Please use this identifier to cite or link to this item:
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/132335| Title: | Morfometri Kelompok Itik Cihateup pada Masa Pertumbuhan |
| Authors: | Mansjoer, Hj. Sri Supraptini Wulandari, Wahyuni Amelia Kurniawan, Iyan |
| Issue Date: | 2005 |
| Publisher: | Bogor Agricultural University (IPB) |
| Abstract: | Itik merupakan unggas air dengan produksi telur dan daging yang baik. Salah satu contoh itik Iokal adalah itik Cihateup. Itik Cihateup merupakan itik yang berasal dari Desa Cihateup, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Salah satu upaya pemuliaan itik adalah melalui seleksi, yang didasarkan dengan pengukuran bentuk tubuhnya (morfometri), sebagai !criteria seleksi. Morf ometri adalah pengukuran bentuk yang dilakukan pada tubuh suatu spesies. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan inf ormasi karakter istik morfometri itik Cihateup pada masa pertumbuhan. Pada pengamatan karakteristik pertumbuhan, anak itik ditimbang untuk mengetahui bobot Day Old Duckling. Bobot badan ditimbang setiap satu minggu sekali sampai dengan umur 16 minggu. Pengamatan ukuran tubuh melipuri pengukuran panjang paruh, lebar paruh, panjang kepala, tinggi kepala, Panjang leher, panjang punggung, panjang tulang dada, panjang sayap, panjang femur, panjang tibia, panjang tarsornetatarsus, lingkar tarsometatarsus dan panjang jari ketiga. Pengukuran dilakukan pada bagian tubuh sebelah kanan, pada saat itik berusia 4-16 minggu. Konsumsi pakan yang diamati adalah konsumsi pakan mingguan. Konversi pakan dihitung dengan membagi jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan per minggu. Untuk membedakan ukuran dan bentuk tubuh itik jantan dan betina digunakan Uji-t, kemudian dilanjutkan dengan Analisis Komponen Utama untuk mereduksi data dan menginterprestasikannya. Pertumbuhan itik jantan cenderung lebih besar dibandingkan itik betina. Walaupun secara statistik tidak berbeda nyata dengan perbandingan (bobot akhir bobot awal) jantan 1476 g dan betina 1352,67 g.·Hasil pengamatan konsumsi pakan itik jantan (13.005,00 g) lebih besar dibandingkan dengan itik betina (12.224,46 g), walaupun secara statistik tidak berbeda nyata. Dilihat dari konversi pakan, itik jantan (8,81) cenderung lebih rendah daripada itik betina (9,03), namun secara statistic tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Pada semua peubah yang diamati, itik jantan mempunyai ukuran lebih besar dibandingkan itik betina. Dari koefisien keragamannya, itik jantan lebih seragam daripada itik betina. Berdasarkan persamaan ukuran, panjang leher memberikan sumbangan terbesar terhadap diskriminasi ukuran tubuh, hal tersebut menunjukkan bahwa semakin panjang leher maka ukuran tubuh semakin besar. Panjang sayap memberikan pengaruh paling besar terhadap kontribusi bentuk tubuh, hal tersebut menunjukkan bahwa semakin panjang sayap maka bentuk tubuh semakin besar. Berdasarkan vektor bentuk, kelompok itik jantan dan betina terletak pada wilayah yang hampir sama. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk itik jantan dan itik betina hampir sama, namun dari besar ukuran tubuh itik jantan dan betina berbeda. |
| URI: | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/132335 |
| Appears in Collections: | UT - Animal Production Science and Technology |
Files in This Item:
| File | Description | Size | Format | |
|---|---|---|---|---|
| D05iku.pdf Restricted Access | Fulltext | 3.89 MB | Adobe PDF | View/Open |
Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.