Autokondensasi tanin dan penggunaannya sebagai perekat kayu lamina
Date
2000Author
Susanti, Cicilia Maria Erna
Ruhendi, Surdiding
Achmadi, Suminar S
Metadata
Show full item recordAbstract
Ekstraksi kulit dllakukan dengan menggunakan larutan aseton-air
(perbandingan 7:3) dan air, dan selanjutnya difraksinasi dengan dietileter. Proses
autokondensasi dilakukan dengan menambahkan larutan NaOH 1M. Pengujian
perekat dilakukan dengan pembuatan kayu lamina 2 lapis (skala laboratorium),
dengan menggunakan kayu sengon (Parasienthes falcataria (L.) Nielsen). Kayu
direkat dengan sistem single glue spread (SGS) dengan bobot labur 200 gr/m² dan
press dingin 10 kg/cm² selama 48 jam.
Hasil penelitian menunjukkan ekstraksi menggunakan larutan aseton-air
menghasilkan ekstrak yang efektif, dengan rendemen 29.11% untuk kulit bakau
dan 16.68% untuk kulit akasia, sedang kandungan bahan padatnya 12.58% untuk
ekstrak bakau dan 2.66% untuk ekstrak akasia.
Autokondensasi pada pH = 11 dari ekstrak air kulit tanpa fraksinasi dengan
dietileter memberikan hasil yang efektif sebagai perekat kayu lamina sengon.
Autokondensat tanin bakau memiliki bobot jenis 1.23; kadar abu 9.92%; viskositas
19.5 poise; waktu gelatinasi 185 menit, memberikan nilai keteguhan geser kayu
lamina 15.10 kg/cm². Sedang untuk autokondensat akasia memberikan nilai bobot
jenis 1.19; kadar abu 4.69%; viskositas 9.5 poise; waktu gelatinasi 207 menit, dan
menghasiikan nilai keteguhan geser 8.65 kg/cm².
Collections
- MF - Forestry [1610]


