View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Economic and Management
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Economic and Management
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Analisis peran gender dalam pencapaian ketahanan pangan rumahtangga petani di kabupaten Konawe Selatan provinsi Sulawesi Tenggara

      The analysis of gender roles in the achievement of food security in farm household levels at South Konawe district, south East Sulawesi

      Thumbnail
      View/Open
      full text (2.367Mb)
      Cover (315.5Kb)
      Abstract (302.0Kb)
      BAB I (331.9Kb)
      BAB II (514.8Kb)
      BAB III (416.1Kb)
      BAB IV (423.8Kb)
      BAB V (430.9Kb)
      BAB VI (432.4Kb)
      BAB VII (352.5Kb)
      BAB VIII (315.9Kb)
      Date
      2010
      Author
      Taridala, Sitti Aida Adha
      Harianto
      Siregar, Hermanto
      Hardinsyah
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Dua diantara delapan Tujuan Pembangunan Millenium (Millennium Development Goals, MDGs) adalah memerangi kelaparan dan memperbaiki ketimpangan gender. Ketahanan pangan menjadi semakin penting, karena pangan bukan hanya merupakan kebutuhan dasar (basic need), tetapi juga merupakan hak dasar (basic right) bagi setiap umat manusia yang wajib dipenuhi (Hariyadi, 2009). Dilihat dari aspek gender, pentingnya pencapaian kesetaraan peran perempuan dan laki-laki dalam pembangunan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai suatu negara, serta membaiknya kesejahteraan masyarakat. Leadbetter (2008) menegaskan bahwa manfaat ekonomi dari kesamaan gender akan meningkatkan output dan mengembangkan kapasitas masyarakat. Fenomena tingginya kasus gizi buruk di Kabupaten Konawe Selatan merupakan indikasi terjadinya ketidaktahanan pangan (food insecurity) di tingkat rumahtangga. Pencapaian ketahanan pangan dalam rumahtangga sangat ditentukan oleh peran perempuan dan laki-laki, yang merupakan fihak paling bertanggung jawab dalam penyediaan pangan bagi seluruh anggota rumahtangganya. Peran yang dilakukan perempuan dan laki-laki, dapat dilihat dari alokasi waktu yang mereka curahkan terutama dalam aktivitas produksi dan reproduksi dalam rumahtangga. Dari kegiatan-kegiatan tersebut akan dihasilkan produk natura dan atau pendapatan tunai yang akan meningkatkan kepemilikan sumberdaya, sehingga dapat meningkatkan kemampuan keluarga dalam penyediaan pangan bagi seluruh anggotanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menganalisis peran perempuan dan laki-laki dalam pencapaian ketahanan pangan rumahtangga, (2) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan perempuan dan laki-laki untuk bekerja di luar usahatani keluarga, dan (3) menganalisis faktor-faktor yang menentukan ketahanan pangan rumahtangga di Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Dalam penelitian ini analisis dilakukan dengan metode deskriptif-kualitatif dan kuantitatif dengan model logit. Model logit merupakan pendekatan yang digunakan untuk model ekonometrik yang variabel dependennya bersifat biner (dikotomi). Untuk mengestimasi model logit yang distribusi kumulatifnya tidak linier, digunakan maximum likelihood estimation (MLE). Karakteristik sosiodemografi responden secara umum adalah berumur pro-duktif (42.49 tahun untuk laki-laki dan 36.70 tahun untuk perempuan) dengan rata-rata pendidikan tertinggi hanya mencapai 7.68 tahun untuk laki-laki dan 6.77 tahun untuk perempuan. Rata-rata umur laki-laki ketika menikah adalah 23.73 tahun dan perempuan adalah 19.53 tahun. Rata-rata ukuran rumahtangga adalah 4-5 orang. Secara umum dapat dikatakan bahwa dilihat dari tingkat pendidikan v responden, terjadi ketimpangan gender, dimana rata-rata tingkat pendidikan perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Berdasarkan data usia suami dan isteri saat penelitian, serta usia saat menikah, dimana usia laki-laki lebih tua daripada perempuan, dapat dikatakan bahwa nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat di Kabupaten Konawe Selatan tidak berbeda dengan di daerah lain di Indonesia. Ukuran rumahtangga yang lebih besar di desa-desa rawan pangan dan lebih tingginya jumlah anak yang berusia dibawah 10 tahun dalam rumahtangga, dapat berdampak negatif dalam pencapaian ketahanan pangan, serta juga dapat menjadi penyebab kurangnya alokasi waktu perempuan dalam pekerjaan-pekerjaan yang bernilai ekonomis. Rata-rata luas lahan yang dikuasai responden di desa tahan pangan lebih tinggi daripada responden di desa rawan pangan. Disini dapat dikatakan bahwa rata-rata kepemilikan lahan pertanian cukup tinggi, yaitu di atas 1 hektar dengan pendapatan per kapita rata-rata berada di bawah batas garis kemiskinan (kurang dari Rp. 182 000). Sumber pendapatan keluarga terbesar berasal dari usahatani keluarga. Dibanding laki-laki, pangsa pendapatan perempuan dari bekerja di luar usahatani keluarga adalah lebih kecil. Secara umum nampak bahwa pendapatan total rumahtangga di desa tahan pangan mencapai lebih dari dua kali lipat pendapatan rumahtangga responden di desa rawan pangan. Dari data mengenai luas lahan yang dikuasai responden yang lebih dari satu hektar per keluarga, sebenarnya ini merupakan aset sangat penting, yang bila dimanfaatkan seoptimal mungkin bisa menjadi sumber utama pendapatan rumahtangga. Dengan demikian ada harapan untuk meningkatkan pendapatan/kapita yang saat ini rata-rata berada di bawah garis kemiskinan nasional, yaitu kurang dari Rp. 182 000/bulan. Untuk menambah pendapatan keluarga, perempuan dan laki-laki bekerja dan atau berusaha di luar usahatani keluarga, baik di usahatani tetangga, maupun di luar sektor pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang umumnya dilakukan laki-laki adalah menjadi buruh mengolah lahan, memperbaiki pematang dan buruh panjat kelapa di usahatani tetangga, sedangkan perempuan menjadi buruh menanam atau buruh panen. Di luar pertanian, laki-laki melakukan berbagai pekerjaan seperti menjadi buruh bangunan, tukang ojek, menambang emas, dan berdagang, sedangkan perempuan umumnya berdagang di pasar dan di rumah, ada juga yang menjadi guru, dan tukang pijat. Dari analisis alokasi waktu gender diketahui bahwa laki-laki lebih banyak mengalokasikan waktunya untuk bekerja di dalam usahatani keluarga, yaitu sebesar 23.54 persen untuk responden di desa rawan pangan dan 30.46 persen untuk responden di desa tahan pangan. Sebaliknya, perempuan lebih banyak mengalokasikan waktunya untuk pekerjaan dalam rumahtangga, yaitu 22.42 persen untuk responden di desa rawan pangan dan 15.88 persen untuk responden di desa tahan pangan. Alokasi waktu kerja gender untuk aktivitas pertanian di luar usahatani keluarga sangatlah kecil. Responden perempuan di desa rawan pangan hanya mengalokasikan 0.17 persen dari waktunya dan di desa tahan pangan sebesar 1.46 persen. Responden laki-laki di desa rawan pangan mengalokasikan waktunya sebesar 2.83 persen dan di desa tahan pangan hanya sebesar 0.83 persen. Ini menjadi gambaran kurangnya kesempatan kerja di sektor pertanian di perdesaan. Selain untuk kegiatan reproduksi dan produksi, responden juga mengalokasikan waktunya untuk aktivitas waktu luang dan istrahat. Nampaknya, vi kedua kegiatan ini merupakan porsi terbesar dari alokasi waktu gender, baik perempuan dan laki-laki, terutama untuk istrahat yang mencapai sekitar 40 persen dari alokasi waktu perempuan dan laki-laki. Alokasi waktu untuk aktivitas waktu luang perempuan dan laki-laki di desa rawan pangan jauh lebih tinggi daripada responden di desa tahan pangan, yaitu sekitar 26 persen di desa rawan pangan dan 22 persen di desa tahan pangan. Dalam hal kontrol terhadap sumberdaya, khususnya usahatani keluarga, hasil analisis menunjukkan bahwa laki-laki merupakan penanggung jawab utama untuk kedua lokasi penelitian, yaitu mencapai 86 persen. Meskipun dengan dominasi yang berkurang, namun dalam hal pengambilan keputusan terkait hasil produksi usahatani keluarga, suami tetap merupakan pengambil keputusan utama, terutama di desa rawan pangan yang mencapai 51.43 persen dari responden. Terkait pengambil keputusan dalam proses penjualan hasil produksi, terdapat keseimbangan dalam hubungan suami isteri, yaitu lebih menekankan pada kompromi, tidak didominasi oleh salah satu gender. Dalam hal penggunaan pendapatan usahatani, perempuan di desa rawan pangan lebih dominan sebagai penentu keputusan (40 persen), sedangkan di desa tahan pangan, kompromi bersama suami isteri lebih dominan, yaitu 59.46 persen dari responden rumahtangga. Terdapat tiga kesimpulan yang dapat diambil dari analisis yang dilakukan dalam penelitian ini. Pertama, perempuan dan laki-laki memegang peran penting dalam pencapaian ketahanan pangan rumahtangga, karena disamping mengalokasikan waktunya dalam pengelolaan usahatani keluarga dan dalam kegiatan reproduktif di dalam rumah, juga dari sumbangan pendapatan masing-masing gender dari pekerjaan di luar usahatani keluarga terhadap total pendapatan keluarga. Laki-laki lebih banyak berperan dalam pengelolaan usahatani keluarga dan perempuan lebih besar peranannya dalam pelaksanaan aktivitas domestik. Sumbangan pendapatan laki-laki terhadap pendapatan total keluarga lebih besar daripada sumbangan pendapatan perempuan. Kedua, keputusan perempuan dan laki-laki untuk bekerja di luar usahatani keluarga dipengaruhi oleh variabel-variabel ekonomi, yaitu pendapatan gender dan pendapatan usahatani, kapabilitas dari human resources, yaitu pendidikan dan keterampilan, serta aspek di luar gender, yaitu kesempatan kerja. Ketiga, pencapaian ketahanan pangan rumahtangga terutama ditentukan oleh variabel-variabel ekonomi, yaitu pendapatan gender dan pendapatan usahatani, serta variabel ukuran rumahtangga. Untuk mencapai ketahanan pangan rumahtangga, selain aspek ekonomi juga perlu mempertimbangkan segi non ekonomi seperti besarnya ukuran rumahtangga. Dalam hal in pemerintah dapat membantu rumahtangga menahan laju peningkatan jumlah anggota rumahtangga dengan kebijakan di bidang demografi, yaitu berupa menggalakkan kembali program Keluarga Berencana (KB). Disamping itu, karena perdagangan menjadi salah satu bidang usaha ekonomi yang banyak digeluti perempuan dan laki-laki, dan memberikan sumbangan signifikan terhadap pendapatan keluarga, maka kemudahan dalam memperoleh modal dengan syarat ringan dan adanya pelatihan yang dapat memberi keterampilan terkait usaha-usaha produktif yang sesuai dengan sumberdaya lokal, akan mendorong peningkatan kegiatan ekonomi di daerah penelitian. Seiring dengan upaya itu, pembangunan infrastruktur yang mendukung jalannya roda perekonomian, seperti jalan, jembatan, dan pasar penting dilakukan.
       
      Two of the eight goals of the Millennium Development are to eradicate extreme poverty and hunger and to promote gender equality and empower women. Mostly in developing countries both women and men are responsible for family food availability, and it is determined by their roles in the family which can be revealed from their working time allocation both in productive and reproductive (domestic) activities. The high rate of malnutrition problems in South Konawe indicated food insecurity at the household level. Since food is the basic human right, its fulfillment should be considered. The objectives of this study were (1) to analyze gender roles in the achievement of family food security, (2) to analyze factors determining working decision making on working on non-farm and off-farm in farm household level, and (3) to analyze determining factors of food security at household levels. Descriptive-qualitative analysis were employed to examine the objectives while econometric approaches were used to analyze the second and the last objectives. Since the dependent variable was a biner, a logit model was employed, and since the cumulative distribution of dependent variable was nonlinear, the maximum likelihood was employed to estimate the parameter. There are three results. First, gender roles in the achievement of household’s food security were determined by their working time allocation and their income. Most of women’s time, except for leisure, was allocated for their domestic works, while most of men’s time was allocated for their farming activities. Men contribute more income from non-farm activities compared to women. Second, decisions on working on non-farm and off-farm by both genders were determined by economic variables such as gender income, on-farm income, human resources capability, such as education and skills, and job opportunity. Three, the determinant factors of household food security were economic variables, such as gender income and farm income, and family size.
       
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/55079
      Collections
      • DT - Economic and Management [497]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository