Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172193
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorHarianto-
dc.contributor.advisorSuroso, Arif Imam-
dc.contributor.advisorNovianti, Tanti-
dc.contributor.authorAnggraini, Rizqi Sari-
dc.date.accessioned2026-01-20T15:36:41Z-
dc.date.available2026-01-20T15:36:41Z-
dc.date.issued2026-
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172193-
dc.description.abstractPerkebunan kelapa sawit rakyat merupakan salah satu penopang utama perekonomian pedesaan di Indonesia melalui kontribusinya terhadap pendapatan rumah tangga dan dinamika pembangunan wilayah. Perubahan struktur agraria yang berlangsung seiring dengan program transmigrasi, berkembangnya perkebunan sawit rakyat, serta kebijakan desentralisasi telah menghasilkan keragaman tipe petani kelapa sawit. Dalam praktiknya, petani dapat dibedakan ke dalam beberapa kelompok berdasarkan keterkaitan dengan skema kemitraan, tingkat kemandirian pengelolaan, serta keberadaan kelembagaan kolektif seperti kelompok tani atau koperasi. Salah satu kelompok penting adalah petani kelapa sawit swadaya, yaitu petani yang menjalankan usahataninya secara otonom tanpa dukungan langsung dari perusahaan inti maupun program pemerintah. Perbedaan karakter tersebut tercermin pada variasi akses terhadap lahan, dukungan institusional, dan kapasitas produksi antar petani. Dalam menjalani usahataninya, petani dihadapkan pada risiko produksi dan risiko harga tandan buah segar (TBS), yang pada gilirannya memengaruhi perilaku ekonomi rumah tangga mereka. Selain itu, keputusan petani dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang seperti peremajaan juga berkaitan erat dengan dinamika ekonomi rumah tangga, struktur sosial, serta kemampuan mempertahankan konsumsi selama masa tanpa pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis fungsi produksi dan risiko produksi kebun sawit swadaya menggunakan model Just and Pope; (2) mengukur preferensi risiko petani menggunakan indeks Arrow–Pratt; (3) mengkaji pengaruh risiko produksi dan harga terhadap keputusan produksi, alokasi tenaga kerja, pendapatan, dan konsumsi rumah tangga melalui model sistem persamaan simultan (2SLS); serta (4) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan peremajaan menggunakan model logit. Hasil analisis fungsi produksi Just and Pope menunjukkan bahwa produksi TBS dipengaruhi oleh umur tanaman, luas lahan, penggunaan pupuk, tenaga kerja, dan bibit unggul. Bibit unggul terbukti berfungsi sebagai risk-decreasing factor karena karakter agronominya yang lebih seragam, tahan terhadap stres lingkungan, dan memiliki respon yang lebih stabil terhadap input pemeliharaan. Bibit unggul menghasilkan pertumbuhan yang lebih homogen sehingga mengurangi variabilitas produksi antar pohon dan antar musim. Sehingga output yang dihasilkan tetap lebih konsisten. Sebaliknya, penggunaan pupuk NPK justru teridentifikasi sebagai riskincreasing factor. Hal ini terjadi karena respons tanaman sawit terhadap NPK sangat bergantung pada kondisi tanah, umur tanaman, dan keseimbangan unsur hara lainnya. Pada lahan petani swadaya yang cenderung heterogen dan tanpa rekomendasi pemupukan berbasis analisis tanah, aplikasi NPK sering kali tidak optimal. Ketidaktepatan dosis ini menciptakan variabilitas pertumbuhan dan produksi antar pohon, sehingga meningkatkan varians produksi. Pengukuran preferensi risiko menggunakan indeks Arrow–Pratt menunjukkan bahwa sebagian besar petani bersifat risk averse. Risiko produksi terbukti berpengaruh, bukan sebagai faktor penahan, melainkan pemicu peningkatan penggunaan input, mencerminkan bahwa petani merespons ketidakpastian dengan strategi mitigasi risiko melalui intensifikasi. Meskipun, hasil estimasi 2SLS menunjukkan bahwa risiko memengaruhi beberapa keputusan produksi dan pendapatan, namun tidak menjadi faktor penentu dalam keputusan peremajaan. Keputusan peremajaan lebih dipengaruhi oleh kondisi internal rumah tangga. Analisis logit mengidentifikasi bahwa total pendapatan rumah tangga secara signifikan meningkatkan peluang petani melakukan peremajaan, sedangkan total pengeluaran rumah tangga serta jumlah anggota keluarga secara signifikan menurunkan peluang peremajaan. Temuan ini menegaskan bahwa keputusan peremajaan mengikuti logika ekonomi rumah tangga Chayanov, yaitu bahwa petani akan menunda keputusan besar apabila berpotensi menurunkan kemampuan memenuhi konsumsi minimum keluarga selama masa tunggu tanpa pendapatan. Selain itu, meningkatnya pendapatan luar usahatani menurunkan peluang peremajaan, yang mengindikasikan adanya proses depeasantization, yaitu bergesernya orientasi ekonomi rumah tangga dari sektor pertanian menuju aktivitas non-pertanian. Temuan ini memberikan dasar penting bagi perumusan kebijakan peremajaan sawit rakyat yang menempatkan dukungan konsumsi rumah tangga dan mekanisme pengganti pendapatan sebagai prioritas utama.-
dc.description.sponsorshipKementan-
dc.language.isoid-
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleRisiko dan Perilaku Ekonomi Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit Swadaya: Implikasi terhadap Keputusan Peremajaan di Provinsi Riauid
dc.title.alternativeisk and Economic Behaviour of Independent Palm Oil Farming Households: Implications for Replanting Decisions in Riau Province-
dc.typeDisertasi-
dc.subject.keywordekonomi rumah tanggaid
dc.subject.keywordkelapa sawit swadayaid
dc.subject.keywordfungsi produksi Just and Popeid
Appears in Collections:DT - Economic and Management

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
cover_H4603211010.pdfCover2.48 MBAdobe PDFView/Open
fulltext_H4603211010.pdf
  Restricted Access
Fulltext1.31 MBAdobe PDFView/Open
lampiran_H4603211010.pdf
  Restricted Access
Lampiran478.13 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.