Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/56985
Title: Non-Food Risk Factors of Anemia among Child-Bearing Age Women (15-45 years) in Indonesia
Other Titles: The Journal of Nutrition and Food Research
Authors: Briawan, Dodik
Hardinsyah
Keywords: anemia defisiensi-besi, perempuan usia subur, faktor resiko, indeks massa tubuh
Issue Date: Dec-2010
Publisher: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Series/Report no.: Volume: 33, No.2 Desember 2010;
Abstract: Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling banyak ditemukan, baik di negara sedang berkembang maupun negara maju. Kelompok masyarakat yang rentan diantaranya ibu hamil dan perempuan usia subur (PUS). Identifikasi faktor risiko diperlukan dalam penajaman program mengatasi anemia. Tujuan: Menganalisis perbedaan karakteristik antara kelompok anemia dan non-anemia, serta faktor risiko non-pangan terhadap anemia defisiensi-besi pada kelompok PUS. Metode: Analisis data sekunder dari Survey Kesehatan Nasional (SURKESNAS) 2001. Kriteria sampel adalah PUS berusia 15-45 tahun dengan sampel darah dan diukur kadar hemoglobin (Hb). Sebanyak 4.893 sampel memenuhi syarat analisis, yang diperoleh dari 13.000 sampel. Analisis faktor risiko anemia menggunakan regresi logistik. Hasil: Rata-rata hemoglobin, indek massa tubuh (IMT), lingkar pinggang, lingkar pinggul, dan tingkat pendidikan lebih rendah pada perempuan anemia dibandingkan dengan non-anemia defisiensi-besi (p<0,01). Indikator lain seperti umur, tinggi badan, risiko linkar pinggang/pinggul, pendapatan, aktivitas fisik, status merokok, kebiasaan minum minuman beralkohol, dan status perkawinan tidak berbeda diantara kedua kelompok. Peubah status perkawinan, tingkat pendidikan, IMT, dan tekanan darah diastol berhubungan nyata dengan kejadian anemia, defisiensi-besi (p<0,01). Analisis regresi logistik menunjukkan, kelompok PUS dengan IMT <18,5 enderung tidak anemia (OR=0,6)dibandingkan kelompok dengan IMT <18,5 (p=0,00). Kelompok PUS dengan IMT <25,0 berpeluang menjadi anemia sebesar 1,3 dibandingkan PUS >25,0 (p=0,00). kesimpulan: Ukuran Antropometri berhubungan dengan risiko terjadinya anemia defisiensi-besi. PUS dengan IMT tinggi cenderung tidak anemia defisiensi-besi. [Panel Gizi Makan 2010, 33(2): 102-109 ]
URI: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/56985
ISSN: 0125 – 9717
Appears in Collections:Faculty of Human Ecology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
Jurnal .pdfJournal4.56 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.