Pendugaan ketinggian planetary boundary layer (pbl) di beberapa lokasi di wilayah indonesia menggunakan metode empiris
Abstract
Pendugaan ketinggian pbl dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode empiris diantaranya, gradien suhu potensial, kelembaban spesifik, kelembabn relatif, profil refractiviti, elevated inversion (ei) dan surface-based inversion (sbi). Kelima metode (kecuali sbi) tersebut umumnya menghasilkan perkiraan ketinggian yang berbeda sampai beberapa ratus meter. Metode gradien kelembaban spesifik (q) dan kelembaban relatif (rh) secara konsisten menghasilkan perkiraan ketinggian pbl yang lebih tinggi dari yang lainnya sebesar ±3.6 km, sedangkan gradien suhu potensial menghasilkan ketinggian pbl yang lebih rendah dengan nilai rata-rata sebesar ±1.7 km. Pola musiman dan diurnal sering dikaitkan dengan fenomena iklim lokal, seperti radiasi gelombang panjang pada malam hari, inversi suhu dan konveksi tropis. Umumnya surface-based inversion (sbi) memiliki ketinggian yang lebih rendah dari ketinggian pbl. Sbi tidak terjadi di dua lokasi di wilayah indonesia pada pukul 00.00 utc sedangkan pada pukul 12.00 utc, sbi terjadi di delapan lokasi di wilayah indonesia. Menduga ketinggian pbl dengan menggunakan data radiosonde dipengaruhi kepekaan resolusi vertikal data radiosonde. Semakin tinggi resolusi data, ketinggian pbl yang dihasilkan lebih tinggi dan lebih akurat. Ketinggian pbl musiman dan harian antar metode dapat dievaluasi dengan menggunakan uji statistik t dan f. Median pendugaan ketinggian pbl antar metode sekitar 1-2 km.

