Peran Suhu dan Penambahan Magnesium dalam Meningkatkan Kinerja Pertumbuhan pada Pendederan Benih Ikan Tengadak (Barbonymus schwanenfeldii)

View/ Open
Date
2014Author
Susianti, Novi
Nirmala, Kukuh
Widiyati, Ani
Metadata
Show full item recordAbstract
Ikan tengadak (Barbonymus schwanenfeldii) merupakan jenis ikan endemik yang berasal dari Kalimantan dan Sumatera. Ikan tengadak merupakan salah satu komoditas lokal yang memiliki potensi untuk dijadikan sebagai ikan budi daya. Ikan tengadak pada ukuran benih dijadikan salah satu komoditas ikan hias. Dalam kegiatan budidaya ikan tengadak pertumbuhannya masih sangat rendah, hal ini diduga karena belum optimalnya kondisi lingkungan untuk mendukung kehidupan ikan tengadak. Pemberian rangsangan suhu media akan berpengaruh terhadap aktivitas enzim pencernaan. Aktivitas enzim ini mengakibatkan terjadinya pencernaan sehingga lambung menjadi kosong yang memacu ikan akan merasa lapar sehingga akan mendorong ikan melakukan aktivitas makan, dengan adanya aktivitas makan akan meningkatkan jumlah pakan yang dikonsumsi. Pakan yang dikonsumsi akan dicerna menjadi materi yang lebih sederhana dan selanjutnya akan diserap sehingga menghasilkan energi melalui proses metabolisme. Kelebihan energi tersebut akan digunakan untuk membangun jaringan baru yang berakibat pada pertumbuhan. Magnesium dibutuhkan untuk pemeliharaan intra dan ekstraseluler homeostasis pada ikan, berperan sebagai katalisator, elektrokimia dan pembentukan struktur jaringan. Tujuan menentukan suhu dan penambahan magnesium yang terbaik dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan pada pendederan benih ikan tengadak. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan tengadak berukuran panjang 2+0.03 cm dengan bobot 0.33+0.01 g. Pemeliharaan ikan uji dilakukan selama 40 hari, dengan kepadatan satu ekor L-1. Wadah penelitian berupa akuarium berukuran 60x40x40 cm yang diisi air dengan volume 70 liter. Pakan yang digunakan berupa cacing sutra (Tubifex sp.) segar dengan kandungan gizi : protein 47.23 %, lemak 10.52 %, karbohidrat 2.04 %, abu 3.32 %, kadar air 81.37 %, serat 1.03 % dan magnesium 55.13 mg kg-1. Pakan diberikan secara ad libitum sebanyak tiga kali sehari yaitu pagi, siang dan sore hari. Untuk menjaga agar kualitas air akuarium tetap baik, terbebas dari kotoran ikan maupun kotoran sisa pakan yang tidak termakan ikan dibersihkan dengan menggunakan filter spons. Filter menyedot air akuarium lalu menyaringnya didalam spons sehingga air akuarium kembali dalam keadaan bersih. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan tiga kali ulangan. Faktor yang digunakan yaitu tiga perlakuan suhu dengan masing-masing taraf 26 °C, 28 °C dan 30 °C dan empat perlakuan magnesium dengan masing-masing taraf 0, 10, 20 dan 30 mg L-1. Hasil penelitian menunjukkan rekayasa lingkungan budidaya dengan pengaturan suhu dan penambahan magnesium pada media pemeliharaan memberikan pengaruh yang nyata terhadap benih ikan tengadak (P<0.05). Suhu 28 °C dan penambahan magnesium 20 mg L-1 merupakan media pemeliharaan terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan pada pendederan benih ikan tengadak dimana tingkat konsumsi oksigen (0.31 ± 0.06 g mgO2 g-1 jam-1), ikan yang melawan arus (86.67 %), sintasan (95.24 ± 0.82 %), laju pertumbuhan bobot spesifik (8.75 ± 0.23 %), pertumbuhan bobot mutlak (9.47 ± 0.85 g), laju pertumbuhan panjang spesifik (1.60 ± 0.01 %), pertumbuhan panjang mutlak (1.78 ± 0.02 cm), kandungan magnesium di tulang (476.94 ± 1.99 mg kg-¹), ekskresi amonia (0.042+0,01 mg g-1jam-1) dan efesiensi pakan (42.74 ± 0.26 %) di capai maksimal.
Collections
- MT - Fisheries [3214]
