Efektivitas pemberian serotonin dan suplemen kolesterol serta ablasi pada proses pematangan ovari induk kepiting bakau (Scylla serrata)

Date
2010Author
Pattiasina, Bethsy Jane
Junior, Muhammad Zairin
Mokoginta, Ing
Affandi, Ridwan
Manalu, Wasmen
Metadata
Show full item recordAbstract
Kepiting bakau (Scyila spp.) merupakan salah satu spesies penting đi
ekosistem mangrove yang tersebar di seturuh wilayah pantai di Indonesia.
Kepiting bakau telah menjadi komoditas ekspor, dan usaha budi dayanya telah
berkembang menjadi sumber pendapatan negara. Hal ini disebabkan oleh
permintaan negara konsumen terhadap komoditas ini cukup tinggi, karena rasa
dagingnya yang lezat dan nilai gizi yang tinggi, terutama induk kepiting betina
yang matang gonad (sedang bertefur). Pada tahun-tahun terakhir ini terjadi
kecenderungan eksploitasi kepiting bakau semakin meningkat, bila tidak dikelola
secara efektif, maka populasi kepiting bakau akan mengalami tekanan, akibat
maraknya penangkapan untuk semua kelas ukuran. Di samping itu akibat
konversi hutan mangrove bagi peruntukkan lahan lainnya dan pencemaran
lingkungan, serta aktivitas penangkapan induk bertelur ataupun juvenil sehingga
terjadinya kerusakan habitat dan penurunan tuas area mangrove yang pada
akhimya berdampak pada penurunan populasi kepiting bakau di alam. Oleh
karena itu diperlukan upaya budi daya.
Hasil penelitian sepuluh tahun terakhir memperlihatkan bahwa produksi
benih kepiting bakau secara teknis dan ekonomis telah mampu dikerjakan.
Upaya penyediaan benih (di hatchery) sudah diupayakan, namun pemijahan
yang dilakukan masih mengandalkan induk kepiting bakau yang ditangkap dari
alam. Demikian pula dengan benih untuk kegiatan pembesaran kepiting bakau di
kolam atau tambak. Kesinambungan produksi kepiting bakau melalui usaha
pembenihan dalam kondisi terkontrol belum banyak mendapat perhatian. Salah
satu kendala yang dihadapi adalah tidak cukup tersedianya induk matang
ovarium dari alam saat dipertukan. Hal ini disebabkan karena proses
pematangan ovari induk kepiting di alam berlangsung lama, disamping itu induk
dari alam tidak dapat menjamin daya kelangsungan hidup larva yang dihasilkan.
Untuk mengatasi masalah tersebut di atas maka dibutuhkan metode altermatif
pematangan ovari, selain metode ablasi tangkai mata yang biasa digunakan
pada udang. Metode atternatif ini diharapkan dapat mengontrol perkembangan
ovari induk kepiting bakau.
Collections
- DF - Fisheries [796]

