Keragaan Karakteristik Tegakan pada Hutan Tanaman Hopea mengarawan Miq. (30 dan 53 Tahun) di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Carita Propinsi Banten
Abstract
Hutan hujan tropika merupakan vegetasi klimaks di wilayah tropika dan merupakan tipe ekosistem yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi. Salah satu jenis pohon di hutan hujan tropika adalah Hopea mengarawan Miq. dengan nama umum merawan (Sumatera dan Kalimantan). Subyek pada penelitian ini merupakan tegakan H. mengarawan yang ditanam di Kebun Percobaan Carita pada tahun 1957 dan tahun 1980. Penelitian ini dilakukan menggunakan purposive sampling dengan unit contoh berupa petak berukuran 50 m x 50 m yang dibangun dihutan tanaman H. mengarawan berumur 30 tahun (HM 30) dan H. mengarawan 53 tahun (HM 53). Petak 50 m x 50 m tersebut dibagi ke dalam sub-sub plot 10 m x 10 m untuk pengamatan semai, pancang, tiang dan pohon. Dalam setiap petak diukur diameter dan tinggi pohon dari semua jenis pohon berikut permudaannya yang berasosiasi dengan tegakan H. mengarawan di lokasi penelitian. Berdasarkan kelas penutupan tajuk rapat, sedang dan jarang diambil beberapa anakan H. mengarawan yang terkolonisasi ektomikoriza, serasah di lantai hutan dan tanah. Analisis kolonisasi akar anakan H. mengarawan oleh ektomikoriza dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Konservasi Alam. Adapun analisis tanah dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah Departemen Manajemen dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB. HM 30 mempunyai jumlah jenis yang relatif lebih tinggi, kecuali pada tingkat semai (semai 15 jenis, pancang 19 jenis, tiang 11 jenis, pohon 10 jenis) dibandingkan dengan jumlah jenis pada HM 53 (semai 20 jenis, pancang 18 jenis, tiang 1 jenis, pohon 6 jenis). Pada tegakan HM 30, untuk tingkat pohon dan permudaannya didominasi oleh H. mengarawan, kecuali pada tingkat tiang. Adapun tegakan HM 53 tingkat permudaan pohonnya didominasi oleh jenis lain yaitu K. sinegalensis pada tingkat semai, Coffea sp. pada tingkat pancang dan G. gnemon pada tingkat tiang, sedangkan pada tingkat pohonnya didominasi oleh H. mengarawan. Sejalan dengan meningkatnya umur tegakan, kerapatan individu tumbuhan dalam hubungan dengan kelas diameter batang menyerupai kurva ”J” terbalik seperti terjadi pada hutan alam yang seimbang (unevenage balanced forest), baik pada HM 30 maupun HM 53. Umur pohon yang lebih tua pada tegakan HM 53 menghasilkan akumulasi serasah yang lebih banyak di lantai hutan dibandingkan akumulasi serasah pada tegakan HM 30. Hal ini menyebabkan tanah pada tegakan tersebut relatif lebih subur yang ditumbuhi oleh lebih banyak jenis ektomikoriza (7 jenis).
Collections
- UT - Silviculture [1442]
