Analisis Efisiensi Produksi dan Pendapatan Usahatani Ubi Kayu (Studi Kasus Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)
Abstract
pencaharian bagi mayoritas penduduknya. Termasuk dalam kategori sektor pertanian diantaranya adalah tanaman pangan. Ubi kayu merupakan salah satu bagian dari sub sektor tanaman pangan yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, artinya didalam pengusahaannya ubi kayu dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Salah satu kabupaten sentra produksi ubi kayu di Indonesia adalah Kabupaten Bogor. Salah satu desa sentra ubi kayu di Kabupaten Bogor adalah Desa Pasirlaja. Usahatani ubi kayu Desa Pasirlaja mengalami permasalahan menurunnya produksi pada tahun 2009. Oleh karena itu diduga ada permasalahan efisiensi dalam usahatani ubi kayu di desa tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan pedoman usahatani ubi kayu di desa penelitian, menganalisis efisiensi penggunaan faktorfaktor produksi serta menganalisis kondisi skala usaha dan pendapatan usahatani ubi kayu di desa penelitian. Kegiatan pengambilan data dilakukan di Desa Pasirlaja pada bulan Februari-Maret 2011. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer (gambaran umum usahatani ubi kayu, penerapan prosedur operasional baku, penggunaan faktor-faktor produksi, biaya usahatani, dan pendapatan usahatani) dan data sekunder (Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor, Departemen Pertanian, Badan Pusat Statistik Jawa Barat dan lain sebagainya). Analisis kualitatif dalam penelitian ini adalah analisis penerapan pedoman usahatani ubi kayu, dan keadaan umum usahatani ubi kayu. Analisis kuantitatif berupa analisis pendapatan usahatani, analisis R/C rasio, analisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi serta analisis skala usaha. Berdasarkan analisis penerapan pedoman usahatani ubi kayu, budidaya ubi kayu di desa penelitian belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman usahatani ubi kayu. Ketidaksesuaian terletak pada struktur dan tekstur tanah, pola penanaman dan pemupukan. Berdasarkan analisis pendapatan dan biaya usahatani, komponen biaya produksi terbesar yang dikeluarkan oleh petani adalah biaya bibit yaitu sebesar Rp 2.636.390 atau 25,08 persen dari biaya total. Biaya penggunaan bibit termasuk ke dalam biaya diperhitungkan karena selama satu musim tanam, petani responden tidak ada yang membeli bibit, melainkan diperoleh dari sisa hasil panen musim tanam sebelumnya. Biaya penggunaan TKLK pria sebesar Rp 1.710.400 atau sebesar 16,23 persen dari biaya total. Penggunaan TKLK wanita menghabiskan biaya sebesar Rp 703.600 atau sebesar 6,70 persen dari biaya total.

