Please use this identifier to cite or link to this item:
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/139560Full metadata record
| DC Field | Value | Language |
|---|---|---|
| dc.contributor.advisor | Partodihardjo, Soebadi | - |
| dc.contributor.author | Saragih, Lamseng | - |
| dc.date.accessioned | 2024-02-22T03:04:24Z | - |
| dc.date.available | 2024-02-22T03:04:24Z | - |
| dc.date.issued | 1987 | - |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/139560 | - |
| dc.description.abstract | Pemeriksaan kebuntingan (PKB) diperlukan untuk memastikan apakah seekor ternak (sapi perah) bunting atau tidak setelah dikawinkan. PKB pada sapi dapat dilakukan melalui palpasi rektal terhadap korpus luteum (KL), pal- pasi rektal terhadap uterus dan isinya 60 hari setelah dikawinkan (IB) dengan ketepatan 95%, dan melalui pengukuran kadar progesteron dengan teknik radioimmunoassay (RIA) 21 - 24 hari setelah di IB melalui plasma darah dengan ketepatan 90% (Toelihere, 1985). Progesteron merupakan hormon reproduksi yang diproduksi KL dan plasenta dalam jumlah banyak pada sapi bunting, dan sedikit pada sapi tidak bunting. Memiliki berat molekul 300 - 400, termasuk kedalam kelompok hormon steroid. Atas dasar-dasar inilah PKB dilakukan. (Zarrow, 1968). Dasar-dasar teknik RIA diperkenalkan oleh Berson dan Yalow (1959) dalam pengukuran kadar insulin yang dilabel (ditandai) dengan radioaktif. Merupakan suatu analisa in vitro, berdasarkan reaksi ikatan antara antigen/hapten dengan antibodi spesifik, dan mampu mengukur kadar hormone sampai 10 pikogram/ml sampel (piko = 10-12). Hapten ada- lah suatu bahan yang tidak bersifat immunogenik, tetapi memiliki struktur yang khas, sehingga mampu berikatan de- ngan antibodi. Prinsip umum teknik RIA adalah persaingan antara hormon yang dilabel dengan yang tidak (sampel dan standar) untuk berikatan dengan antibodi. Dalam pengu- kuran progesteron, hormon tersebut bertindak sebagai hap- ten (Eisen, 1973; Niswender & Nett dalam Cole, 1977). Hormon yang dilabel diperoleh melalui proses radio- iodinasi dengan unsur 1125 atau 3 (tritium), dengan tek- nik Chloramin-T yang sering dipakai. Untuk pemakaian praktis, hormon yang dilabel dapat diperoleh sebagai ba- rang dagang yang disebut dengan Kit (Heap et al., 1981; Hunter dalam Weir, 1979). PKB melalui pengukuran kadar progesteron dapat dila- kukan melalui air susu atau darah. Sampel air susu lebih menguntungkan, karena pengambilan yang lebih mudah dan tidak perlu penambahan antikoagulan, dan kadar progeste- ron yang lebih tinggi dibanding darah (Scaramuzzi et al., 1981). Teknik ini telah dimanfaatkan secara komersil di….dst | id |
| dc.language.iso | id | id |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.subject.ddc | Aplikasi teknik radioimmunoassay sebagai alat pemeriksaan kebutuhan pada sapi melalui pengukuran kadar progesteron di dalam air susu | id |
| dc.title | Aplikasi teknik radioimmunoassay sebagai alat pemeriksaan kebutuhan pada sapi melalui pengukuran kadar progesteron di dalam air susu | id |
| dc.type | Undergraduate Thesis | id |
| Appears in Collections: | UT - Veterinary Clinic Reproduction and Pathology | |
Files in This Item:
| File | Size | Format | |
|---|---|---|---|
| B87lsa.pdf Restricted Access | 4.7 MB | Adobe PDF | View/Open |
Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.