Please use this identifier to cite or link to this item:
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80507| Title: | Transmisi Harga Vertikal Di Pasar Cabai Di Indonesia. |
| Authors: | Suharno Jahroh, Siti Cramon, Stephan Von Fitriana, Maika |
| Issue Date: | 2016 |
| Publisher: | Bogor Agricultural University (IPB) Bogor Agricultural University (IPB) |
| Abstract: | Seperti kebanyakan negara berkembang, sektor pertanian memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Di pasar Indonesia, sektor sayur sangat penting. Secara global, Indonesia merupakan Negara kelima penghasil cabai di dunia, bersama dengan China, Meksiko, Turki dan Spanyol. Cabai merupakan rempah-rempah penting dalam diet orang Indonesia. Orang Indonesia mengkonsumsi cabai pada tingkat 1,5 kg per kapita per tahun. Produksi cabai telah menerima banyak perhatian di Indonesia karena fluktuasi harga yang luas dan efeknya pada inflasi. Studi ini membahas kointegrasi harga cabai antara pelaku pasar di Indonesia pada tiga tingkatan: petani kepada pedagang, petani kepada konsumen, dan pedagang kepada konsumen. Model koreksi kesalahan digunakan untuk mengukur transmisi harga antara aktor yang berbeda di pasar vertikal. Hasil empiris menunjukkan bahwa hubungan jangka panjang ada di petani-pedagang, petani-konsumen, dan tingkat pedagang-konsumen. Selain itu, dalam jangka pendek, transmisi harga antara tingkat pasar di kota yang sama lebih cepat, dan transmisi harga antara tingkat pasar langsung lebih cepat daripada tingkat pasar tidak langsung. Harga cabai di tingkat petani sangat dipengaruhi oleh produksi cabai musiman. Produksi yang tinggi pada musim hujan dan produksi rendah di musim kemarau membuat volatilitas tinggi pada harga ditingkat petani. Tidak ada pengaturan pola tanam, sehingga sebagian besar petani menanam cabai bersamasama secara bersamaan selama musim hujan. Sementara itu di musim kemarau, tidak semua petani menanam cabai karena keterbatasan air. Belum ada teknologi baru untuk menanam cabai pada musim kemarau atau di lahan kering yang dapat menghasilkan cabai sebaik di musim hujan dan dapat diterapkan secara besarbesaran. Petani harus membeli air atau membangun irigasi dengan membangun sumur bor (air tanah) sehingga mereka dapat menanam cabai mereka di musim kemarau. Kelebihan pasokan cabai (over supply) akan menurunkan harga cabai di tingkat petani, tapi kemudian pada saat kurang pasokan harga cabai akan lebih tinggi. Beberapa perusahaan manufaktur yang besar (produsen sambal) mencoba untuk menstabilkan harga ini dengan menggunakan harga kontrak. Mereka memiliki kemampuan untuk menyimpan cabai untuk stok untuk persediaan pasokan yang stabil untuk membuat produk mereka (output). Volatilitas harga yang tinggi pada harga produsen menghambat transmisi harga sepanjang rantai pasar (market chain). Oleh karena itu, implikasi kebijakan berdasarkan faktor ini adalah bahwa pemerintah harus mengelola stabilisasi harga untuk harga produsen dengan mengelola pasokan agar stabil sepanjang tahun. |
| URI: | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80507 |
| Appears in Collections: | MT - Economic and Management |
Files in This Item:
| File | Size | Format | |
|---|---|---|---|
| 2016mfi.pdf Restricted Access | 2.93 MB | Adobe PDF | View/Open |
Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.