Penilaian Perikanan Lobster dengan Pendekatan Ekosistem di Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
View/ Open
Date
2017Author
Rombe, Katarina Hesty
Wardiatno, Yusli
Adrianto, Luky
Metadata
Show full item recordAbstract
Lobster merupakan salah satu komoditas perikanan yang masuk dalam kategori potensial dan ekonomis penting. Pada perikanan Palabuhanratu, harga lobster bisa mencapai Rp. 600.000 per kg. Ecosystem approach to fishery management (EAFM) merupakan suatu pendekatan yang dianggap mampu mencapai tujuan pengelolaan sumberdaya perikanan, yaitu meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat. Saat ini, pemanfaatan sumberdaya perikanan dirasa lebih besar dibandingkan dengan usaha meningkatkan kesehatan ekosistem sumberdaya. Dimana pada dasarnya, ekosistem yang sehat akan menghasilkan sumberdaya yang melimpah untuk dimanfaatkan kembali.
Penelitian ini dilaksanakan dengan dua tujuan utama, yaitu (1) untuk mendiagnosis perikanan lobster di Teluk Palabuhanratu berdasarkan domain EAFA (Ecosystem approach to fishery assessment) dan (2) menilai keragaan perikanan lobster di Teluk Palabuhanratu dengan pendekatan ekosistem. Penelitian ini dilakukan selama bulan Maret 2016 di Palabuhanratu. Penelitian ini menggunakan domain dan indikator pendekatan ekosistem, yaitu domain sumberdaya, domain habitat, domain sosial, dan domain ekonomi. Masing-masing indikator dari domain akan di-scoring sesuai dengan tabel kriteria yang tersedia. Selanjutnya, pada hasil akhir akan muncul penilaian yang menggambarkan status risiko masing-masing lobster yang diteliti. Penilaian tersebut meliputi, Objective risk index (ORI), species risk index (SRI), dan fishery risk index (FRI). Ketiga penilaian tersebut diplot ke dalam diagram risiko merah-kuning-hijau yang akan memudahkan interpretasi risiko jenis lobster.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima jenis lobster yang umum diperjualbelikan di Palabuhanratu, yaitu P. homarus, P. versicolor, P. ornatus, P. penicillatus, dan P. longipes. P. homarus merupakan jenis yang paling dominan tertangkap nelayan. Terkait ukuran lobster, masih banyak ditemukan lobster yang tertangkap di bawah ukuran layak tangkap, yaitu <200 gr. Alat tangkap yang umum digunakan oleh nelayan lobster adalah jaring dan bubu. Hasil tangkapan per usaha menurun terutama untuk jenis P. homarus yang mengindikasikan bahwa terjadi usaha tangkap berlebih dan stok lobster di perairan berkurang. Hasil analisis TSS dan klorofil-a menunjukkan bahwa nilai kualitas air masih cukup baik untuk lobster, yaitu TSS, 4-13 mg/L dan klorofil-a, 1.763-2.517 μg/L. Hasil wawancara dengan para stakeholder menunjukkan bahwa minimnya partisipasi stakeholder dalam pendataan hasil tangkapan lobster yang mengakibatkan banyak lobster di bawah ukuran layak tangkap diperjualbelikan. Pendapatan nelayan lobster Palabuhanratu masih jauh dari UMR, yaitu Rp. 1.800.000 per bulan. Dimana pendapatan nelayan rata-rata perbulan, yaitu Rp. 500.000.
Pada diagram ORI, P. homarus, P. versicolor masuk dalam zona merah yang mengindikasikan P. homarus, P. versicolor masuk dalam risiko tinggi sedangkan dua lobster lainnya, yaitu P. ornatus dan P. penicillatus masuk dalam zona kuning dan hijau, yang mengindikasikan P. ornatus dan P. penicillatus masuk dalam risiko sedang sampai baik. P. homarus, P. versicolor, P. ornatus dan
P. penicillatus masuk dalam kategori risiko sedang pada diagram SRI. Pada diagram FRI, perikanan lobster Palabuhanratu masuk dalam kategori risiko sedang. Beberapa tactical decision yang perlu diberlakukan dalam perikanan lobster Palabuhanratu, yaitu pembatasan usaha tangkap P. homarus dan melarang penggunaan jaring dengan ukuran mata jaring terlalu kecil, memberlakukan pendataan ukuran lobster, membuat bak penampungan untuk lobster yang masih di bawah ukuran layak tangkap, mengontrol buangan limbah di sekitar lokasi tangkap, dan mengontrol kualitas air secara berkala.
Collections
- MT - Fisheries [3214]
