan tidak dapat mempengaruhi perubahan jenis kelamin ikan badut, namun dapat mempengaruhi laju pertumbuhannya. Laju pertumbuhan pada ikan yang diberi pakan dengan penambahan hormon lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa pemberian hormon. Hasil penelitian tahap ketiga menunjukkan bahwa pemberian hormon 17α-metiltestosteron 4 mg kgˉ¹ dan 17β- estradiol 0.2, 0.3, 0.4 mg kgˉ¹ dapat menghasilkan seekor betina dan satu ekor jantan. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa jumlah individu betina yang dihasilkan dalam kelompok ikan badut lebih dipengaruhi oleh hirarki sosial dibandingkan dengan stimulasi hormon. | id |
| dc.language.iso | id | id |
| dc.publisher | Bogor Agricultural University (IPB) | id |
| dc.subject.ddc | Fisheries | id |
| dc.subject.ddc | Ornamental Fish | id |
| dc.subject.ddc | 2016 | id |
| dc.subject.ddc | Bogor, Jawa Barat | id |
| dc.title | Feminisasi Ikan Badut Amphiprion ocellaris Melalui Induksi Hormonal Menggunakan 17β-Estradiol dan 17α-Metiltestosteron | id |
| dc.type | Thesis | id |
| dc.subject.keyword | ikan badut | id |
| dc.subject.keyword | feminisasi | id |
| dc.subject.keyword | hormon | id |
| dc.subject.keyword | 17β-estradiol | id |
| dc.subject.keyword | 17α- metiltestosteron | id |
| Appears in Collections: | MT - Fisheries | |
Files in This Item:
| File | Size | Format | |
|---|---|---|---|
| 2017pan.pdf Restricted Access | 14.38 MB | Adobe PDF | View/Open |
Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.