View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - School of Veterinary Medicine and Biomedical Science
      • UT - Veterinary Clinic Reproduction and Pathology
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - School of Veterinary Medicine and Biomedical Science
      • UT - Veterinary Clinic Reproduction and Pathology
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Studi Kasus tentang Eosinofilik Ganuloma Komplek pada Kucing.

      Thumbnail
      View/Open
      Full text (14.17Mb)
      Date
      2016
      Author
      Jayaraj, Krishnaveni
      Widodo, Setyo
      Wulansari, Retno
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Eosinophilic granuloma kompleks (F-EGC) muncul sebagai beberapa gejala klinis yang berbeda, walaupun secara histopatologi mereka serupa. Istilah „feline eosinophilic skin diseases‟ dan „eosinophilic dermatoses‟ telah diusulkan sebagai alternatif untuk F-EGC pada premis bahwa mereka mungkin lebih baik digambarkan sebagai sekelompok penyakit kulit yang tidak selalu granulomatosa dan mungkin memiliki berbagai etiologi. Eosinofilik granuloma kompleks pada kucing merupakan istilah yang dapat membedakan tiga tipe sindrom yang hampir mirip. Yang pertama adalah eosinofilik granuloma (EG), yang merupakan massa atau nodular lesi yang mengandung eosinofil dan biasanya ditemukan di bagian belakang paha, di wajah, atau di mulut. Gejala kedua adalah eosinophilic plaque (EP), di mana pada permukaan kulit terdapat plak yang kelihatan agak menonjol ke atas, bulat atau oval dan lesi ini sering diikuti dengan ulserasi, biasanya terletak di perut atau paha,. Lesi ini berisi sel darah putih yang disebut eosinofil. Ulcer indolent (IU) merupakan ulserasi lesi dan paling sering ditemukan pada bibir atas. Gejala-gejala klinis ini dapat muncul hampir di mana saja pada tubuh kucing yang menandai munculnya suatu kondisi yang disebut secara luas sebagai F-EGC. Hal ini dianggap sebagai pola reaksi kulit yang dapat menjadi manifestasi dari sejumlah infeksi yang mendasari, alergi atau infestasi ektoparasit. Dalam studi kasus ini, 13 kucing yang mempunyai gejala F-EGC telah dirawat di klinik Setyo Widodo dkk. Dari data yang diperoleh, sebagian besar kucing yang telah dirawat memperoleh benjolan / butiran di bagian belakang mereka. Sepuluh dari 13 kucing yang dirawat menunjukkan gejala EG, 3 kucing memiliki IU dan tidak ada yang menunjukkan gejala mirip dengan EP. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa jenis FEGC yang paling umum yang telah dirawat di klinik Setyo Widodo dkk adala eosinofilik granuloma. Eosinofilik granuloma tidak dianggap sebagai penyakit yang fatal dan dapat diobati dengan antibiotik dan obat anti-inflamasi.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/84921
      Collections
      • UT - Veterinary Clinic Reproduction and Pathology [2186]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository