Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172054
Title: Narasi Pendidikan Orang Bajo Dalam Komunitas Pesisir.
Other Titles: Narratives of Bajo Education in Coastal Communities
Authors: Sarwoprasodjo, Sarwititi
Fatchiya, Anna
Suharjito, Didik
Nurhaliza, Wa Ode Sitti
Issue Date: 2026
Publisher: IPB University
Abstract: Permasalahan pendidikan pada komunitas pesisir, khusunya Orang Bajo, masih menjadi tantangan serius karena anak-anak menghadapi hambatan dalam mempertahankan keberlanjutan pendidikan. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa rendahnya motivasi belajar, keterbatasan pemahaman orang tua mengenai pentingnya pendidikan, kecenderungan anak untuk melaut bersama orang tua, dan kuatnya budaya melaut menjadi faktor yang mendorong anak putus sekolah. Nilai-nilai budaya dan praktik keseharian tersebut diwariskan melalui narasi lisan di dalam keluarga, yang berfungsi sebagai sarana komunikasi, pendidikan, sekaligus pewarisan identitas. Namun, kajian tentang anak putus sekolah selama ini lebih sering dikaji dari perspektif ekonomi, struktural, dan kebijakan, belum tanpa menelusuri bagaimana proses komunikasi dan narasi keluarga membentuk makna pendidikan di komunitas pesisir seperti Orang Bajo. Kajian literatur menunjukkan adanya empat kesenjangan utama, yaitu pertama, penelitian terdahulu cenderung berfokus pada pendekatan kuantitatif dan struktural sehingga belum mengeksplorasi dimensi naratif komunikatif dalam keluarga dan komunitas. Kedua, hubungan antara makro, meso dan mikro belum banyak dianalisis dalam satu kerangka komunikasi. Ketiga, studi tentang komunitas pesisir seperti Orang Bajo masih terbatas, padahal komunitas ini memiliki dinamika komunikasi dan budaya yang berbeda dengan masyarakat daratan. Keempat, integrasi antara teori infrastruktur komunikasi dan pendekatan studi kasus belum banyak diterapkan untuk memahami bagaimana narasi menghubungkan individu, jaringan komunitas, dan struktur sosial dalam konteks pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menjelaskan narasi pendidikan Orang Bajo yang terbentuk dan disebarluaskan melalui jaringan pencerita pada level makro dan meso; (2) menjelaskan narasi pendidikan Orang Bajo yang direproduksi dan dinegosiasikan melalui jaringan pencerita pada level mikro; dan (3) mengklasifikasikan tipologi komunikasi keluarga dalam menentukan pendidikan anak Orang Bajo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Penelitian ini menunjukkan bahwa narasi pendidikan Orang Bajo terbentuk dan disebarluaskan melalui ekologi komunikasi yang tidak seimbang antara level makro, meso, dan mikro. Pertama, pada level makro dan meso, narasi pendidikan yang diterima Orang Bajo cenderung lemah dan tidak sepenuhnya menyentuh pengalaman keseharian mereka. Negara hadir melalui kebijakan dan program pemerintah, namun sebagian besar tampil sebagai administratif yang kaku dan jauh dari konteks sosial budaya pesisir. Wacana wajib belajar, pemerataan akses, dan bantuan pendidikan lebih dirasakan sebagai serangkaian aturan dan persyaratan, bukan sebagai cerita yang menggerakkan harapan atau membangun kedekatan emosional dengan sekolah. Pada level meso, komunitas juga belum berfungsi sebagai jejaring pencerita yang secara aktif mengarustamakan pendidikan. Percakapan di ruang-ruang sosial lebih didominasi isu ekonomi, cuaca, dan siklus melaut. Figur panutan pendidikan terbatas, organisasi lokal belum konsisten mengangkat isu pendidikan sebagai agenda bersama, dan praktik seperti pernikahan dini masih diterima sebagai sesuatu yang wajar. Dalam hal ini pendidikan formal tidak menempati posisi penting dalam wacana kolektif. Ia bukan ditolak karena ideologis, tetapi tidak hadir sebagai narasi sosial yang kuat. Kedua, pada level mikro, keluarga menjadi ruang utama tempat narasi pendidikan direproduksi dan dinegosiasikan. Percakapan tentang sekolah berlangsung di rumah panggung, di atas jembatan, di perahi dan di sela-sela aktivitas ibadah. Di dalam ruang-ruang ini, orang tua merangkai beragam cerita; pendidikan sebagai jalan mencari pekerjaan dan memperbaiki ekonomi, sebagai kewajiban moral dan religius, sebagai sarana mengangkat martabat keluarga, sekaligus sebagai pengalaman pahit karena diskriminasi, kegagalan sekolah atau keterbatasan ekonomi. Narasi-narasi tersebut tidak pernah hadir secara tunggal, melainkan dalam bentuk ambivalensi. Di satu sisi, orang tua mengetahui pentingnya sekolah dan berharap anak bisa melampaui keterbatasan mereka. Di sisi lain, ada narasi ketakutan terhadap sekolah formal sebagai dunia “orang darat” yang dingin dan kurang bersahabat dengan identitas Orang Bajo. Ritme waktu dan ruang pesisir juga membentuk kekuatan narasi: obrolan tentang masa depan dan sekolah menguat ketika berkumpul pada waktu tertentu, tetapi meredup saat musim melaut atau tekanan ekonomi meningkat. Di tengah kondisi ini, muncul Counter Narrative Engine, yaitu cara keluarga mengolah pengalaman marginalisasi dan kemiskinan menjadi kisah perjuangan. Penelitian ini memodifikasi teori infrastruktur komunikasi melalui empat konsep yakni agen komunikasi spasial, temporal-spatial scaffolding, open-closed context, dan counter narrative engine. Keempat konsep tersebut menjelaskan bagaimana ruang ruang, waktu, ketimpangan struktural, narasi lintas generasi membentuk kontruksi dan reproduksi narasi pendidikan dalam keluarga Orang Bajo. Ketiga, pola komunikasi keluarga yang menyertai narasi tersebut sangat menentukan arah keputusan pendidikan anak. Penelitian ini menemukan beberapa tipologi komunikasi keluarga yang khas. Keluarga yang cenderung konsensual memperlihatkan percakapan yang relatif terbuka; anak dilibatkan dalam diskusi, tetapi tetap diarahkan dalam koridor nilai keluarga. Pola ini banyak ditemukan pada keluarga anak yang melanjutkan sekolah dan berkontribusi pada terbentuknya narasi positif tentang pendidikan. Sebaliknya, pada keluarga dengan pola protektif, keputusan pendidikan lebih banyak ditentukan figur bapak dan kondisi ekonomi serta kebutuhan tenaga kerja di laut. Anak cenderung pasif, dan putus sekolah sering dilihat sebagai konsekuensi “wajar” dari kesulitan hidup. Pola laissez-faire menunjukkan bentuk lain dari ketidakmampuan keluarga mengolah komunikasi pendidikan: pembicaraan minim, keputusan diserahkan kepada anak, dan putus sekolah dipandang sebagai sesuatu yang mengalir bersama keadaan. Diantara pola-pola ini, penelitian ini juga menemukan varian khas pesisir, yakni pola semi-permisif, ketika kebebasan anak memilih pendidikan selalu dibatasi oleh norma; jika tidak sekolah, anak harus kembali ke laut. Laut menjadi rujukan utama identitas, sehingga semua pilihan pendidikan menarik kembali anak pada orientasi budaya pesisir. Di sejumlah keluarga, ibu tampil sebagai mediator yang menjembatani keinginan anak dan otoritas bapak; kehadiran peran mediatif ini dapat memperkuat pilihan untuk tetap melanjutkan pendidikan. Implikasi dari penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan ekosistem komunikasi pendidikan yang terintegrasi antara keluarga, komunitas, dan pemerintah dalam konteks budaya pesisir. Keluarga perlu menjadi pusat komunikasi pendidikan melalui dialog terbuka dan keteladanan orang tua, sementara komunitas difungsikan sebagai ruang kolektif untuk menumbuhkan narasi pendidikan melalui kegiatan sosial berbasis budaya laut. Pemerintah daerah disarankan membangun kebijakan dan infrastruktur komunikasi pendidikan yang kontekstual, partisipatif, serta berbasis kearifan lokal, termasuk melalui media komunitas dan kolaborasi lintas sektor.
URI: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172054
Appears in Collections:DT - Human Ecology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
cover_I3602221012_161325cb0ffe4b0989438a2a306bff11.pdfCover1.34 MBAdobe PDFView/Open
fulltext_I3602221012_b60b7876870f406aa0b700e024c67aff.pdf
  Restricted Access
Fulltext3.61 MBAdobe PDFView/Open
lampiran_I3602221012_4754c69e4232433eb51778c4fa1f8708.pdf
  Restricted Access
Lampiran817.08 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.