Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171781
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorSuroso, Arif Imam-
dc.contributor.advisorZulbainarni, Nimmi-
dc.contributor.authorMilda-
dc.date.accessioned2025-12-22T06:54:17Z-
dc.date.available2025-12-22T06:54:17Z-
dc.date.issued2025-
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171781-
dc.description.abstractTransformasi digital di Indonesia telah mendorong transisi signifikan menuju transaksi non-tunai, di mana Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia meluncurkan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) pada 17 Agustus 2019, yang wajib diterapkan mulai 1 Januari 2020. QRIS menyederhanakan sistem pembayaran untuk UMKM dengan menggunakan satu kode QR untuk berbagai platform, meningkatkan efisiensi, dan memungkinkan pencatatan transaksi secara digital dan seketika, sehingga mendukung daya saing bisnis. Meskipun adopsi QRIS meningkat di provinsi-provinsi besar, penggunaannya di kota Serang Banten masih terbatas karena banyak UMKM mengandalkan cara tradisional dan tunai, dipengaruhi oleh beberapa hambatan, termasuk kurangnya literasi digital, kekhawatiran biaya transaksi, kebutuhan akan paket data internet, dan pandangan bahwa transaksi tunai dianggap lebih aman Kota Serang masih menghadapi berbagai tantangan dalam adopsi QRIS, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi niat UMKM untuk mengadopsi QRIS di kota Serang Banten dengan mengintegrasikan Technology Acceptance Model (TAM) dan Theory of Planned Behavior (TPB), dengan penambahan variabel lainnya yaitu Perceived Risk (PR) sebagai determinan yang juga penting Penelitian ini menganalisis karakteristik demografi dan bisnis dengan melibatkan dari 105 pemilik UMKM yang belum mengadopsi QRIS sebagai metode pembayaran. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden adalah perempuan (63,8%) dan berada dalam kelompok usia produktif 30–39 tahun (42,1%). Sektor usaha yang paling dominan adalah makanan dan minuman (55,1%). Secara klasifikasi, sampel penelitian sangat didominasi oleh usaha mikro (62,9%), dengan lebih dari separuh (50,7%) telah beroperasi selama lebih dari tiga tahun, menunjukkan stabilitas. Mayoritas responden (68,2%) melaporkan omzet tahunan di bawah Rp300 juta, yang menegaskan bahwa fokus penelitian adalah pada usaha mikro kecil, berskala rumahan, atau informal di Kota Serang-
dc.description.sponsorshipnull-
dc.language.isoid-
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Niat Penggunaan Sistem Pembayaran QRIS pada UMKM kota Serang Bantenid
dc.title.alternativeAnalysis of the Intention to Use the Digital Payment QRIS among MSMEs in Serang City Banten-
dc.typeTesis-
dc.subject.keywordsistem pembayaran digitalid
dc.subject.keywordquick response code indonesian standard (QRIS)id
dc.subject.keywordpelaku UMKMid
dc.subject.keywordInklusi Keuanganid
dc.subject.keywordkota serangid
Appears in Collections:MT - Business

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
cover_K1501231014_938187ed735542d38e2c4cd677f5a774.pdfCover749.1 kBAdobe PDFView/Open
fulltext_K1501231014_7b2d42cdc1d8441abfc727c6f69bc224.pdf
  Restricted Access
Fulltext9.25 MBAdobe PDFView/Open
lampiran_K1501231014_58b6c7211dae4519b4e1c051132b6fc5.pdf
  Restricted Access
Lampiran302.32 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.