Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Keragaan Pasar Kerja dan Migrasi pada Periode Krisis dan Sebelum Krisis Ekonomi di Indonesia

Date
2002Author
Hadi, Supri
Sinaga, Bonar M.
Mangkuprawira, Sjafri
Ratnawati, Anny
Metadata
Show full item recordAbstract
Terpeliharanya stabilitas nasional telah mernbawa Indonesia pada kebebilan mengatasi berbagai masalah mendasar pembangman ekonomi. Namun pada tahun 1997 telah terjadi krisis ekonomi, dimana secara makro mempengamhi permintam dan penawaran agregat. Terpeliharanya stabilitas nasional telah membawa Indonesia pada keberhasilan mengatasi berbagai masalah mendasar pembangunan ekonomi. Namun pada tahun 1997 telah terjadi krisis ekonomi, dimana secara makro mempengaruhi permintaan dan penawaran agregat. Dari sisi penawaran agregat, dampak krisis dapat dikaji dengan melihat keragaan pasar kerja dan migrasi, yaitu menurunnya kesempatan kerja, meningkatnya jumlah pengangguran di perkotaan, naiknya pangsa sektor pertanian dalam penyerapan tenagakerja, munculnya added-worker dan discourage-worker serta terjadinya mobilitas penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keragaan pasar kerja meliputi tingkat partisipasi kerja, kesempatan kerja sektoral, pengangguran, upah riil sektoral, produktivitas pekerja sektoral dan pendapatan regional sektoral, (2) menganalisis terjadinya added-worker effect dan discourage-worker effect, (3) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi migrasi, dan (4) menganalisis dampak kebijakan pemerintah dan faktor eksternal terhadap keragaan pasar dan migrasi di Indonesia berdasarkan disagregasi wilayah, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan sektoral pada periode krisis dan sebelum krisis ekonomi.
Analisis mempergunakan model ekonometrika keragaan pasar kerja dan migrasi pada periode krisis dan sebelum krisis ekonomi di Indonesia dalam bentuk persamaan simultan. Data yang digunakan adalah time-series dari tahun 1990-1999 seluruh propinsi di Indonesia kecuali DKI dan Timor Timur. Model diduga dengan metode Two Stage Least Squares (2 SLS) dan pengolahan data dilakukan dengan program komputer SAS/ETS Version 6.12.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan, jenis kelamin dan wilayah responsif terhadap jumlah penduduk baik pada usia produktif maupun usia belum produktif dan tingkat partisipasi kerja. Upah bukan merupakan faktor utama yang mendorong peningkatan partisipasi kerja. Partisipasi kerja pada periode krisis lebih besar dibandingkan sebelum krisis ekonomi. Peningkatan added-worker berdasarkan jenis kelamin dan wilayah dipengaruhi secara nyata oleh peubah jumlah penduduk yang masuk ke pasar kerja dengan alasan membantu ekonomi rumahtangga dan menambah penghasilan, serta dengan alasan tamat/putus sekolah. Sedangkan peningkatan discourage-worker dipengaruhi oleh peubah jumlah pengangguran.
Peningkatan kesempatan kerja sektoral berdasarkan jenis kelamin dan wilayah responsif terhadap perubahan pendapatan regional sektoral, program dana pembangunan, dan memiliki respon negatif terhadap penggunaan mesin industri, traktor serta program pemberdayaan masyarakat dalam rangka menanggulangi dampak krisis ekonomi. Kesempatan kerja sektor industri pada periode sebelum krisis lebih besar dibandingkan periode krisis ekonomi, sebaliknya kesempatan kerja sektor pertanian dan jasa merupakan 'katup pengaman pada periode krisis ekonomi.
Migrasi dari desa ke kota responsif terhadap perubahan upah riil sektor industri, sebaliknya migrasi dari kota ke desa responsif terhadap perubahan jumlah penduduk laki-laki usia produktif di perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan untuk bermigrasi ke kota lebih disebabkan oleh faktor penarik dari kota, sedangkan keputusan untuk bermigrasi ke desa lebih disebabkan oleh faktor pendorong dari kota.
Kombinasi peningkatan Program Dana Padat Karya, Program Dana Pembangunan, Konsumsi Kalori dan Investasi Sektoral memberikan dampak paling baik terhadap keragaan pasar kerja dan migrasi pada periode krisis dan sebelum krisis ekonomi di Indonesia. Sedangkan kombinasi penghapusan Program Inpres Sarana Kesehatan dan Program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan memberikan dampak negatif terhadap keragaan pasar kerja dan migrasi pada periode krisis dan sebelum krisis ekonomi di Indonesia.
Collections
- MF - Economic and Management [3348]

