Analisis Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a, Hubungannya dengan Hasil Tangkapan Madidihang (Thunnus albacares) di Perairan Selatan Sulawesi Tenggara
Date
2005Author
Alimina, Naslina
Siregar, Vincentius Paulus
Simbolon, Domu
Metadata
Show full item recordAbstract
Saat ini citra satelit telah banyak digunakan sebagai acuan dalam pendeteksian daerah penangkapan ikan pelagis termasuk madidihang (Thammar albacares) berdasarkan karateristik suha permukaan laut (SPL), upwelling, front dan klorofil-a. Penggunaan citra membutuhkan validasi dalam aplikasinya terutama untuk perairan pedalaman yang memiliki karakter tersendiri seperti perairan selatan Sulawesi Tenggara. Perairan ini terletak di antara Laut Flores dan Laut Banda yang secara ekologis memiliki peranan penting karona diduga merupakan tempat bertemunya atau melintasnya madidihang dari Samudera Pasifik dan Samudera Hindia (Suda 1971, diacu dalam Burhanuddin 1984). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) Mengetahui sebaran SPI. dan klorofil-a di perairan selatan Sulawesi Tenggara, 2) Mendeteksi posisi dan waktu terjadinya upwelling dan front, 3) Menentukan hubungan antara SPL, klorofil-a, upwelling dan front terhadap hasil tangkapan. Pendeteksian SPL., upwelling dan front dengan menggunakan citra NOAA-16/AVHRR, klorofil-a dan tinggi muka laut dengan citra MODIS. Data musim dan hasil tangkapan diperoleh melalui perusahaan pengumpul dan wawancara dengan nelayan. Data lokasi dengan peninjauan langsung ke lapangan. Rata-rata SPL. dominan tertinggi terjadi pada bulan April, terendah bulan Agustus. Rata-rata SPL dominan pada musim barat, peralihan 1, musim peralihan II adalah 29.44°C, 29.24°C, 29.37°C. Nilai tersebut hampir sama sepanjang tahun kecuali pada musim timur di mana terjadi penurunan sekitar 1°C dibandingkan dengan musim-musim yang lain. Konsentrasi klorofil-a mulai meningkat pada musim peralihan I dengan rata-rata 0,25 mg/m³ dan mencapai nilai tertinggi pada musim timur dengan rata-rata 0,55 mg/m². Front ditemukan di sekitar Karang Kapota dan Karang Kaledupa (5°30'-6°00'15,123°20'-123°55'BT) sekitar Agustus-Desember, di antara Tanjung Kasolanatumbi dan Pulau Wangi-wangi (5°15'LS, 123°10'-123°30'BT) sekitar September-Desember dan Februari-Maret, di sekitar Pulau Siompu dan Pulau Kabeena (5°45'LS, 122°0-122°50′BT) bulan Agustus-Oktober. Upwelling dideteksi terjadi pada bulan Juni-September di sekitar Pulau Kabeena dan Pulau Siompu (5°30'-6°00' LS, 122°0-122°50'BT). Tangkapan Per Unit Usaha (CPUE) madidihang dengan berst lebih dari 10 Kg/ekor (madidihang besar) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan SPL. CPUE madidihang dengan berat kurang dari 10 Kg/ekor (madidihang kecil) memiliki hubungan negatif signifikan dengan SPL. Preferensi SPL, madidihang kecil berada kisaran 27-29°C. Peningkatan hasil tangkapan terjadi pada bulan bulan sebelum atau setelah terjadinya front. Upwelling memberikan kontribusi terhadap CPUE melalui peningkatan kesuburan perairan. Konsentrasi klorofil-a dan CPUE madidihang memperlihatkan hubungan positif yang signifikan dengan konsentrasi klorofil-a. CPUE tertinggi madidihang besar terjadi pada konsentrasi klorofil-a 0,55 mg/m³, sedangkan madidihang kecil pada konsentrasi klorofil-a 0,35 mg/m³.
Collections
- MF - Fisheries [3366]


