Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Lele Sangkuriang (Clarias sp.) Studi Kasus: Usaha Bapak Endang, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Abstract
Lele sangkuriang merupakan jenis lele baru yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan tujuan untuk memperbaiki penurunan kualitas lele dumbo. Lokasi penyebaran lele sangkuriang salah satunya adalah Kabupaten Bogor karena merupakan daerah pemasok utama benih lele di Provinsi Jawa Barat. Selain itu, Kabupaten Bogor juga memiliki kondisi iklim dan sarana yang mendukung untuk usaha pembenihan lele sangkuriang. Namun, kondisi tersebut belum mampu menjadikan Kabupaten Bogor sebagai daerah yang mampu memenuhi seluruh permintaan lele konsumsi. Pada tahun 2010, Kabupaten Bogor selalu mengalami kekurangan lele konsumsi setiap bulannya (Disnakan Kabupaten Bogor, 2011). Keadaan ini mengindikasikan bahwa kebutuhan benih lele sangkuriang untuk usaha pembesaran lele konsumsi juga akan meningkat. Usaha Bapak Endang merupakan salah satu lokasi percontohan budidaya pembenihan lele sangkuriang di Kabupaten Bogor yang selalu mengalami kelebihan permintaan, sehingga Bapak Endang berencana untuk melakukan pengembangan usaha. Adanya pengembangan usaha tersebut dapat digunakan sebagai lokasi percontohan kelayakan usaha pembenihan lele sangkuriang, karena lele ini relatif lebih baru dibandingkan lele dumbo. Alternatif pengembangan usaha dapat menggunakan lahan sendiri atau lahan sewa. Sedangkan alternatif penggunaan modal dapat menggunakan modal sendiri, modal pinjaman atau campuran. Oleh karena itu, diperlukan analisis kelayakan untuk memilih alternatif usaha yang paling menguntungkan pada rencana pengembangan. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Menganalisis kelayakan non finansial usaha pembenihan lele sangkuriang Bapak Endang dari aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, sosial serta lingkungan; 2) Menganalisis kelayakan finansial usaha pembenihan lele sangkuriang Bapak Endang sebelum dan setelah pengembangan usaha; 3) Menganalisis sensitivitas peningkatan biaya pakan dan penurunan jumlah produksi terhadap kelayakan usaha pembenihan lele sangkuriang Bapak Endang sebelum dan setelah pengembangan usaha; 4) Menganalisis alternatif penggunaan lahan dan modal yang paling menguntungkan untuk rencana pengembangan usaha pembenihan lele sangkuriang Bapak Endang. Penelitian ini dilakukan pada usaha pembenihan lele sangkuriang Bapak Endang, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Jenis dan sumber data berasal dari data primer yang diperoleh dari wawancara dan pengamatan langsung, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur yang terkait dengan penelitian. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diolah menggunakan program Microsoft Excel 2007 dan diintepretasikan secara deskriptif. Data kualitatif diolah dan disajikan secara deskriptif. Analisis kualitatif terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum, aspek sosial dan aspek lingkungan. Sedangkan analisis kuantitatif dilihat dari aspek finansial berdasarkan kriteria kelayakan finansial Net iii Present value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan Payback Period (PP) serta analisis sensitivitas. Berdasarkan hasil analisis aspek-aspek non finansial, menunjukkan bahwa usaha pembenihan lele sangkuriang saat ini maupun rencana pengembangan layak untuk dilaksanakan. Berdasarkan aspek pasar, peluang pasar masih terbuka karena terdapat 1.542.971 ekor benih lele per bulan yang belum bisa dipenuhi permintaannya meskipun sudah melakukan pengembangan usaha. Berdasarkan aspek teknis, usaha pembenihan lele sangkuriang tidak mengalami kendala terhadap lokasi usaha karena sudah sesuai dengan kondisi iklim yang dibutuhkan untuk budidaya pembenihan. Berdasarkan aspek manajemen, perusahaan telah memiliki struktur organisasi yang dapat memudahkan dalam pembagian pekerjaan secara jelas sesuai dengan jabatan masing-masing dengan jumlah tenaga kerja yang cukup. Berdasarkan aspek hukum, usaha belum memenuhi persyaratan untuk memiliki izin. Selain itu, usaha ini juga telah menggunakan induk lele sangkuriang asli dari BBPBAT Sukabumi. Berdasarkan aspek sosial, keberadaan usaha mampu mengurangi jumlah pengangguran karena jumlah tenaga kerja yang digunakan pada saat ini sebanyak 8 orang, sedangkan pada rencana pengembangan usaha akan direkrut sebanyak 16 orang tenaga kerja baru. Berdasarkan aspek lingkungan, limbah yang dihasilkan berupa air sisa pemeliharaan benih lele sangkuriang tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan karena dapat digunakan sebagai pupuk tanaman. Analisis aspek finansial pada usaha saat ini menghasilkan nilai NPV sebesar Rp 364.446.022,00, IRR sebesar 32,25 persen, Net B/C sebesar 2,20 dan payback period selama 3,97 tahun. Usaha pembenihan lele sangkuriang saat ini dapat dikatakan layak apabila nilai NPV>0, IRR>tingkat suku bunga yang digunakan sebesar 7,47 persen, Net B/C>1 dan payback period lebih pendek dari umur proyek, yaitu selama 8 tahun. Berdasarkan kriteria kelayakan tersebut, maka usaha saat ini layak untuk dilaksanakan. Alternatif usaha yang menggunakan lahan sewa dengan modal sendiri merupakan pilihan paling baik untuk rencana pengembangan dibandingkan dengan alternatif usaha lainnya karena menghasilkan nilai NPV sebesar Rp 861.543.234,00, IRR sebesar 78,78 persen, Net B/C sebesar 4,20 dan payback period selama 1,89 tahun. Pada usaha yang sedang dijalankan saat ini, usaha pembenihan lele sangkuriang tidak sensitif terhadap kenaikan biaya pakan karena nilai presentase switching value peningkatan biaya pakan sebesar 118,02 persen lebih besar dibandingkan peningkatan biaya pakan yang pernah terjadi pada tahun 2010, yaitu sebesar 20,83 persen. Namun, usaha saat ini sensitif terhadap penurunan jumlah produksi karena nilai presentase switching value penurunan jumlah produksi sebesar 13,11 persen lebih kecil dibandingkan penurunan jumlah produksi yang pernah terjadi pada tahun 2010, yaitu sebesar 50 persen. Berdasarkan analisis switching value menunjukkan bahwa alternatif pengembangan usaha menggunakan lahan sewa dan 100 persen modal sendiri merupakan pilihan yang mampu memberikan tingkat keamanan paling besar dibandingkan alternatif usaha lainnya, dengan nilai peningkatan biaya pakan sebesar 135,67 persen (artinya peningkatan biaya pakan yang masih dapat ditolerir agar usaha tetap layak untuk dilaksanakan sebesar 135,67 persen) dan penurunan jumlah produksi sebesar 15,07 persen (artinya penurunan jumlah produksi yang masih dapat ditolerir agar usaha tetap layak untuk dilaksanakan adalah sebesar 15,07 persen).
Collections
- UT - Agribusiness [4776]
