Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/143327
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorHastono, Sugyo-
dc.contributor.authorTambunan, Saut-
dc.date.accessioned2024-03-25T07:22:48Z-
dc.date.available2024-03-25T07:22:48Z-
dc.date.issued1982-
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/143327-
dc.description.abstractTujuan penulisan ini ialah membicarakan mekanisme terjadinya aflatoksikosis pada ternak. Aflatoksikosis pertama kali dilaporkan pada kalkun, tetapi kemudian juga terjadi pada ternak lain. Aflatoksin penyebab aflatoksikosis dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus yang termasuk kelas Deuteromycetes. Ada dua golongan kristal aflatoksin yaitu biru (blue) dan hijau (green), stabil terhadap pemanasan tetapi dapat rusak oleh oksidator kuat. Tulisan ini merupakan tinjauan pustaka. Aflatoksin merupakan racun bagi ternak dan dapat menimbulkan kanker pada hati, namun demikian juga menyerang organ tubuh lain. Gejala yang ditimbulkan oleh aflatoksikosis ini bervariasi menurut dosis racun yang termakan, jenis hewan, umur, kelamin, kondisi dan komposisi makanan, frekuensi mengkonsumsi aflatoksin dan lamanya toksin ini berada di dalam tubuh. Kelainan histopatologik yang berupa hiperplasia saluran empedu adalah hal yang selalu ada pada aflatoksikosis.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcTinjauan tentang mekanisme aflatoksikosis pada ternakid
dc.titleTinjauan tentang mekanisme aflatoksikosis pada ternakid
dc.typeUndergraduate Thesisid
Appears in Collections:UT - Veterinary Clinic Reproduction and Pathology

Files in This Item:
File SizeFormat 
B82sta.pdf
  Restricted Access
6.15 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.