Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/161785
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.authorWinugroho, Mohammad Lukmanul Hakim-
dc.date.accessioned2025-05-25T23:58:31Z-
dc.date.available2025-05-25T23:58:31Z-
dc.date.issued2025-
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/161785-
dc.description.abstractRinosinusitis kronik (RSK) pada orang dewasa adalah peradangan pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang ditandai oleh dua gejala atau lebih, satu gejala meliputi buntu hidung atau obstruksi atau kongesti dan sekret pada hidung (anterior/posterior nasal drip). Satu gejala lainnya meliputi nyeri tekan pada wajah dan hilangnya atau menurunnya sensasi penghidu selama lebih dari 12 minggu, berbeda dengan RSK pada anak dimana gejala yang timbul seperti RSK pada orang dewasa tetapi disertai dengan batuk sebagai pengganti dari gangguan penghidu (Vennik, et al., 2019; Fokkens, et al., 2020). Klasifikasi RSK dibagi menjadi dua, yaitu RSK primer dan sekunder, setiap klasifikasi memiliki distribusi anatomi, endotip dan fenotip yang berbeda. Rinosinusitis kronik primer dan sekunder, berdasarkan distribusi anatomi, terbagi menjadi unilateral dan bilateral, sedangkan endotip RSK primer terbagi menjadi eosinofilik (tipe 2) dan non-eosinofilik (non-tipe2) (Grayson, et al., 2019). Rinosinusitis kronik dengan polip berdasarkan histologi dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu eosinofilik dan non-eosinofilik (Wang, et al., 2018). ...id
dc.language.isoidid
dc.publisherFK-IPB Universityid
dc.titlePeta Kuman Dan Sensitivitas Antibiotik Pada Rinosinusitis Kronik Pasca Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS)id
dc.typeArticleid
Appears in Collections:Medicine

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
PETA KUMAN DAN SENSITIVITAS ANTIBIOTIK PADA RINOSINUSITIS KRONIK PASCA FESS -KIM.pdfArticle489.68 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.