Penerapan Peremajaan Kelapa Sawit Di Provinsi Jambi.
View/Open
Date
2015Author
Anggreany, Shinta
Muljono, Pudji
Sadono, Dwi
Metadata
Show full item recordAbstract
Upaya percepatan pengembangan perkebunan rakyat dalam program revitalisasi perkebunan dilakukan melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi tanaman perkebunan. Peremajaan merupakan upaya untuk mempertahankan eksistensi, produksi dan produktivitas serta solusi untuk mengatasi permasalahan tanaman kelapa sawit yang telah memasuki masa tidak produktif (di atas 25 tahun). Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi merupakan tempat pertama kali dilakukannya peremajaan di Provinsi Jambi dan sebagian besar petani eks Transmigran menghadapi permasalahan dalam peremajaan kebun kelapa sawitnya. Tahun 2011 dikembangkan sebuah inovasi peremajaan berupa program demplot peremajaan dan petani diharapkan mau menerapkan sistem peremajaan tumpang sari yang dianjurkan oleh pemerintah, agar petani tidak kehilangan mata pencahariannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat persepsi petani terhadap penerapan peremajaan kelapa sawit, menganalisis hubungan antara faktor internal dan eksternal petani dengan persepsi petani terhadap inovasi peremajaan dan penerapan peremajaan kelapa sawit, menganalisis hubungan persepsi petani terhadap inovasi peremajaan dengan penerapan peremajaan kelapa sawit di Provinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan unit analisis yaitu individu dan dilaksanakan di Desa Marga Mulya dan Desa Mekar Sari, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 83 orang dan merupakan petani yang telah melaksanakan peremajaan kelapa sawit dan merupakan petani eks Transmigran. Metode analisis data yang digunakan adalah teknik analisis statistik deskriptif dan korelasional. Analisis statistik deskriptif dilakukan untuk menganalisis persepsi terhadap penerapan peremajaan, tingkat partisipasi dan korelasi rank Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan antara peubah independent dengan dependent. Peremajaan kelapa sawit dipersepsikan oleh petani cukup menguntungkan dan cukup mudah diamati hasilnya, namun sulit untuk diterapkan, tidak sesuai dengan kebutuhan petani dan kurang dapat dicoba dalam skala kecil. Penerapan peremajaan kelapa sawit pada aspek teknik budidaya termasuk dalam kategori sedang dimana sebagian besar petani melakukan dan menerapkan sistem peremajaan, namun tidak menerapkan secara keseluruhan teknik budidaya sesuai dengan yang dicontohkan pada demplot peremajaan. Mayoritas petani melakukan peremajaan dengan sistem sisip. Pada aspek pencatatan dan pengaturan keuangan termasuk dalam kategori rendah karena petani tidak melakukan pencatatan dan pengaturan keuangan dengan baik. Petani tidak terbiasa melakukan pencatatan dan pengaturan keuangan yang tidak dianggap penting bagi petani. Faktor internal yang berhubungan dengan persepsi petani terhadap inovasi peremajaan kelapa sawit yaitu pada umur dengan keuntungan relatif, jumlah tanggungan keluarga dengan tingkat triabilitas, motivasi berusahatani dengan tingkat kompleksitas dan motivasi berusahatani dengan tingkat triabilitas. Faktor eksternal yang berhubungan dengan persepsi terhadap inovasi peremajaan kelapa sawit adalah tingkat ketersediaan sarana produksi dengan tingkat triabilitas, frekuensi kegiatan penyuluhan dengan tingkat kompatibilitas, frekuensi kegiatan penyuluhan dengan tingkat triabilitas, tingkat akses informasi dengan tingkat triabilitas dan dampak perkebunan besar dengan tingkat triabilitas. Faktor internal dan eksternal berhubungan dengan penerapan peremajaan kelapa sawit (teknik budidaya serta pencatatan dan pengaturan keuangan) adalah pada aspek frekuensi kegiatan penyuluhan dengan aspek teknik budidaya. Faktor internal yang tidak berhubungan dengan penerapan peremajaan kelapa sawit adalah umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan dan motivasi berusahatani. Faktor eksternal yang tidak berhubungan dengan penerapan peremajaan kelapa sawit adalah ketersediaan sarana produksi, akses informasi dan dampak perkebunan besar. Petani yang mengetahui banyak hal tentang peremajaan tumpang sari justru tidak menerapkan sistem peremajaan tersebut, petani lebih memilih sistem sisip yang dianggap paling sesuai dengan kondisi petani pada saat ini. Persepsi petani terhadap inovasi peremajaan kelapa sawit (tingkat keuntungan relatif, tingkat kompleksitas, tingkat kompatibilitas, tingkat triabilitas dan tingkat observabilitas) berhubungan tidak nyata dengan penerapan peremajaan kelapa sawit, baik pada aspek teknik budidaya maupun pencatatan dan pengaturan keuangan. .
Collections
- MT - Human Ecology [2270]