Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/45802
Title: Pengaruh ENSO (El Nino- Southern Oscillation) dan IOD (Indian Ocean Dipole) terhadap Dinamika Waktu Tanam Padi di Wilayah Tipe Hujan Equatorial dan Monsunal (Studi Kasus Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat dan Kabupaten Karawang, Jawa Barat)
Authors: Kailaku, Tigia Eloka
Issue Date: 2009
Publisher: IPB (Bogor Agricultural University)
Abstract: ENSO (El Nino-Southern Oscillation) merupakan salah satu bentuk penyimpangan iklim di Samudera Pasifik yang ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut (SPL) di daerah katulistiwa bagian Tengah dan Timur. Fenomena tersebut memainkan peranan penting terhadap variasi iklim tahunan. Pengaruh ENSO sangat terasa di beberapa wilayah Indonesia yang ditandai dengan jumlah curah hujan lebih kecil dalam tahun ENSO dibandingkan dengan pra dan pasca ENSO, sehingga dapat menyebabkan musim kemarau lebih panjang. Selain dapat mempengaruhi tingginya curah hujan, kejadian El-Nino juga berpengaruh terhadap masuknya musim kemarau. Perubahan iklim akan mengakibatkan perubahan pola iklim tahunan seperti terlambatnya awal musim hujan maupun musim kering. Disamping itu periode musim hujan juga diperkirakan akan lebih pendek. Selain ENSO, Terjadi pula gejala penyimpangan iklim yang dihasilkan oleh interaksi laut dan atmosfer di Samudera Hindia di sekitar kathulistiwa yang disebut dengan IOD (Indian Ocean Dipole). Interaksi tersebut menghasilkan tekanan tinggi di Samudera Hindia bagian Timur (bagian Selatan Jawa dan Barat Sumatra) yang menimbulkan aliran massa udara yang berhembus ke Barat. Hembusan angin ini akan mendorong massa air di depannya dan mengangkat massa air dari bawah ke permukaan. Akibatnya, SPL di sekitar pantai Selatan Jawa dan pantai Barat Sumatra akan mengalami penurunan yang cukup drastis, sementara di dekat pantai timur Afrika tejadi kenaikan SPL. Dampak iklim regional baik IOD maupun ENSO terhadap penurunan curah hujan mulai terjadi pada SON baik di Pesisir Selatan (wilayah tipe hujan Equatorial) maupun di Karawang (wilayah tipe hujan Monsunal). Pengaruh IOD dan ENSO pada wilayah tipe hujan Monsunal lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah tipe hujan Equatorial. Di Pesisir Selatan onset terjadi sepanjang tahun, dan karena pengaruh IOD maupun ENSO tidak cukup kuat, tidak terjadi pergeseran puncak onset. Sedangkan di Karawang (tipe hujan Monsunal) puncak onset mundur 2 – 6 dasarian akibat IOD maupun ENSO. Saat memasuki SON, di Pesisir Selatan, kenaikan anomali iklim baik IOD maupun ENSO diikuti dengan penurunan luas tanam pada September dan Oktober. Pada wilayah yang tidak terkena dampak, puncak tanam terjadi pada bulan Oktober dan pada wilayah yang terkena dampak iklim regional tersebut terjadi pada bulan Desember. Sedangkan di Karawang semua wilayah terkena dampak anomali iklim dengan penurunan luas panen pada Juli – Oktober. Dan puncak tanam terjadi pada Desember.
URI: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/45802
Appears in Collections:UT - Geophysics and Meteorology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
G09tek.pdf
  Restricted Access
Full Text829.88 kBAdobe PDFView/Open
Cover G09tek.pdf
  Restricted Access
Cover331.59 kBAdobe PDFView/Open
Abstrak G09tek-2.pdf
  Restricted Access
Abstract283.78 kBAdobe PDFView/Open
BAB I Pendahuluan G09tek-3.pdf
  Restricted Access
Bab I382.48 kBAdobe PDFView/Open
BAB II Tinjauan Pustaka G09tek-4.pdf
  Restricted Access
Bab II389.08 kBAdobe PDFView/Open
BAB III Metodologi G09tek-5.pdf
  Restricted Access
Bab III447.74 kBAdobe PDFView/Open
BAB IV Hasil dan Pembahasan G09tek-6.pdf
  Restricted Access
Bab IV603.83 kBAdobe PDFView/Open
BAB V Kesimpulan dan Saran G09tek-7.pdf
  Restricted Access
Bab V387.38 kBAdobe PDFView/Open
Daftar Pustaka G09tek-8.pdf
  Restricted Access
Daftar Pustaka393.43 kBAdobe PDFView/Open
Lampiran G09tek-9.pdf
  Restricted Access
Lampiran845.44 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.