Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159232
Title: Rancang Bangun Kebijakan Pengelolaan Budaya Organisasi Untuk Peningkatan Kapabilitas Bank Sentral
Authors: Eriyatno
Hutagaol, M.Parulian
Hadad, Muliaman D.
Gunadi, Widyo
Issue Date: 2011
Publisher: IPB University
Abstract: Bank Indonesia (BI), sebagai bank sentral dengan tugas moneter dan perbankan serta mengelola aset lebih dari 1.180 trilyun rupiah (2010), sangat penting untuk mengelola organisasi agar berkinerja tinggi dan berkesinambungan. Elemen mendasar dalam pengelolaan organisasi adalah budaya organisasi (BO). BO dikelola untuk menghasilkan kapabilitas dan perilaku yang dibutuhkan organisasi. Dikelola dalam arti diarahkan untuk mencapai bentuk idealnya, yang selaras dengan misi, visi dan strategi organisasi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa budaya organisasi yang cocok dan kuat, meningkatkan kinerja organisasi. Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa pengelolaan belum efektif, yang disebabkan berbagai kendala seperti: Pertama, masih banyak manajemen puncak yang berpendapat bahwa BO adalah suatu kondisi yang tidak dapat diubah. Kedua, kekurangan informasi dan contoh konkret mengenai: bagaimana menentukan kultur ideal yang cocok untuk organisasi, bagaimana melakukan perubahan perilaku kolektif, efektivitas program perubahan, contoh sukses pengelolaan BO sebagai anutan untuk adopsi perubahan. Ketiga, masalah pengukuran keberhasilan. Pengelolaan BO membutuhkan alat ukur yang lebih terlihat dan mudah dipahami agar pihak manajemen mau investasi di bidang ini, baik waktu, biaya dan perhatian. Untuk kasus BI, sebenarnya sejak tahun 2002 telah mencoba melakukan program perubahan kultur, namun belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Tujuan penelitian adalah: 1) merancang model konseptual kultur ideal di BI sesuai dengan kebutuhan dan tugas BI, 2) merancang model pengelolaan kultur di BI yang efektif dan berlanjut. Dengan dua rancangan ini diharapkan BI mampu mendesain kebijakan bidang kultur organisasi di BI yang komprehensif, yang efektif untuk meningkatkan kapabilitas organisasi. Pada penelitian yang dilakukan di Bank Indonesia ini, budaya organisasi dimaksudkan sebagai perilaku organisasi, baik yang tercermin pada perilaku kolektif anggota organisasi, perilaku organisasi yang bekerja dalam sistem, proses bisnis, maupun aturan-aturan. Sebagai sebuah social construct, kultur akan konstruksi baik pada level organisasi dengan values ideal dan level subkultur dengan dimensi kultur seperti; karakteristik, kepemimpinan, pengelolaan pegawai, perekat organisasi, titik berat strategi, dan kriteria keberhasilan organisasi. Kapabilitas organisasi adalah jumlah kompetensi internal organisasi dalam melaksanakan misi, visi dan tugas organisasi. Kapabilitas organisasi mencakup nilai yang dianut (share mindset), praktek manajemen dan sumberdaya manusia, kapasitas untuk berubah, dan kepemimpinan (leadership). Oleh karena kebijakan kultur melibatkan berbagai variabel dalam suatu sistem kompleks, dinamis dan bersifat probabilistik, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan sistem. Analisa situasional dilakukan pada kurun waktu Januari 2009 sampai dengan Desember 2010. Namun, beberapa data sekunder dianalisa sejak tahun 2002 sampai dengan 2009 baik mengenai implementasi values maupun pencapaian subkultur tiap satuan kerja. Pada analisis kebijakan, penelitian menggunakan tiga teknik penelitian: Strategic Assumption Surfacing and Testing (SAST), Interpretative Structural Modeling (ISM), Analitical Network Process (ANP), yang pada dasarnya kelompok Soft System Methodology (SSM). Pada metode ini data dan informasi didapat dari pengetahuan dan pengalaman (knowledge based) yang ada pada responden ahli. Dari batasan organisasi pakar dibedakan dua kelompok: internal BI dan eksternal dari berbagai kelompok kepentingan seperti : DPR, BPK, BSBI, media masa, akademisi, pemerintah dan tokoh masyarakat. Dari sisi keahlian dapat dibedakan : ahli kultur, ahli perbankan, ahli perubahan dan ahli metodologi. Hasil penelitian dengan teknik ANP menghasilkan values baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan BI. Values tersebut adalah integritas, professional, visioner, kompeten dan transparan. Ini berbeda dengan values saat ini (existing) yakni KITA-K (Kompetensi-Integritas-Transparansi-Akuntabilitas-Kebersamaan). Hasil ini valid dengan tingkat persetujuan antar ahli (rater agreement) Kendall’s coefisien concordance, yang secara gabungan adalah 0,621056 yang berarti cukup memadai. Teknik SAST menghasil asumsi-asumsi penting yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan model pengelolaan kultur yakni: (1) sistem penilaian kinerja, (2) sistem pemenuhan (rekruitmen, promosi, mutasi) dan sistem penilaian kompetensi/potensi pegawai, (3) undang-undang bank sentral, sistem reward dan penalty serta sistem manajemen kerja organisasi, (4) sistem pengembangan dan sistem audit. Asumsi tersebut terletak pada kuadran II dengan kepastian dan kepentingan yang tinggi. Teknik ISM yang menggunakan seluruh elemen sebagaimana disarankan oleh Saxena (1992), menghasilkan sembilan subelemen kunci yang memiliki driver power di elemennya yakni : Dewan Gubenur sebagai sasaran program, leadership pimpinan di levelnya sebagai kebutuhan utama, dukungan dari pimpinan semua level sebagai kendala utama, keselarasan MSDM dengan kultur sebagai perubahan yang dimungkinkan, perilaku sesuai nilai strategis sebagai tujuan utama, survei persepsi kepemimpinan sebagai tolok ukur, menyusun kebijakan kultur sebagai aktivitas utama, dikeluarkannya kebijakan kultur sebagai ukuran aktivitas, dan Dewan Gubernur sebagai aktor utama dalam perubahan. Berbagai temuan yang dihasilkan baik berupa values yang baru, gugus asumsi dan gugus elemen model, kemudian disusun model konseptual yang terdiri dari: model manajemen kultur, model kelembagaan pengelolaan kultur dan model kelembagaan subkultur. Model manajemen pada dasarnya mengintegrasikan seluruh faktor dalam interrelasi dan interdependensi secara holistik, untuk mencapai tujuan pengelolaan secara efektif. Model kelembagaan berguna untuk mendukung model manajemen secara lebih rinci dalam hal integrasi aktor-aktor dalam aktivitas yang harus dilakukan. Model-model ini telah divalidasi dengan face validation dan dinilai bermanfaat untuk pengelolaan dan bahkan program perubahan kultur di Bank Indonesia.
URI: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159232
Appears in Collections:DT - Business

Files in This Item:
File SizeFormat 
DMB211WGI.pdf
  Restricted Access
5.79 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.