Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172162
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorPrasetyo, Lilik Budi
dc.contributor.advisorKusmana, Cecep
dc.contributor.advisorSuyadi
dc.contributor.authorRahmila, Yulizar Ihrami
dc.date.accessioned2026-01-20T02:44:09Z
dc.date.available2026-01-20T02:44:09Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172162
dc.description.abstractEkosistem mangrove memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekologis sistem pesisir Indonesia melalui fungsi perlindungan pantai, stabilisasi geomorfologi, regulasi hidrologi, dan penyimpanan karbon biru. Namun, tekanan antropogenik, konversi lahan, serta sedimentasi berlebih telah menyebabkan degradasi struktural dan fungsional di berbagai wilayah, termasuk di Laguna Segara Anakan yang mengalami perubahan geomorfologi cepat dan kompleks. Kondisi ini menuntut metode penilaian kesehatan ekosistem yang bersifat kuantitatif, berbasis bukti, dan mampu menggambarkan kondisi biofisik secara eksplisit dalam ruang. Penelitian ini mengembangkan Mangrove Ecosystem Health Index (MEHI) sebagai pendekatan multitingkat untuk menilai kesehatan ekosistem mangrove berdasarkan integrasi indikator biofisik, lingkungan, spasial, dan tekanan antropogenik. Penentuan indikator dimulai melalui analisis bibliometrik terhadap publikasi internasional bereputasi dalam dua dekade terakhir untuk mengidentifikasi parameter yang paling konsisten digunakan dalam penilaian kesehatan mangrove. Hasil bibliometrik mengonfirmasi enam indikator kunci biomassa, kerapatan pohon, tutupan kanopi, keanekaragaman spesies, salinitas, dan Ph serta variabel spasial seperti fragmentasi, ukuran patch, konektivitas habitat, dan tekanan antropogenik sebagai determinan utama integritas ekosistem. Seluruh indikator ini dipilih berdasarkan konsistensi ilmiah dan relevansi ekologis, kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan MEHI. MEHI tingkat lanskap dikembangkan menggunakan citra Landsat-8, Enhanced Mangrove Index (EMI), metrik spasial, dan unit analisis heksagonal untuk memetakan kesehatan ekosistem mangrove secara spasial. Hasil pemodelan menunjukkan pola gradien kesehatan yang jelas dari barat ke timur, di mana 63,8% kawasan berada dalam kondisi buruk, 22,8% sedang, dan 13,4% baik. Uji akurasi menghasilkan nilai Overall Accuracy sebesar 88,3% dan Koefisien Kappa sebesar 0,81, yang termasuk kategori substantial agreement. Nilai Kappa tersebut menegaskan bahwa kesesuaian antara pemodelan spasial dan data validasi tidak terjadi secara kebetulan, serta menunjukkan reliabilitas model dalam mendeteksi degradasi dan variasi kondisi ekosistem. MEHI tingkat tapak disusun melalui pengukuran biofisik langsung pada 32 plot observasi yang mencakup biomassa di atas permukaan tanah, kerapatan pohon, tutupan kanopi, salinitas, dan pH tanah. Indeks ini menggambarkan kondisi ekologis aktual pada tingkat mikrohabitat dan digunakan sebagai dasar verifikasi ekologis terhadap pola spasial MEHI lanskap. Hasil evaluasi menunjukkan konsistensi ekologis yang kuat: area dengan nilai MEHI lanskap tinggi berkorespondensi dengan tegakan dewasa, kanopi rapat, dan kondisi lingkungan stabil, sedangkan nilai rendah konsisten dengan biomassa rendah, fragmentasi tinggi, dan tekanan hidrologi maupun antropogenik. Meskipun MEHI yang dikembangkan pada penelitian ini menunjukkan kinerja yang kuat pada sistem mangrove bertipe laguna, penerapannya tidak dapat langsung digeneralisasikan ke tipologi ekosistem mangrove lainnya seperti delta, estuari terbuka, atau fringing mangrove. Setiap tipologi memiliki karakteristik geomorfologi, dinamika hidrologi, pola sedimentasi, serta konfigurasi spasial habitat yang berbeda. Faktor-faktor tersebut berpengaruh langsung terhadap perhitungan metrik spasial, sensitivitas canopy density, serta klasifikasi mangrove yang akan digunakan. Oleh karena itu, penggunaan MEHI di luar tipologi laguna memerlukan proses penyesuaian, terutama pada nilai ambang batas (threshold), ukuran grid heksagonal, dan parameter metrik spasial agar tetap selaras dengan karakteristik ekologis masing-masing tipologi. Dengan penyesuaian tersebut, MEHI tetap berpotensi diterapkan secara lebih luas, namun hanya setelah dilakukan kalibrasi lokal yang memadai. Secara keseluruhan, penelitian ini menghasilkan kerangka penilaian kesehatan mangrove yang komprehensif, objektif, dan dapat diterapkan untuk pemantauan jangka panjang pada skala tapak maupun lanskap. MEHI berpotensi besar menjadi instrumen ilmiah pendukung kebijakan restorasi, konservasi, dan mitigasi perubahan iklim, termasuk pencapaian target Indonesia Net Sink 2030 dan strategi pengelolaan ekosistem pesisir berbasis bukti ilmiah.
dc.description.sponsorshipBADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePengembangan Indeks Kesehatan Mangrove Pada Tingkat Lanskap Dan Tapak Di Tipe Ekosistem Mangrove Lagunaid
dc.title.alternativeDevelopment of Mangrove Ecosystem Health Index at Landscape and Site Scales.
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordKesehatan mangroveid
Appears in Collections:DT - Multidiciplinary Program

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
cover_P0602221007_49a955576cec4d2baa12f48c1ef5504d.pdfCover516.41 kBAdobe PDFView/Open
fulltext_P0602221007_6e993e0cb4194f25aef8adc1e9ed0d6c.pdf
  Restricted Access
Fulltext2.39 MBAdobe PDFView/Open
lampiran_P0602221007_2d1850c7da5943a0b45b39b83e8ab621.pdf
  Restricted Access
Lampiran430.24 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.