Sistem Pengelolaan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional (Studi Kasus: Taman Nasional Gunung Halimun)

Date
2002Author
Nugraheni, Endang
Mardiastuti, Ani
Suratmо, F. Gunarwan
Metadata
Show full item recordAbstract
Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) merupakan areal hutan hujan tropika seluas 40.000 hektar yang kaya dengan keanekaragaman hayati. Penduduk yang tinggal di wilayah tersebut adalah masyarakat Kasepuhan yang merupakan keturunan kerajaan Pajajaran, sejak 500 tahun yang lalu, dan para pekerja perkebunan teh sejak jaman penjajahan Belanda. Pada tahun 1995, dibangun projek ekowisata berbasis masyarakat dengan dana dari Biological Conservation Network. Adapun tujuan dari penelitian adalah untuk menyusun pola ekowisata yang lestari dan berbasis masyarakat, dengan harapan agar dapat dijadikan acuan bagi pengembangan ekowisata di tempat lainnya. Penelitian dilakukan di tiga pedesaan di sekitar pondok wisata yang sekarang dikelola masyarakat, yaitu di bagian utara, timur, dan selatan TNGH. Penelitian dilaksanakan dari Agustus 2000 sampai dengan Februari 2001. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal, yang berpartisipasi sejak dibangunnya pondok wisata, masih tetap melanjutkan kegiatan ekowisata, walaupun jumlah pengunjung belum sebanyak yang diharapkan. Pengembangan kegiatan ekowisata didasarkan pada prinsip penggabungan antara wisata alam, konservasi, dan partisipasi masyarakat. Pendapat masyarakat menyebutkan bahwa kegiatan ekowisata bermanfaat menambah penghasilan mereka, dan berharap agar di masa depan dapat terus berkembang. Walaupun ide utama pengembangan ekowisata datang dari luar komunitas, namun mereka kemudian berpartisipasi secara aktif, yang tergolong kepada partisipasi fungsional menurut Pretty (1995). Secara umum praktek ekowisata yang dievaluasi menurut kriteria yang dikemukakan oleh Wallace & Pierce (1996) adalah tergolong baik, walaupun diperlukan pula beberapa perbaikan.

