Tanggap pegagan (Cantella asiatica L. Urban) yang dibudidayakan secara ratoon terhadap waktu dan dosis pemupukan N dan K
Abstract
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu, dosis pupuk N dan K terhadap produksi pegagan yang dibudidayakan secara ratoon. Percobaan terdiri dari tiga faktor yang disusun secara faktorial dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Faktor pertama, yaitu waktu pemberian pupuk terdiri dari empat taraf: 2, 3, 4 dan 5 kali (W2, W3, W4 dan W5). Faktor kedua dosis pupuk N terdiri dari tiga taraf, yaitu: 0, 80 dan 160 N/ha (N0, N1 dan N2). Faktor ketiga dosis pupuk K, terdiri dari dua taraf yaitu: 0 dan 300 kg K2O/ha (KO dan K1).
Hasil percobaan menunjukkan bahwa waktu pemberian pupuk dua kali (W2) menghasilkan bobot basah total tertinggi hingga panen keempat (umur 22 MST) yaitu: 23.06 ton. diikuti W5 (21.91 ton)., W3 (21.82 ton) dan terendah W4 (20.48 ton/ha).
Bobot basah dan bobot kering panen total pegagan hingga panen keempat (umur 22 MST) tidak dipengaruhi oleh waktu pemupukan, dosis N dan K maupun interaksi dari ketiga factor yang dicobakan. Pemupukan N hanya berpengaruh terhadap bobot kering panen I (umur 10 MST) dengan hasil tertinggi pada perlakuan N2 (0.65 ton), diikuti N1 (0.61 ton) dan terendah tanpa N (NO) yaitu: 0.54 ton/ha.
I Kandungan N (daun dan tangkai) pegagan panen I dan II (umur 10 dan 14 MST) tertinggi 3.43% dan terendah 3.15%., sedangkan kandungan K tertinggi Kl (5.49%) dan terendah KO sebesar 5.09%.. Pemupukan K hanya mempengaruhi kandungan (daun dan tangkai) pada panen IV. Namun walaupun tidak berbeda nyata rata-rata kandungan K tertinggi diperoleh pada panen (10 MST) pada perlakuan N1 (6.20%) dan terendah pada N2 (5.99%). Pemupukan K hanya mempengaruhi kandungan (daun dan tangkai) pada panen IV. Namun walaupun tidak berbeda nyata rata-rata kandungan K tertinggi diperoleh pada panen 1 (10 MST) pada perlakuan N1 (6.20%) dan terendah pada N2 (5.99%). Sedangkan kandungan asiatikosida dipengaruhi oleh dosis pupuk dan umur panen, yaitu pada panen I (10 MST) terendah 0.55% (W3N0K1) dan tertinggi 0.96% (W5NIK1), sedangkan pada panen II (14 MST) terendah 0.82% (W4N2K0) dan tertinggi 1.01% (W5N1K0)
Dengan cara panen bertahap secara ratoon, yakni melakukan panen I, II, III, dan IV (umur 10, 14, 18 dan 22 MST) diperoleh rata-rata total produksi (bobot basah maupun bobot kering) dua kali lebih tinggi dibanding dengan panen. sekaligus pada umur 22 MST.
Collections
- MF - Agriculture [4156]


