Pendugaan Nilai Lahan pada Sistem Management Regime dengan Tumpangsasri (Konvensional) pada Hutan Tanaman Jati (Tectona grandis L.E) - (Studi Kasus di KPH Madiun, Perum Perhutani Unit 11)
Abstract
Salah satu model pengembangan kebijakan pengelolaan hutan dalam upaya peningkatan pengelolaan hutan jati adalah model Management Regime (Rejim Pengelolaam-MR) yang dikenal dengan Pengelolaan Hutan Jati Optimal pola Management Regime (PHJO-MR). Sistem PJHO-MR merupakan sistem pengelolaan hutan yang menunjukkan suatu implementasi teknik pola penanaman dengan ketentuan penjarangan dan lamanya daur yang berbeda-beda. Pengklasifikasian wilayah pengelolaan hutan pada sistem ini berdasarkan tingkat tekanan penduduk terhadap sumberdaya hutan sehingga memberikan konsekuensi perbedan pola pemanfaatan lahan. Pemanfaat lahan hutan secara optimal merupakan suatu prinsip yang tidak terlepas dari tujuan pengusahaan hutan yaitu: hasil maksimum yang dapat diperoleh dari investasi tampa merusak kelestariannya (maximum sustainable yield). Tingkat produksi optimum yang dapat dicapai tentunya dapat diartikan sebagai; (1) besarnya produksi fisik (volume) yang dihasilkan, dan (2) besarnya nilai maksimum ekonomi (nilai lahan) yang dapat diperoleh. Konsep pendugaan nilai lahan dalam penelitian ini didasari oleh pendugaan pertumbuhan tegakan tanaman jati pada sistem Tumpangsari (konvensional) yang pengkajiannya berdasarkan penerapan pola pengelolaan hutan dari masing-masing sistem. Dengan asumsi bahwa setiap pengeluaran terkena suku bunga, maka tingkat optimum dalam pemanfaatan lahan hutan sangat bergantung kepada alternatif bentuk pemanfaatan lahan. Tujuan penelitian dimaksudkan untuk mengetahui nilai lahan yang dapat diperoleh dari implementasi setiap pola MR dari sistem PHJO berdasarkan analisis hasil pendugaan pertumbuhan tegakan jati pada sistem Tumpangsari sehingga dapat dijadikan sebagai masukan di dalam evaluasi sistem PHJO-MR, khususnya pada tingkat kebijakan pengelolaan tegakan pada kelas perusahaan tegakan jati. Guna mengetahui sifat perkembangan tegakan yang dipengaruhi oleh umur dan kondisi tempat tumbuh maka dilakukan pendekatan model pertumbuhan sehingga memungkinkan untuk melakukan pendugaan terhadap perubahan dalam jumlah pohon berdasarkan aplikasi pendekatan tabel hasil. Hasil pendugaan pertumbuhan dan hasil dengan menggunakan tabel hasil normal dapat digunakan sebagai masukan dalam perhitungan pendugaan nilai lahan dari setiap pola MR, sehingga penetapan lamanya daur dapat disesuaikan berdasarkan rata-rata maksimum yang diperoleh dari hasil kegiatan investasi.
Collections
- MF - Forestry [1610]


