Hijau dalam Perkembangan Wilayah di Kota Depok
View/ Open
Date
2019Author
Nugroho, Setyo
Murtilaksono, Kukuh
Soma, Soekmana
Metadata
Show full item recordAbstract
Kota Depok telah menjadi salah satu kota yang pesat pertumbuhan
ekonominya di Provinsi Jawa Barat. Laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini
dapat terjadi saat keterkaitan antar sektor cukup berkembang. Namun
pertumbuhan tersebut juga memiliki dampak buruk terhadap lingkungan.
sehingga diperlukan pengembangan fasilitas agar tercipta kualitas kehidupan yang
baik. Keadaan ini menjadikan aspek lingkungan perlu diperhatikan untuk
menciptakan pembangunan ekonomi wilayah yang berkelanjutan dengan
menggunakan PDRB hijau sebagai instrumennya.
Penelitian ini memiliki tujuan: (1) mengkaji tingkat perkembangan wilayah
di Kota Depok, (2) mengkaji keterkaitan antar sektor yang terjadi dalam
perekomian di Kota Depok, dan (3) Melakukan perhitungan PDRB Hijau untuk
arahan pengembangan wilayah di Kota Depok. Alat analisis yang digunakan
berupa perangkat lunak ArcGIS 10.2 dan Microsoft Excell. Metode skalogram
untuk mengetahui tingkat perkembangan wilayah. Analisis input output untuk
mengkaji keterkaitan antar sektor ekonomi, selain itu untuk mengetahui sektor
pemimpin dalam pembangunan ekonomi di Kota Depok. Adapun PDRB hijau
diperoleh dengan menghitung deplesi sumberdaya alam dan degradasi lingkungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65,08 persen kelurahan di Kota Depok
dapat ditetapkan sebagai wilayah hinterland, sedangkan kelurahan lainnya dapat
ditetapkan sebagai wilayah inti yang sebagian besarnya berkumpul di sekitar
wilayah strategis ekonomi. Hasil analisis backward lingkage diketahui bahwa
sektor penyedia input sebagian besar berhubungan dengan sektor perdagangan,
sedangkan melalui analisis forward lingkage menunjukkan bahwa sektor
pengguna input, banyak terhubung dengan sektor listrik, gas dan air minum.
Namun, sektor listrik, gas, dan air minum yang hanya dapat ditetapkan sebagai
sektor kunci pembangunan ekonomi Kota Depok. Agar berwawasan lingkungan,
dilakukan perhitungan PDRB hijau untuk mengetahui dampak kegiatan ekonomi
terhadap lingkungan hidup. Nilai PDRB hijau di Kota Depok tahun 2017 sebesar
55.733,71 miliar rupiah, selisih sebesar 2.610,78 miliar rupiah atau 4,47 persen
lebih rendah daripada PDRB Coklat yang sebesar 58.344,49 miliar rupiah. Selisih
nilai PDRB tersebut dibandingkan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
sebesar 1.210,75 miliar rupiah akan mengurangi seluruh pendapatan murni Kota
Depok. Oleh karena itu, PDRB hijau lebih relevan untuk dijadikan indikator
ekonomi karena lebih menggambarkan nilai kesejahteraan seutuhnya.
Pengembangan wilayah berwawasan lingkungan Kota Depok dapat
dilakukan melalui mitigasi kerusakan lingkungan hidup yang setara dengan selisih
nilai PDRB coklat dan PDRB hijau, meliputi: 1) pengembangan wilayah dengan
memperhatikan kualitas lingkungan yang setara pemenuhan UPS senilai 612,45
miliar rupiah dan pengembangan PLTSa senilai 1.264,62 miliar rupiah dan 2)
pengembangan wilayah dengan memperhatikan sumberdaya alam yang dapat
dilakukan melalui revitalisasi situ senilai 733,71 miliar rupiah.
Collections
- MT - Agriculture [4005]
