Please use this identifier to cite or link to this item:
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171977| Title: | Pengaruh Program Makan Bergizi Gratis Dan Edukasi Terhadap Status Gizi, Hemoglobin Dan Perilaku Pada Remaja Putri |
| Other Titles: | |
| Authors: | Tanziha, Ikeu Riyadi, Hadi Zulfani, Zahida Azmi Zaqia |
| Issue Date: | 2026 |
| Publisher: | IPB University |
| Abstract: | Remaja merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang cepat serta membutuhkan asupan gizi yang optimal. Di Indonesia, remaja putri masih menghadapi masalah triple burden malnutrition, termasuk anemia akibat pola makan yang tidak seimbang. Data Riskesdas 2018 menunjukkan 32% remaja usia 15–24 tahun mengalami anemia, dan di Kota Bogor prevalensinya mencapai 16,3%. Pemerintah menginisiasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan asupan gizi dan menurunkan anemia di kalangan pelajar. Program ini diharapkan juga meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik gizi seimbang. Penelitian menggunakan design quasi experimental one group pre–post test design yang dilakukan pada 78 siswi kelas X SMKN 1 Kota Bogor selama Juli September 2025. Intervensi dilakukan selama delapan minggu berupa pemberian makan siang bergizi gratis serta pemberian edukasi gizi melalui poster dan ceramah 15 menit setiap minggu pada minggu ke-5 hingga minggu ke-8. Pemberian makanan pokok berupa nasi, mie, sphaghetti, singkong, roti dan kentang. Pemberian protein nabati berupa tempe, tahu, kacang polong dan kacang merah. Protein hewani diberikan telur ayam, telur puyuh, ikan dori dan ayam. Pemberian sayur dan buah berupa wortel, sawi, kacang panjang, jeruk, pisang, anggur, kelengkeng, dan pisang. Pemberian tambahan susu diberikan 1-3x dalam seminggu. Data dikumpulkan melalui kuesioner pengetahuan, sikap, praktik, SQ-FFQ, pengukuran antropometri, dan kadar hemoglobin menggunakan alat Hemocue 301. Analisis dilakukan dengan uji paired t-test dan Wilcoxon signed rank test untuk perbandingan pre–post test, serta regresi logistik untuk melihat faktor yang memengaruhi anemia. Sebagian besar responden berusia 15 tahun (75,6%) dengan uang saku harian Rp15.000–20.000 (60,3%) dan berasal dari keluarga berpendapatan di bawah UMR (82,1%). Mayoritas ayah bekerja sebagai buruh (46,2%) dan ibu tidak bekerja (91%). Pendidikan orang tua umumnya setingkat SMA. Sebanyak 73,1% responden memiliki siklus menstruasi normal 28–35 hari dengan durasi 5–7 hari, namun 62,8% mengalami gejala lemah dan letih saat menstruasi. Kondisi sosial ekonomi dan kesehatan reproduksi ini menjadi faktor yang dapat memengaruhi kecukupan gizi dan risiko anemia. Hasil regresi logistik menunjukkan beberapa faktor yang memengaruhi anemia adalah asupan protein, zat besi, dan kalsium. Asupan protein memiliki efek protektif terhadap anemia (OR=0,894; p=0,018), sedangkan kalsium berperan sebagai faktor risiko karena menghambat penyerapan zat besi (OR=1,007; p=0,004). Zat besi juga berperan protektif (OR=0,843; p=0,049). Faktor lain seperti asupan energi, lemak, karbohidrat, dan serat tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Model regresi menjelaskan 31,5% variasi anemia, menunjukkan bahwa anemia dipengaruhi juga oleh faktor sosial, perilaku, dan biologis lain. Intervensi MBG disertai pemberian edukasi dengan poster meningkatkan skor pengetahuan gizi rata-rata sebesar +15,2 poin (p<0,001), dari 68,4% (kategori sedang) menjadi 83,6% (kategori baik). Sikap gizi meningkat +10,7 poin, dari 70,2% menjadi 80,9%, menunjukkan perubahan positif dalam persepsi pentingnya gizi seimbang. Praktik gizi meningkat signifikan sebesar +8,4 poin, dari 72,5% menjadi 80,9%, mencerminkan kebiasaan makan yang lebih baik, Rata-rata berat badan meningkat dari 48,3 ± 6,2 kg menjadi 49,1 ± 6,1 kg (+0,8 kg; p<0,05), dan tinggi badan meningkat dari 155,2 ± 5,8 cm menjadi 155,7 ± 5,7 cm (+0,5 cm; p<0,05). Peningkatan tersebut berkontribusi terhadap perbaikan status gizi berdasarkan IMT/U. Temuan ini sejalan dengan standar pertumbuhan WHO 2007, yang menunjukkan bahwa remaja putri usia 15 hingga 16 tahun umumnya masih mengalami pertambahan berat badan dengan kecepatan moderat, yaitu sekitar 2–3 kg per tahun, serta pertambahan tinggi badan yang relatif kecil, yakni sekitar 0–1 cm per tahun, karena proses pertumbuhan linear telah mendekati tahap akhir (World Health Organization. 2007). Dengan demikian, perubahan berat dan tinggi badan yang diamati dalam penelitian ini berada dalam rentang fisiologis yang wajar dan mencerminkan pola pertumbuhan normal pada remaja putri. Sebelum intervensi, 76% responden berstatus gizi normal, 14% gizi kurang, dan 10% gizi lebih. Setelah intervensi, proporsi gizi normal meningkat menjadi 82%, sedangkan gizi kurang turun menjadi 9%. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi menu seimbang dengan sumber protein hewani dan sayuran selama delapan minggu memberikan dampak positif terhadap status gizi remaja. Sebelum intervensi, 28,2% remaja mengalami anemia (Hb <12 g/dL). Setelah delapan minggu pemberian MBG, kadar hemoglobin meningkat rata-rata sebesar 0,5 g/dL (dari 11,8 ± 1,2 g/dL menjadi 12,3 ± 1,1 g/dL; p<0,05). Proporsi remaja dengan anemia turun menjadi 16,7%. Peningkatan ini diduga karena adanya peningkatan asupan protein hewani, zat besi, dan vitamin C dari menu MBG yang mendukung penyerapan zat besi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Kusumawati et al. (2019) dan Rimbawan et al. (2023), yang melaporkan bahwa pemberian makan siang bergizi meningkatkan kadar hemoglobin remaja secara signifikan |
| URI: | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171977 |
| Appears in Collections: | MT - Human Ecology |
Files in This Item:
| File | Description | Size | Format | |
|---|---|---|---|---|
| cover_I1504232071_043dd499946a4976af0546db3b6d5a4a.pdf | Cover | 574.65 kB | Adobe PDF | View/Open |
| fulltext_I1504232071_aa304c575cd34adf804a70c3a2605f84.pdf Restricted Access | Fulltext | 1.16 MB | Adobe PDF | View/Open |
| lampiran_I1504232071_fefb39b9752547dba29bffad16f9e34a.pdf Restricted Access | Lampiran | 1.85 MB | Adobe PDF | View/Open |
Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.