Analisis kelayakan usaha budidaya belimbing dewa pada kondisi risiko di kota Depok
Abstract
Komoditas hortikultura (tanaman buah-buahan, sayuran, tanaman hias dan tanaman biofarmaka) menjanjinkan prospek yang besar untuk dikembangkan. Hal ini terkait dengan banyaknya varietas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi apabila dikelola secara tepat. Fungsi utama tanaman hortikultura bukan hanya sebagai bahan pangan tetapi juga terkait dengan kesehatan. Hal ini akan memberikan dampak peningkatan jumlah konsumsi buah yang sangat besar dimasa yang akan datang. Kota Depok merupakan salah satu kota yang memiliki letak sangat strategis untuk dijadikan sebagai salah satu sentra holtikultura. Buah belimbing adalah salah satu jenis hortikultura (buah) yang diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan masyarakat akan vitamin, serta dan mineral. Belimbing Manis Depok dengan varietas Dewa sudah cukup dikenal masyarakat. Dengan warna buah yang kuning kemerahan, buah yang besar dan rasa manis nampaknya cukup banyak diminati pasar. Selain itu, pemerintah Depok sejak tahun 2006 juga telah mencanangkan komoditas belimbing dewa sebagai icon Kota depok. Pengembangan belimbing di Kota Depok saat ini tidak lagi bersifat ekstensifikasi mengingat keterbatasan lahan, tetapi lebih difokuskan pada pola intensifikasi dengan perbaikan pola produksi melalui SOP. Dalam melakukan investasi di pembudidayaan belimbing Dewa ini,melalui SOP maupun tidak, modal yang diperlukan tidaklah kecil. Sehingga perlu dilihat sejauh mana usaha melalui pengembangan ini layak atau tidak untuk diusahakan atau dilanjutkan pada usaha budidaya belimbing dewa yang telah ada dan selanjutnya dikembangkan menjadi agribisnis perkotaan. Penentuan kelayakan dari suatu usaha dilakukan melalui analisis-analisis lebih mendalam terhadap berbagai aspek yang terkait. Menurut Nurmalina, dkk (2009), terdapat beberapa aspek utama yang harus dianalisa, yaitu aspek : pasar, teknis, manajemen dan hukum, sosialekonomibudaya, lingkungan, serta finansial yang dilakukan melalui perhitungan criteria investasi. Usaha budidaya belimbing dewa merupakan salah satu usaha yang rentan terhadap risiko, baik itu risiko harga output serta risiko produksi dari output yang dihasilkan. Risiko ini dapat mempengaruhi kelayakan dari usaha budidaya belimbing dewa, sehingga perlu dimasukkan kedalam perhitungan secara finansial, yakni dengan melakukan analisis skenario. Berdasarkan hasil analisis aspek-aspek nonfinansial menunjukkan bahwa usaha budidaya belimbing dewa dengan pengembangan melalui SOP di Kota Depok layak untuk dijalankan. Pada aspek pasar, peluang petani yang memeberlakukan SOP untuk memasarkan outputnya masih terbuka, hal ini dikarenakan semakin tigginya jumlah permintaan belimbing. Berdasarkan aspek teknis, usaha budidaya belimbing dewa dengan pengembangan melalui SOP dapat meningkatkan jumlah produksi petani. Pada aspek manajemen dan hukum, struktur organisasi masih sangat sederhana , namun proses produksi masih dapat iii dijalankan dengan baik. Usaha budidaya belimbing dewa di Kota Depok tergabung dalam kelompok tani-kelompok tani yang ada dan telah memiliki legalitas dari pemerintahan setempat. Aspek sosial-ekonomi-budaya dari usaha budiday belimbing dewa memberikan dampak positif dimana usaha ini menguntungkan bagi masyarakat sekitar. Pada aspek lingkungan, usaha budidaya ini juga menunjukkan kelayakan karena dengan adany usaha budidaya belimbing dewa dapat mengurangi pemanasan global dan sebagai penghijauan serta resapan air. Usaha budidaya belimbing dewa dengan pengembangan melalui SOP di Kota Depok secara finansial layak untuk dijalankan. Hal ini sesuai dengan kriteria kelayakan investasi NPV ≥ 0, IRR ≥ Discount Rate (6,75%) dan Net B/C ≥ 1. Berdasarkan kriteria investasi pada kondisi normal, nilai NPV menunjukkan Rp 694.054.839,45 yang berarti usaha ini memberikan manfaat bersih sebesar Rp 694.054.839,45 selama umur usaha. Sementara nilai IRR 23,97% yang menunjukkan besarnya pengembalian dari penanaman modal untuk investasi sebesar 23,97 dari modal yang diinvestasikan. Net B/C sebesar 2,91 dimana setiap satu satuan biaya yang dikeluarkan akan memberikan manfaat sebesar 2,91 satuan. Waktu pengembalian selama enam tahun sembilan bulan694.054.839,45. Dampak adanya risiko volume produksi dan risiko harga output pada usaha budidaya belimbing dewa dengan pengembangan SOP di Kota Depok terhadap kelayakan usaha yaitu pada setiap kondisi, usaha tetap layak untuk dijalankan secara finansial. Hal ini dilihat dari kriteria investasi dari masig-masing skenario risiko. Sementara itu, tingkat risiko tertinggi terdapat pada risiko produksi dengan nilai koefisien variasi sebesar 0,571 sementara risiko harga memiliki nilai koefisien variasi yang lebih kecil yakni 0,279.
Collections
- UT - Agribusiness [4776]
