Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172078
Title: STRATEGI PENGELOLAAN KAWASAN EKOSISTEM ESENSIAL PENYU DI PANTAI NIPAH, LOMBOK UTARA
Other Titles: Management Strategy For Essential Ecosystem Area for Sea Turtles at Nipah Beach, North Lombok, Indonesia
Authors: Yulianto, Gatot
Yulianda, Fredinan
Sismawafi, Muhammad Abiyulwan
Issue Date: 2026
Publisher: IPB University
Abstract: Pantai Nipah merupakan Kawasan Ekosistem Esensial Penyu (KEEP) yang ditetapkan melalui SK Bupati Lombok Utara Nomor 372/52/DLH-PKP/2019 dan menjadi habitat penting bagi penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas). Keberadaan penyu di kawasan ini menghadapi tekanan akibat gangguan habitat peneluran, degradasi ekosistem pesisir, serta tumpang tindih pemanfaatan ruang. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengelolaan kawasan yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan ekologis, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Pendekatan pengelolaan terpadu menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan fungsi ekologis kawasan, meningkatkan efektivitas perlindungan penyu, serta mengoptimalkan manfaat ekonomi secara berkelanjutan. Oleh karena itu, perumusan strategi pengelolaan KEEP Pantai Nipah perlu diarahkan pada keseimbangan antara konservasi penyu, pengaturan pemanfaatan ruang, dan penguatan peran masyarakat lokal. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk, 1) Mengidentifikasi profil ekosistem pantai dan komunitas penyu di kawasan ekosistem esensial penyu. (2) Menganalisis kesesuaian habitat peneluran penyu dan potensi kesesuaian wisata pantai berdasarkan kondisi biofisik kawasan. (3) Menghitung daya dukung kawasan untuk aktivitas peneluran penyu dan wisata pantai. (4) Menghitung nilai ekonomi wisata serta tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan. (5) Merumuskan strategi pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Penyu yang berkelanjutan di Pantai Nipah. Metode penelitian yang digunakan adalah meliputi pengumpulan data primer dan sekunder, analisis profil ekosistem pantai, kesesuaian habitat, kesesuaian wisata, daya dukung kawasan, analisis ekonomi dengan pendekatan Travel Cost Method (TCM) dan Contingent Valuation Method (CVM), analisis sosial dengan pendekatan skala likert untuk menilai persepsi dan partisipasi masyarakat, serta analisis strategi dengan metode A’WOT (AHP-SWOT). Hasil penelitian menunjukkan populasi penyu di Pantai Nipah mengalami fluktuasi dengan jumlah populasi tertinggi pada bulan juni dengan jumlah 20 ekor. Profil ekosistem pantai pada kawasan Pantai Nipah memiliki kemiringan pantai 6° – 11°, lebar pantai 6 – 17 meter, dan tekstur pasir dominan pasir dengan kisaran 93–96%. Suhu pasir berada pada kisaran 29°C – 32°C dengan kelembaban yang relatif tinggi serta pH pasir antara 5,2 – 6,9. Persentase vegetasi berada pada kisaran 45% – 35%, dengan jenis vegetasi Pantai yang mendominasi pada masing-masing kategori adalah kelapa (Cocos nucifera) pada kategori pohon, ketapang (Terminalia catappa) pada kategori tiang, waru laut (Hibiscus tiliaceus) pada kategori pancang, dan kacang laut (Vigna marina) pada kategori herba. Pasang surut di kawasan ini adalah siklus pasang surut semidiurnal, dengan persentase bangunan tertinggi pada area barat daya dengan nilai 36% dan paling rendah pada area utara sebesar 0%. Jarak pantai peneluran dengan daerah pakan 0 kilometer, serta ketersediaan air tawar <0,5 kilometer. Kedalaman perairan <3 meter, dengan kecerahan perairan ii > 80% dan kecepatan arus <17cm/detik. Biota berbahaya yang terdapat di KEEP Pantai Nipah, yaitu bulu babi, ubur-ubur, ikan pari, dan lepu. Indeks Kesesuaian Habitat Penyu (IKH) berada pada kategori “Tidak sesuai” pada area barat daya dan selatan, sementara pada area timur dan utara berada pada kategori “Sesuai”. Indeks Kesesuaian Wisata Penyu (IKW) juga berada dalam kategori “Sangat sesuai”. Daya dukung kawasan dihitung sebesar 20 orang per hari untuk wisata penyu dan 124 orang per hari untuk kegiatan rekreasi pantai. Nilai ekonomi kawasan berdasarkan pendekatan TCM sebesar Rp 296.035.366 per tahun, dengan nilai rata-rata kesediaan membayar (WTP) wisatawan sebesar Rp10.200 per orang. Hasil analisis sosial menunjukkan bahwa tingkat persepsi masyarakat terhadap pentingnya konservasi penyu dan keberadaan KEEP cenderung positif. Tingkat partisipasi masyarakat tinggi dalam aspek fisik, sedangkan dalam aspek perencanaan dan evaluasi pengelolaan yang masih rendah disebabkan oleh kurangnya edukasi dan keterlibatan langsung dalam proses pengambilan keputusan. Hasil analisis strategi menujukan prioritas strategi adalah (ST1) “Menyusun Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur tata kelola kawasan pelestarian penyu di Pantai Nipah secara partisipatif ”.
URI: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172078
Appears in Collections:MT - Fisheries

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
cover_C2502212025_bb9f896dd8f24e00a8158acf0ed69563.pdfCover771.02 kBAdobe PDFView/Open
fulltext_C2502212025_a349032d24ad4574aebcac146e6eef28.pdf
  Restricted Access
Fulltext1.64 MBAdobe PDFView/Open
lampiran_C2502212025_ea06aef10a3e442bad84b32c85e6b6dc.pdf
  Restricted Access
Lampiran1.42 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.